Ayah Yang Tak Pernah Menua

Ayah Yang Tak Pernah Menua
Pameran Karya Hasil Klub di SMA Oregami


__ADS_3

Sharashi memberikan cerpen karangannya kepada Evan, sambil menyodorkannya dengan senyum setengah dan tatapan dingin bagaikan bongkahan es.


Evan meraihnya dari tangan Sharashi, lalu berniat untuk membacanya. Evan melihat cerpen kecil dengan sampul menarik serta berwarna yang mungkin saja di buat dengan terampil dalam waktu agak lama.


Srekk


Evan membuka halaman pertama yang di lanjut kan dengan halaman berikutnya, sampai ia membaca cerpen Sharashi yang berjudul Sembari Masih Kecil Evan membacanya perlahan dengan pasti, ia memahami isi cerita tersebut demi mengetahui makna di dalamnya.


Selesai membaca Evan memuji karya cerpen milik Sharashi sehingga dia hampir saja tersipu malu di depan Evan, namun Sharashi terlihat menahannya.


"Apa ini adalah Novel yang ia buat secara dadakan," Ucap Evan dalam hatinya, ia merasa heran.


Tak kala itu Evan dan Hyouga juga sudah mempersiapkan segala keperluan selama di luar klub agar tidak kesusahan. Hyouga menjual karya klub bersama Sharashi serta mewakilkan hasil klub kepada para siswa, sedangkan Ken mempromosikannya.


Evan hanya menjaga ruang klub menulis sambil menunggu pelanggan datang, itu pun jika ada, Evan berharap lebih untuk usahanya itu.


"Kira-kira berapa ya karya yang terjual hari ini, semoga saja bisa terjual habis!" ucap Evan menyangakan tangan ke dagunya sambil membaca buku.


Beberapa menit berlalu, Evan masih belum mendapatkan satu pelanggan yang berkunjung ke klubnya.


"Apa yang harus aku lakukan selama menunggu pelanggan disini, lagi pula belum ada satupun yang datang kemari, sebentar lagi pentas hasil klub akan di mulai, huh aku menantikannya sekali!" ucap Evan dengan ekspresi bosan.


Ada suara langkah kaki yang menuju ke arah ruangan. Evan lalu berusaha mendengarnya lagi dengan seksama, dan kedengarannya seperti dua orang yang menuju ke ruangan klub menulis atau mungkin ruang sebelahnya.


Lalu datanglah dua orang pelanggan yang masuk ke klub menulis, mereka seperti sepasang kekasih yang memiliki hobi sama. Evan hanya menebaknya saja dengan melihat keduanya yang sama-sama membahas tentang novel dan cerpen, saat melihat-lihat karya yang di sajikan.


"Hmm, beberapa harga untuk novel ini, dari judulnya sangat menarik aku beli ya?" ucap pelanggan perempuan.


"Harganya cuma 20 saja , hah dan aku juga menyarankan kamu untuk membeli Novel yang ini, karena jalan ceritanya sangat menarik dan tak kala serunya!" ucap Evan mempromosikan novelnya.


"Baiklah, aku beli yang ini juga, sayang kamu beli yang mana?" tanya perempuan tersebut kepada pacarnya.


"Sudah kuduga mereka memang berpacaran," ucap Evan dalam hatinya.


"Ah, aku beli semuanya satu-satu, cerpen, novel, dan komik!" jawabnya dengan semangat.

__ADS_1


Evan kaget bukan main.


Mereka berdua pun pergi setelah berkunjung ke klub menulis dan membeli hasil karya klub.


"Wahh, aku tidak menyangka ternyata mendapat pelanggan pertama yang sangat antusias sekali, mengunjungi dan membeli bahkan membeli satu-satu dari karya kami, karena itu aku tadi kasih diskon ke sepasang kekasih tersebut!" ucap Evan sambil menghitung ulang uang.


Kemudian Evan mencatat hasil penjualan tadi di selembar kertas di sampingnya, dan kembali menunggu pelanggan selanjutnya.


Setelah di mulai pameran hasil klub oleh guru seni, seluruh siswa sangat antusias dalam menyambut hasil pameran klub tahun ini, sampai ada dari mereka yang berteriak dengan kerasnya.


Tahun ini rupanya adalah tahun yang sangat meriah ketika diadakannya pameran hasil klub. Tak seperti tahun kemarin agak sedikit merosot hasil pameran yang di sajikan, bahkan sangat sedikit, beda dengan tahun ini. Bertambahnya jumlah klub-klub di Sekolah Oregami semakin besar pula peluang kemeriahan hasil


pameran klub setiap tahunnya, walaupun belum pasti.


"Di bawah terlihat sangat ramai dan juga di koridor itu tempat klub sketsa, sangat ramai sekali, mereka sampai berdesakan seperti itu. sebenarnya seberapa bagus karya yang ada di sana, aku ingin melihatnya sekali!" ucap Evan mengamati dari atas klub menulis.


...****************...


Rahel masih trauma dengan kejadian kemarin, dia izin di hari diadakannya hasil pameran Sekolah. Di kamarnya Rahel menangis sambil memeluk bantalnya, saat itu ada pembantu rumah yang berusaha memanggil Rahel dari luar kamar, tetapi Rahel enggan menjawabnya.


Rahel hanya merasa trauma saja dan agak kaget dengan kenyataan sehingga mentalnya down, lalu keesokan harinya ia memutuskan untuk izin dari Sekolah.


Rahel khawatir jika Evan salah paham tentang pria kemarin, seumpama mereka sudah melakukan hal tak terpuji kepada Rahel.


Sebab Rahel diam saja kemarin dan tidak menjelaskannya kepada Evan, bahwa dia baik-baik saja. Kali ini Rahel akan menghubungi Evan dia mau menjelaskan semuannya agar Evan tidak salah faham, pikirnya.


Drttt...


Suara handphone di saku Evan berbunyi, lalu Evan merogoh kantungnya dan mengangkat panggilan tersebut tanpa melihat siapa yang memanggilnya.


"Iya, hallo!"


"Hallo Evan maaf kalau aku menganggu, hmm kamu sedang apa sekarang?" tanya Rahel setelah Evan mengangkat telponnya.


"Rahel.., Rahel kamu baik-baik saja kan apa aku perlu mampir ke rumahmu sepulang Sekolah. aku sekarang lagi di ruang klub untuk menjaga stan!" ucap Evan.

__ADS_1


"Boleh kok kamu main kerumah, hmm aku baik-baik aja kok Evan. sebenarnya.. ada yang ingin aku bicarakan kepada mu sebentar!"


"Iya bilang aja hel, aku masih punya banyak waktu sekarang!"


"Jadi gini Evan, sewaktu kejadian kemarin aku baik-baik saja mereka tidak melakukan apa-apa kepadaku, aku cuma trauma aja karena itu yang pertama kali aku alami dalam situasi terpojok!"


"Iya hel, aku percaya kepadamu yang penting kamu selamat dan baik-baik saja itu sudah sangat membuatku lega, apa kau tau?" ucap Evan.


"Eh aku sangat senang mendengarnya, hmm apa kamu kemarin tetap pergi jalan-jalan bersama temanmu?" tanya balik Rahel.


"Karena waktunya masih cukup aku jalan-jalan bareng dia, aku merasa tidak enak jika menolaknya hel!" ucap Evan.


" Ouh gitu ya, hmm apa menyenangkan jalan berdua bersamanya, eh maksud aku jalan-jalan kemarin bagaimana menyenangkan bukan?" ucap Rahel salah tingkah.


"Lili juga ikut bersama kami dia terlihat marah jika aku pergi jalan tanpa mengajaknya kemarin, ya apa boleh buat aku mengajaknya juga, jujur saja aku sangat senang kemarin tapi di sisi lain aku sangat khawatir kepada mu hel!" ucap Evan menghawatirkan Rahel.


"Uwaahhh, Evan menghawatirkan aku ternyata padahal kemarin dia sedang jalan-jalan, aku sangat senang sekali." ucap Rahel dalam hatinya sambil memeluk erat bantalnya.


Pembicaraannya dengan Evan membuatnya kembali membaik. Rahel sampai melupakan hal yang menimpanya kemarin.


"Makasih ya Evan sudah menghawatirkan aku, dan untuk yang kemarin aku ucapkan terimakasih banyak!" ucap Rahel.


"Iya hel sama-sama, kamu juga harus berterimakasih kepada Airi karena dia aku bisa tau lokasi mu dengan tepat, sebaiknya kamu menelponnya setelah ini?" ucap Evan sekaligus menyarankan Rahel untuk menelpon Airi.


"Airi, kok dia bisa tahu aku...oh ya aku ingat kemarin kayaknya dia melihat isi suratnya, tapi kenapa dia bisa sempat bertemu dan memanggil mu Evan?" tanya Rahel yang penasaran.


"Airi kembali lagi ke kelas untuk mengambil barang yang tertinggal, saat di perjalanan dia bertemu denganku dan menjelaskan semuanya, pasti karena isi surat di dalamnya yang berlawanan sehingga membuat Airi kaget kemarin!" jawab Evan.


"Aku baru tau, soalnya Airi tidak memberi tahukan kepadaku dan dia tidak bisa dihubungi sampai sekarang. Evan kalau kamu bertemu Airi di Sekolah tolong ya sampaikan rasa terima kasihku kepadanya?" ujar Rahel.


"Baiklah aku akan menyampaikannya, maaf ya hel aku tutup dulu soalnya ada pelanggan datang!" ucap Evan.


"Iya, semangat ya," akhir kata Rahel sebelum memutuskan panggilan dan menyemangati Evan.


Rahel menutup panggilannya.

__ADS_1


"Meskipun sudah selesai masalah kejadian kemarin, tapi aku masih belum puas dengan apa yang mereka lakukan kepada Rahel maupun kepadaku sampai-sampai meniru tulisan tanganku untuk menyatakan cintanya kepada Rahel, dia sama sekali tidak bisa di maafkan." ucap Evan dalam hatinya.


__ADS_2