Ayah Yang Tak Pernah Menua

Ayah Yang Tak Pernah Menua
Menghilangkan Bayang-bayang yang Mengganggu di Pikiran [Revisi]


__ADS_3

Setelah jam pelajaran pertama selesai, Evan beranjak pergi meninggalkan kelas, ia sendiri berinisiatif untuk pergi ke perpustakaan supaya dapat menanyakan album guru kepada Sherly, karena dia masih ada disana.


Tujuannya supaya Evan bisa mengetahui guru yang ia maksud yaitu memiliki hobi berpetualang dan juga dia adalah seorang guru honorer.


Evan berani meninggalkan kelas karena dia sudah mengetahui jika guru mapel selanjutnya tidak masuk di kelasnya.


"Kurasa aku harus secepat mungkin mengetahui misteri bangunan di hutan Dark forest, pikiranku tidak bisa tenang jika masih belum mengetahui kebenarannya," ucap Evan dalam hatinya.



Evan melewati jalan setapak yang menuju langsung ke arah Perpustakaan. Dia juga ingin memastikan jika disana ada kawannya atau tidak. Dengan melalui jalan setapak itu Evan jadi lebih cepat sampai di sana.


Wosssssh...


Suara angin pun terdengar ketika Evan berjalan melewati jalan setapak dengan pohon-pohon rindang di kedua samping jalan, yang seolah-olah memanggilnya. Di tambah lagi dengan pemandangan pepohonan yang rindang tersebut, sehingga menambahkan nuasa asri baginya.


Sepi nan sunyi sejauh mata memandang guru dan murid tidak ada satupun yang terlihat hanya Evan sendiri yang ada sana. Evan melewatinya sambil menghirup udara segar yang dapat menenangkan jiwa dan perasaannya.


"Tumben sekali disini sepi, harusnya ada beberapa kelas yang melakukan pemanasan disini(lapangan basket dan bola), sesuatu yang berbeda dari biasanya," ucapnya Evan dalam hati.


...****************...


Tak lama perjalanannya menuju ke Perpustakaan, Evan akhirnya sampai di sana dan terlihat lumayan banyak murid yang sedang membaca maupun memilih buku untuk di pinjam. Evan mendekati Sherly yang dia sendiri sedang mencatat buku-buku yang hendak di pinjam oleh para murid.


Ingin sekali Evan menanyakan kepadanya langsung(Sherly), namun karena situasi jadinya Evan lebih baik mencarinya sendiri album yang dia cari.


Sherly pun menyapa Evan seperti biasa. Lalu Evan berkata sepatah kata padanya. Selesai berbicara Evan pun pergi meninggalkan Sherly.


Sambil mencari album yang dia cari Evan memikirkan sesuatu di dalam pikirannya. Sesuatu tersebut adalah pertanyaan yang di katakan oleh Patansaa pada saat Evan mengalahkannya.


Dia berkata "Apakah kau ingin tau kebenaran dari bangunan ini, jika iya kau sendiri harus mencari dimana kertas wasiat yang di tulis oleh raja berada, yang konon katanya dia memberikan surat tersebut kepada keturunannya maupun kepada orang terpecaya. dan satu lagi apa kau bersungguh-sungguh ingin mengetahuinya?" saat itu Evan menjawabnya dengan berkata "aku sekarang fokus pada misi penyelamatan ini!" perkataan Evan tersebut yang membuat topik pembicaraan tadi teralihkan.


Jam menunjukkan pukul 08:03, Evan masih belum bisa menemukan buku album yang dia cari. Hingga di sela-sela ia mencari Sherly terlihat sudah ada di sampingnya, lalu dia berkata kepada Evan.


"Evan apakah kamu sedang mencari sesuatu, apa bisa aku bantu?, hmm... jika aku menebak kamu sudah mencarinya sekitar 12 menit!" ucap Sherly.

__ADS_1


Lalu Sherly pun mencari buku yang Evan maksud setelah Evan menjelaskan buku yang ia cari.



Tatapan Sherly membeku setelah melihat Evan yang sedang seriusnya mencari buku yang sedang dia cari.


Entah seberapa penting buku itu baginya, akan tetapi ada sebuah makna yang tersirat di balik sifatnya yang serius itu.


Sherly pun menatap Evan agak lama seakan dia terpesona olehnya.


Sesaat kemudian, Sherly menemukan buku album guru yang Evan cari.


"Evan ini buku yang kamu cari, silahkan kamu cek?" ujar Sherly sambil menyodorkan buku itu kepada Evan.


"Ouh ya benar Sherly, ini buku album yang aku cari-cari!, terimakasih banyak aku pasti merepotkan mu," ucap Evan dengan senangnya dia merasa kalau sudah merepotkan Sherly untuk dapat membantunya, sedangkan Sherly sendiri sedang melayani para murid.


"Enggak apa-apa kok Evan, tadi kebetulan ada temen aku jadi aku menyuruhnya sebentar untuk menjaga tempatku!" ucap Sherly dia tersenyum manis di akhir katanya.


...****************...


Evan mencari petunjuk dari buku album guru tersebut, di halaman pertama tertulis tahun pencetakan yaitu pada tahun 2005 dan penulisnya bernama Jisan Nero S.pd.,M.pd.


Lalu Evan menuju ke halaman para guru dan staf, ia mencarinya dengan penuh ketelitian.


Yang akhirnya Evan mendapatkan informasi tentang guru yang ia cari, dia adalah seorang guru honorer dan dia mengajar mapel IPA


namanya pun seperti tidak asing bagi Evan.



Di kelas pada jam 08:10 sebelumnya terlihat Rahel yang sedang melamun sembari menikmati lagu yang dia dengar melalui handset.


Rahel duduk di bangku Evan sekarang dan setelah Evan keluar dari kelas. Evan sempat mengirimkan pesan kepada Rahel lewat ponsel jika ia sedang ada urusan penting yang harus di selesaikan.


Supaya pikirannya kembali tenang di tambah informasi yang di berikan Evan kepada Rahel bahwa guru di jam pelajaran kedua tidak masuk ke kelas, hal itu membuat Rahel jadi tenang jika Evan memberi tahukan masalah itu kepadanya.

__ADS_1


Kini Rahel menuggu Evan kembali ke kelas sambil membayangkan gambaran lagu yang di dengarnya tentang kisah percintaan.


Evan menjumpai guru mapel IPA yang saat ini sedang tidak mengajar.


Di kantor guru, Evan melewati guru lain yang menatapnya sembari mengucap salam dan bersikap sopan.


Evan bertanya kepada guru lain soal ruang guru yang dia cari kepada guru sejarah, lalu ia menuju ruang Pak Gory ada yang di sebelah kanan ruang program.


Evan mengetuk pintu ruang Pak Gory.


Tok... tok...tok...


Ada suara yang mengatakan.


"Masuk saja saya sedang membuat kopi!" ucapnya dengan suara serak.


Evan berpikir dalam pikirannya.


"Suaranya serak, pasti itu yang membuatnya tidak masuk ke kelas untuk mengajar di kelas Ken!"


Kreek...


Evan pun memasuki ruangan tersebut.


Tak lupa ia mengucapkan salam. Lalu Pak Gory menyuruhnya untuk duduk.


"Ah, duduk dulu nak!, bapak sedang membuat kopi, maaf ya suara bapak agak serak!" ujar Pak Gory sambil menaruh bubuk kopi ke dalam cangkir yang sudah disiapkan.


"Harusnya saya yang meminta maaf kepada bapak, yang sudah menganggu waktu istirahat bapak saat ini!" ucap Evan.


"Tidak apa kok bapak senang ada yang kemari, apalagi lagi mencari bapak. oh ya tadi juga ada seorang wanita yang datang kemari, dia menjenguk bapak juga, entah kenapa di bisa tahu kalau bapak sedang sakit!" ucap Pak Gory sambil menuangkan air panas dari termos.


"Hmm, maaf saja pak saya sendiri datang kesini bukan untuk menjenguk tapi untuk membicarakan sesuatu, maaf sekali pak saya tidak tahu kalau bapak sedang sakit!" ucap Evan.


"Tidak usah sungkan mumpung bapak sekarang tidak mengajar kamu bisa tanyakan apa saja kepada bapak, sebenarnya bapak juga butuh seseorang untuk diajak bicara!" ucap pak Gory diapun duduk setelah selesai membuat kopi.

__ADS_1


Evan pun menunjukkan senyum simpulnya.


__ADS_2