
Tanpa mengambil ancang-ancang Evan langsung loncat dari gedung lantai 3
Brug..
Ia mendarat dengan sempurna tanpa terjadi hal apapun, dan dengan cepat melesat maju mengejar orang tersebut (Evan mengira orang itu adalah mata-mata).
"Siapa dia? Kelihatannya dia bukan orang Sekolah. Dan orang itu... sangat lumayan untuk aksi pemula," ucap Evan dalam hati sembari berlari, memandang rendah tingkah orang itu.
"He..he, berkat mimpi aku jadi tidak merasakan sakit saat jatuh tadi."
Di belakang Sekolah memang sepi dan hanya ada beberapa rumah warga yang terlihat. Selain itu, di sana ada gedung berhantu bekas rumah zaman dahulu.
Kecepatan Evan dalam berlari lebih unggul memungkinkan ia dapat mengejar orang tersebut. Melihat di sebelah kanan ada jalan lain di antara kedua gedung, Evan pun berbelok. Sementara orang itu terus berlari sesekali melihat keadaan di belakangnya.
"Tuan muda memang luar biasa, pantas saja Nona muda memperingati ku untuk hati-hati. Tapi... aku heran bagaimana dia bisa secepat itu turun?" ucap orang suruhan tersebut dalam hatinya, serta ia masih bertanya-tanya, mengapa Evan secepat itu turun dan hampir saja mengejarnya.
•••
Menit sebelumnya, Ken bertemu dengan Rahel di depan ruangan klub memasak. Ken lalu menanyakan sesuatu kepada Rahel.
"Hel, kamu habis dari klub kan?" Katakan, apa Evan sebelumnya bersamamu?" tanya Ken agak cepat.
"Iya," jawab singkat Rahel dengan wajahnya kusut.
"Ada apa dengan Rahel dia...? Keliatannya murung sekali," ucap Ken bertanya dalam hati tentang Rahel yang kelihatan murung.
"Apa Evan berkata sesuatu Hel?"
"Apa sih Ken! Aku lagi buru-buru!" ucap Rahel seraya melanjutkan langkahnya, dan pergi meninggalkan Ken yang kini dirinya sedang dalam banyak pikiran.
Bagaimana tidak membuat Rahel tertekan dan kaget. Jika ia sendiri tahu Evan tidak mencintainya, padahal selama ini Rahel sangat menyukai Evan.
"Pokoknya aku nga bakal biarin Evan nikah sama cewe lain, selain aku. Aku akan ancam dia kalau berani putusin aku dengan dalih perilakunya yang cabul," ucap Rahel dalam hatinya berjalan menuruni tangga.
Kepergian Rahel membuat Ken bingung dan membuatnya menebak jika Evan sedang ada masalah dengan Rahel.
Ken tidak terlalu memperdulikan, ia memilih biar mereka berdua lah yang Menyelesaikan masalah itu. Langsung saja Ken menuju ruangan klub menulis. Setelah beberapa saat menulis pesan kepada Hyouga.
Di tempat Hyouga berada.
__ADS_1
"Hyouga, kau tidak perlu lagi mencari Evan. Sekarang ini aku tahu dia sedang ada di ruangan klub menulis!" begitulah pesan yang di kirim Ken kepada Hyouga.
"Baiklah, aku akan segera kesana," ucap Hyouga dengan suara kecil dan berlalu meninggalkan tempatnya sekarang ini.
Bertambahnya menit yang lalu berganti jam, menjadikan suasana dan kondisi siswa di SMA Oregami semakin meriah. Dekorasi kelas bahkan di buat semenarik mungkin, kelas-kelas lain pun tak kalah antusiasnya dalam mendekorasi kelas.
Di ruang Kantor Kepala Sekolah.
"Rasanya sangat menyenangkan, melihat murid-murid yang begitu antusias dalam menyambut acara Kelulusan tahun ini. Mengingatkanku akan masa mudaku dulu, sewaktu masih bersekolah."
"Saya juga turut gembira melihat seluruh siswa yang antusias di acara ini, dari kelas sepuluh sampai kelas dua belas. Mereka membuatku bangga," sahut Pak Puy kepada Pak Kepala Sekolah.
•••
Sesudah melewati jalur pintas pada belokan tadi, Evan berhasil mencegat orang itu. Yang sekarang ini Evan sudah ada di depannya.
"Aksimu sangat terampil dan profesional. Sampai-sampai aku tidak tahu keberadaan mu sejak awal," ucap Evan kepada orang itu seperti halnya sedang mengintrogasi, tatapannya pun mengarah tajam kepadanya.
"Tuan muda ini bicara apa, dia lah yang terampil dan profesional. Kalau aku profesional, mana mungkin dia dapat mengejar ku sampai pada posisi sekarang ini!" ucap orang itu dalam hatinya yang menolak dikatakan profesional oleh Evan.
Orang itu masih diam tidak membalas, dikarenakan sedang mencari celah bahkan memikirkan sebuah taktik. Agar dapat lolos dari situasinya sekarang ini.
"...."
Wosh...
Serangan pertama Evan(tendangan) berhasil di elak orang tersebut, serangan Evan tadi mengarah ke wajahnya. Lalu orang tersebut menghindar dengan mudahnya.
Di lanjutkan serangan kedua(pukulan) Evan mengarah langsung ke wajah sebelah kanan orang tersebut. Ada sela untuk orang tersebut menahan, namun gerakan tadi hanyalah tipuan saja. Evan sejatinya menyerang bagian perut. Serangan Evan tidak terlalu keras.
Bug..
"Argh....." sambil berusaha menahan hempasan pukulan Evan dan menjaga keseimbangan tubuh.
"Tuan muda pandai beladiri ternyata. Perintah dari Nona muda mengharuskan aku tidak melawan balik, tapi kondisi seperti ini membuatku semakin tertarik untuk berkelahi," ucap orang tersebut dalam hatinya, jiwanya kini di penuhi hawa nafsu untuk berkelahi.
"Seperti serangan tadi berhasil membuat mu kalah pada akhirnya!"
"Apa yang dia katakan? Serangan tadi cuma mengenai perutku. Memangnya apa yang aneh dari itu?" ucapnya dalam hati bermonolog.
__ADS_1
"Anak muda, kemampuanmu sangat luar biasa. Tapi sayangnya kau tidak tahu, jika aku ini dulu pernah mengajar orang lain beladiri!"
"Cuma itu, biasa saja."
"Sebenarnya aku tidak ingin menyakitimu karena misi ini. Tapi... aku nyakin, kamu pasti tidak akan melepaskan ku semudah itu."
"Wah! wah! wah...!" tau juga kamu ya, seperti halnya bisa menebak isi pikiranku," ucap Evan dengan ekspresi bengis di wajahnya dan tepukan tangan tadi.
"Sebentar lagi, sebentar bala bantuan akan datang. Dan aku tidak harus melawan anak ini, karena dia adalah anak Presdir dan aku tidak berani. Aku juga melihat ada aura kuat dari dirinya," ucap orang itu dalam hati berencana untuk mengulur waktu.
•••
Setelah berjalan beberapa saat Ken akhirnya sampai di ruangan klub menulis. Dan berjumpa dengan Sharashi yang sedang membaca buku.
Krek...
Pintu di buka dan Ken masuk.
Sharashi berhenti membaca buku setelah tahu kedatangan seseorang. Ken lalu menyapa Sharashi dengan wajah dan senyum semanis mungkin.
"Hai Sharashi... apa kabar...?" tanya Ken kepada Sharashi, namun orang yang di sapa mala fokus lagi ke arah buku lagi.
Sharashi masih memperhatikan bukunya dan tidak menjawab ucapan Ken. Akhirnya Ken mendekatinya, lalu melambaikan tangannya di depan wajah Sharashi yang keliatannya sedang baca fokus membaca buku.
"Hii... aku disini."
Sharashi akhirnya menjawab.
"Aku baik-baik saja.. kamu... sedang apa disini? jawab Sharashi yang kemudian bertanya, ada rasa canggung ketika ia menjawabnya.
"Apa kamu baik-baik saja Sharashi. Mukamu kelihatan memerah?" Ken mala bertanya balik, perihal keadaan Sharashi yang sekarang ini ia pikir bisa saja sedang demam.
"Aku baik-baik aja kok... "
"Kukira kamu sedang demam. Anehnya? padahal muka kamu merah merona."
Ucapan Ken membuat batin Sharashi serasa bergejolak.
Sebenarnya Sharashi selama ini memendam rasa kepada Ken, hanya saja ia tidak berani mengungkapkan isi hatinya. Sharashi merasa gengsi kalau ia yang harus menyatakan perasaannya.
__ADS_1