Ayah Yang Tak Pernah Menua

Ayah Yang Tak Pernah Menua
Pengakuan [Revisi]


__ADS_3

Hujannya begitu deras sehingga Evan dan yang lain saat ini berteduh di rumah kosong tersebut. Keadaan pun menjadi gelap seketika, penerangan tidak ada sama sekali.


"Teman-teman aku akan mencari beberapa benda di rumah ini, mungkin saja aku dapat menemukan senter!" ucap Ken sesaat lalu meninggalkan temannya.


"Oke, baiklah hati-hati Ken, ingat jangan mengambil sesuatu yang dapat menimbulkan masalah!" saran Evan.


"Tenang saja aku orang yang baik!" ucap Ken dengan senyum tipisnya.


"Rumah ini sangat besar jadi kau harus berhati-hati!" ucap Hyouga yang kembali mengingatkan Ken.


"Hehehe," Ken kelihatan mengaruk kepalanya.


Ken meninggalkan mereka bertiga di ruang tamu. Sementara Hyouga berusaha mengaktifkan lampu flash di handphone nya sebagai penerangan.


"Apa para bodyguard Ken masih ada di sekitar sini?"Tanya Bas.


"Hmm, kayaknya mereka sudah tidak ada lagi disini deh!" ucap Evan.


"Kemungkinan mereka pergi setelah misinya selesai!" ucap Hyouga beranggapan.


"Oh iya, tadi aku mencium bau sesuatu seperti aroma parfum!" cetus Hyouga.


"Parfum!" ucap Evan.


"Wangi seperti apa yang kau cium?" sela Bas.


"Seperti aroma buah stroberi tapi agak terlalu pekat!" sahut Hyouga.


Saat itu juga Bas tertegun, dan Evan melirik Bas setelahnya.


...****************...


Di samping itu Ken yang sedang mencari senter di beberapa ruangan belum juga menemukannya sama sekali, sudah 2 ruangan yang dia masuki sekarang.


"Sebenarnya dimana si pemilik rumah menyimpan senter mereka," gumam Ken.


...****************...


Wabah yang melanda sebagian kota sudah sepenuhnya menghilang, akan tetapi para masyarakat enggan kembali ke tempat asal mereka. Al hasil kota tempat asal mereka ini menjadi kota mati dengan banyaknya rumah-rumah yang kosong.


Banyak barang yang masih tertinggal di salah satu rumah, ada rumor yang mengatakan benda atau barang yang ada disana sudah di kutuk. Mereka menyimpulkan dari seseorang yang pernah mengambil benda di rumah kosong tersebut. Tak lama keesokan harinya orang itu mati.


Ada hawa kehadiran yang sedikit Ken rasakan selama berada di ruangan yang dia masuki saat ini, entah itu cuma perasaannya saja atau memang ada orang lain yang memperhatikannya.


"Kurasa aku merasakan hawa kehadiran seseorang, apa yang lain menyusul ku?" ucap Ken dalam hatinya.

__ADS_1


Langkah Ken berhenti untuk sesaat, lalu terlihat suara guntur disertai cahaya kilatan darinya.


Hingga...


Bragh.


Seseorang memukul Ken dari belakang hingga dia pingsan. Orang yang memukulnya adalah seorang perempuan dia membawa tongkat baseball di tangannya. Setelah memukul Ken dia menuju ke arah cermin sambil menaruh tongkat baseball nya, lalu ia pun menampakkan dirinya.



...****************...


"Hey, lama sekali Ken apa dia tersesat?" gumam Hyouga.


"Dia mungkin mencarinya hingga ke dalam!" ujar Evan.


"Sebaiknya kita mencarinya aku memiliki firasat buruk!" ucap Bas.


"Biar aku yang mencarinya, kalian disini saja!" perintah Evan kepada Bas dan Hyouga agar temannya tetap disini.


Evan pun mencari Ken di berbagai ruangan.


Tepat ketika Evan masuk kedalam ruang Keluarga, Evan merasakan hawa kehadiran seseorang sama seperti yang dirasakan oleh Ken sebelumnya.


"Ada orang lain disini," ucap Evan dalam hatinya.


Jdarrr...


"Suara guntur nya sangat menggelegar sekali!, di saat-saat seperti ini mengingatkan ku pada saat melawan Patansaa hanya saja agak berbeda," ucap Evan dalam hatinya bermonolog.


Dengan cepat perempuan tadi berusaha menyerang Evan dari belakang dengan tongkat baseball di tangannya.


Di detik-detik serangan itu Evan rupanya sudah bersiap untuk serangan darinya, jadi ia pun refleks sehingga serangan dari perempuan tadi berhasil di elak oleh Evan.


...****************...


"Sungguh mengejutkan, kamu adalah orang pertama yang dapat menghindari serangan ku tadi!" ucap perempuan yang menyerangnya.


"Hehehe mungkin saja kebetulan!" balas Evan.



"Kamu bilang tadi kebetulan, baiklah aku akan serius sekarang!" ucap perempuan tadi.


Perempuan itu pun kembali menyerang Evan, di gelapnya penerangan yang hanya ada cahaya dari kilatan petir.

__ADS_1


Evan terus menghindari serangan darinya.


Swosh... swosh... swosh.... swosh... swosh.. swosh... swosh...


"Kenapa sulit sekali untuk mengenainya!" ucap perempuan tadi dalam hatinya, dia sangat jengkel.


Evan memberikan celah kepada perempuan itu, sehingga ia pun melihatnya dan terpancing untuk menyerang Evan.


Dan pada saat yang tepat Evan membalikkan keadaan.


Bragg..


Evan mengunci lengan perempuan itu, lalu mengikatnya dengan dasi dari bajunya.


"Aku ternyata berhasil di kalahkan olehnya, dia pasti akan melakukan sesuatu kepadaku." ucap perempuan tadi dalam hatinya, dia cemas dengan keadaannya sekarang.


"Kebetulan yang sangat bagus!" ucap Evan.


Pada saat itu perempuan tadi memohon kepada Evan dengan raut penuh cemas, ia berkata.


"Tolong aku tidak mau di jadikan pemuas hasrat mu, aku mohon..., aku mengaku bersalah dan tadi aku memukul temanmu dia ada di dekat gudang, aku hanya membuatnya pingsan saja!" ucap perempuan tersebut dengan jari jemari yang berkeringat.


"Hah?, dia terlalu berpikir jauh, kurasa aku akan mengerjainya," ucap Evan dalam hatinya.


"Ternyata kamu yang membuat temanku tidak kembali-kembali saat sedang mencari barang, dan kamu memukulnya, hmm aku akan menghukum mu, lalu aku akan melakukannya sampai pagi!" ucap Evan.


Mendengar hal yang dikatakan Evan tadi membuat dada perempuan itupun menjadi sesak sehingga ia pun berteriak dan.


"Tidakkkk!!, aku mohon... aku tidak mau..., kasihanilah aku tuan...hiks..." ucap perempuan tadi sambil terisak.


Jdarrr....


"Hah, mengampunimu. bukanya tadi kamu sangat arogan, ya kurasa kamu harus menanggung akibatnya!" ucap Evan.


"Aku janji akan menuruti semua perintahmu, tapi tuan jangan..."


"Hahahaha," Evan tertawa mendengarnya.


"Kenapa dia tertawa apa mungkin dia lebih jahat dariku," ucap perempuan tersebut dalam hatinya.


"Aku ini datang kesini untuk mencari petunjuk mengenai kasus pembunuhan keji, teman ku juga ikut serta dan kurasa aku tidak harus melanjutkan pencariannya lagi, karena pelakunya sudah aku tangkap!" ucap Evan menjelaskan kepada perempuan itu.


"Jadi kamu tidak akan melakukan hal itu kepadaku sekarang?" tanya perempuan itu.


"Hadeh, kamu masih saja memikirkannya, yang jelas karena pelakunya sudah ku tangkap maka kamu tinggal menjelaskan semuanya yang telah kamu perbuat!" ucap Evan.

__ADS_1


"Kalau begitu biar aku jelaskan(dengan cepat ia bicara), "Aku adalah anak pertama dari dua bersaudara, aku sendiri punya seorang adik yang bernama Bas dia adalah anak yang ceria. ada sesuatu hal yang membuat ku menjadi seperti ini seorang pembunuh. dulu keluarga kami sangat harmonis, namun segalanya berubah ketika Ibuku tidak menerima kenyataan jika Ayah berhenti dari tempat kerjanya, kemudian segalanya berubah drastis Ibuku menjadi orang yang berbeda, dia jadi sering marah-marah kadang melampiaskannya kepadaku dan juga adikku, ayahku selalu melerainya namun hal tersebut mala menjadi semakin runyam. lambat laun ada sebuah kejadian dimana Ayahku melihat Ibu bersama dengan pria lain di restoran tempat Ayahku bekerja, saat setelah itu terjadi hubungan keluarga kami pun menjadi kacau dan pada hari kelabu itu Ibu meninggal dia di temukan di sekitar jalan di duga dilakukan oleh seorang pria, kami dan Ayah pun sangat merasakan kehilangan serta kesedihan yang amat mendalam aku pun juga begitu, sebab di hatiku yang paling dalam semenjak Ibu berubah aku sangat membencinya, namun ketika Ibu sudah tiada aku sangat merasa kehilangan, bahkan adikku Bas sangat terpukul mendengar berita akan kematian Ibunya, tak lama setelah kematian Ibu Ayah ...hiks...mencoba mengakhiri nyawanya dengan bunuh diri yaitu mengantungkan lehernya di langit-langit ruang tamu..." ucap Kakak Bas dia berhenti berbicara untuk sesaat, sementara Evan terlihat sedang membayangkan apa yang dialami oleh Bas dan Kakaknya.


__ADS_2