
Musim penghujan masih belum usai BMKG menghimbau kepada masyarakat untuk waspada dan siap sigap dalam menghadapi peralihan musim susulan kali ini.
"Sedia payung sebelum hujan!"
Evan menonton live streaming berita melalui smartphonenya selama perjalanan pulang ke rumah.
Dress...
Wosh...wosh...
Rintikan hujan yang begitu lebat disertai angin kencang.
Meskipun begitu, jalanan masih terlihat ramai dan dipadati kendaraan beroda empat.
"Mau di lanjutkan takutnya membahayakan perjalanan! ah, aku akan menepi dulu. keselamatan tuan muda adalah prioritas utama," ucap Sein dalam hatinya, kemudian mencoba menepikan kendaraan.
Sein berusaha berhati-hati dalam menepikan mobil karena kondisi hujan dapat membuat jalanan menjadi licin. Meskipun kendaraan di belakang melaju dengan kecepatan lambat, akan tetapi Sein terus waspada.
Evan tidak memperhatikan Sein yang mencoba menepikan mobil, ia kini sedang asyik menatap layar ponselnya.
Akhirnya mobil mereka menepi di sebuah tempat yang di khususkan untuk driver dapat beristirahat.
Tempat yang sangat luas dan bersih, di sana juga ada toko kecil yang menjual makanan dan minuman.
Untungnya Sein membawa air minum dan beberapa cemilan. Ia jadi tidak usah keluar hanya untuk membelinya.
"Ini Ev, aku membawa cemilan!" ucap Sein sambil menyodorkan snack kepada Evan.
"...iya," Evan langsung meraihnya, dan mengambil sedikit demi sedikit snack tersebut untuk ia makan.
AC di dalam mobil pun di matikan.
"Sein?" tanya Evan.
"Ya!" sahut Sein yang sedang fokus menuangkan air panas ke dalam mie pop( mie dalam wadah instan).
"Waktu aku menyuruhmu melakukan hal itu..., seperti apa caramu memberikannya?" Evan bertanya perihal suruhan yang ia berikan kepada Sein sebulan yang lalu.
"Aku lewat perantara orang lain. waktu itu Syria ada di pasar dan kebetulan sekali melalui seorang pedagang!" jelas Sein yang sedang menutup wadah air panas kecil.
"Baiklah, hmm dia kira-kira tinggal di mana? Evan masih penasaran karena saat itu dia memilih untuk menghiraukannya.
"Saat itu aku berhenti mengikutinya, tapi... seminggu berlalu, kemudian aku mengecek lagi. dia rupanya tinggal di sebuah apartemen khusus, bahkan dia bekerja di sana!"
"Gitu ya, syukurlah..."
Perjalanan yang tadi tertunda akhirnya sampai juga.
Evan keluar dari mobil, dan dengan sigap para bodyguard langsung menghampirinya seraya memayungi Evan agar tidak kehujanan.
Setelah selesai mandi dan makan siang, ia bergegas pergi ke Perpustakaan pribadi.
__ADS_1
Brak..
Ia menaruh buku Diary di atas meja. Terus membaca Diary tersebut.
Kursi tempat duduk Evan rupanya sudah di ganti dengan yang baru, Evan merasakan sekali sensasi duduk yang berbeda saat mendudukinya.
Ide tersebut datang dari ketua pelayan, karena menurutnya kursi tempat duduk Evan tersebut memang harus di ganti dengan yang baru.
Tak...tak...
Terdengar suara langkah kaki seseorang.
"Evan, kamu kok di sini?, tidur siang dulu gih!"
"Bentar lagi Bu, aku sedang membaca buku dulu!"
"Ouh..., jangan lama-lama ya sayang," ucap Hana, lalu mendekati Evan dan memeluknya dari belakang.
"Ya ampun Bu... aku ini sudah dewasa..." ucap Evan yang tak enak jika Ibunya masih memeluknya.
Dulu ketika Evan kecil dia terlihat sangat menggemaskan. Hana bahkan sering mencubit pipi Evan ataupun menciumnya.
Hana paling banyak menghabiskan waktunya bersama dengan Evan ketimbang dengan suaminya dulu.
Saat di sela bermain, Hana juga sering menceritakan kisah-kisah dongeng kepada Evan. Mala ia antusias sekali menceritakannya.
Walaupun saat itu Evan agak malas untuk mendengarkan.
"Terserah Ibu, tapi jangan menganggu ku ya...!" Evan memperingati Ibunya dengan tatapan malas.
"Iya..." ucap lembut Hana.
Hana meraih tumpukan buku di samping Evan. Tak di sangka dia menemukan buku majalah dewasa.
"Evan!, ini buku apa?" tanya Hana sambil menatap tajam kearah Evan.
"Bu... itu hanya buku cerita, kemarin aku meminjamnya dari temanku," jawab Evan dengan ekspresi acuh dan masih fokus pada buku Diary-nya.
"Heh? Ibu kira ibu ngak tau ya... ini majalah dewasa lho!!" sambil ia membuka buku tersebut.
Mendengar perkataan Ibunya Evan jadi menengok dan melihat buku yang di sebutkan tadi.
"Lho!!, ini kan buku majalah punya Ken Bu?, aku ngak tau kenapa bisa ada disini?" ucap Evan bingung karena ia baru menyadari buku cerita yang ia pinjam dari Ken kemarin adalah Buku majalah dewasa.
"Lain kali liat-liat dulu kalau mau pinjem, jangan asal ambil!" ucap Hana menceramahi anaknya.
"Iya-iya, maaf..." Evan tertunduk diam mendengarkan.
"Jadi hukumannya... kamu harus dengerin Ibu bercerita sekarang!"
"Huh?, bukannya sekarang waktu aku tidur ya..." ucap Evan berpura-pura mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
Yang langsung membuat Ibunya tidak berkata lagi.
Evan lalu pergi meninggalkan ruangan Perpustakaan dan pergi ke kamarnya untuk tidur. Sementara Ibunya masih di sana dengan raut cemberutnya.
...****************...
Keesokan harinya, Evan terkejut mendapati dirinya yang naik popularitas di Sekolah. Semenjak kemarin ia menerima pernyataan cinta dari Rahel.
Grup kelas bahkan heboh membicarakan keduanya. Malam itu kelihatannya ramai sekali di grup Ichat, hingga yang membukanya di pagi harinya pasti terkejut, melihat pesan yang mencapai ribuan itu.
Di Ichat ada pesan yang disampaikan teman sekelas Evan untuk berbicara dengannya, namun karena semalam Evan off, pesan tersebut jadi tidak terbaca dan baru saja Evan baca di keesokan harinya.
Kala kondisi seperti ini Evan seperti biasa mencari tempat aman dari para temannya, yang sangat penasaran dan yang ingin tau bagaimana Evan jadian.
Simulasi tersebut sudah ia prediksi, sehingga sekarang ini ia pertama-tama harus berangkat pagi dan bersembunyi di Perpustakaan.
Baru di waktu puncak ia akan keluar. Siang adalah puncak acara kelulusan.
Mentari pagi bersinar terang dengan cahayanya yang sangat hangat. Evan melihat cahaya yang masuk kedalam Perpustakaan melalui jendela yang terbuka.
Memasuki ruangan, ia mendengar sesuatu, yang setelah ia telusuri, ia mendapati Sherly yang sedang menyapu. Dia ternyata berangkat pagi juga. Tapi Sherly memang sering datang pagi-pagi sekali.
"Hai Sher kebetulan sekali," ucap Evan sambil menyapa Sherly, namun Sherly bersikap acuh padanya.
"Sherly kenapa terlihat seperti marah kepadaku ya?" ucap Evan dalam hatinya.
"Gini Sher, kalau memang aku ada salah aku minta maaf, aku jadi tidak enak kalau seperti ini!" Evan langsung saja berterus terang kepada Sherly.
Membuat Sherly akhirnya luluh dan mau berbicara kepada Evan.
"Sebenarnya... hm a..ku... aku suka sama kamu Ev!" ucap malu Sherly sembari memainkan jarinya.
"Apa?" Evan sangat terkejut sekali, namun ia berusaha untuk menahannya.
"Aku tau kamu sudah punya kekasih, dan aku pula tidak secantik Rahel. tapi... aku janji akan tetap setia. aku mau kok jadi..."
Ucapan Sherly di potong.
"Maaf Sher, situasinya semakin rumit bahkan kemarin aku benar-benar tidak menginginkannya. jadi tolong..
bantu aku dulu sebentar!, aku janji akan pertimbangkan nya."
"Eh?, kamu ada masalah ya Evan... sini cerita kepadaku!" Sherly dengan senang hati ingin mendengarnya.
"Sejujurnya aku saat ini dilema, dilema dengan situasi dan kondisi!" terang Evan.
"???" Sherly menatap bingung kepada Evan, ia menunggu Evan akan menjelaskannya.
"Kayaknya aku ceritakan saja kepadamu, terus minta saran darimu setelahnya," gumam Evan.
"Iya gapapa, aku bakal dengerin."
__ADS_1
Sherly kelihatannya sangat antusias sekali, dia sendiri tidak tahu jika dalam hati Evan saat ini sedang kondisi tak karuan. Akibat di tembak dua hari berturut-turut oleh cewek.