
POV Evan
Terkadang aku sering melamun membayangkan kehidupan setelah aku bangun nanti. Bangun dari sebuah mimpi yang sama halnya dengan seribu mimpi didalamnya. Sebelum ku menyadari, aku mala menikmati hidupku yang sekarang ini bak seorang raja diatas singgasana yang hanya setiap harinya cuma untuk memerintahkan saja.
Sebenarnya aku ingin bangun, meskipun segalanya membuatku terpaku akan cerita yang telah ku buat. Meski hanya dalam mimpi, tapi. Aku mendapatkan sebuah harta tak ternilai harganya.
Ingatan atau mungkin saja ilusi. Setiap Malam sering kali menghantuiku, menghiasi mimpi-mimpi syahdu. Tujuanku sebenarnya menetap dalam mimpi ini hanya untuk mengetahui apa yang terjadi denganku. Ketika aku belum menyadari mimpi ini sebelumnya.
•••
Sopir pribadi Evan berhenti sejenak, untuk membeli minuman dan snack di swalayan terdekat yang lalu memperkirakan mobil. Selesai membeli dan memberikannya kepada Evan, setelah itu ia memutar balik mobil dan pulang menuju tenda kediaman Presdir (rumah Evan).
Mengecek ponselnya lagi Evan mendapatkan bertubi-tubi notifikasi panggilan tidak terjawab. Setelah di telusuri dengan membuka notif itu barulah ketahuan, ternyata Rahel yang menelponnya.
Tidak butuh waktu lama, Evan menelpon balik Rahel.
"Ada apa Hel?
"Evan, aku minta maaf ya... Tadi aku berbuat salah kepadamu.. "
"Kamu, apa memang berbuat salah kepada ku?"
"Hm, tadi aku mengabaikan dan acuh kepada mu!"
__ADS_1
"Gitu ya, ya udah aku maafin."
"Kamu janji kan ngga marah?"
"Iya.. aku janji. Btw nanti lagi aja Hel bicaranya! Kamu fokus aja nyari kenangan di sekolah!"
"Makasih udah maafin aku, cuma... aku masih belum tenang, kalau aku tidak video call sama kamu. Kita beralih ya!"
"Tunggu tunggu, sekarang ini aku sedang sibuk Hel!"
"Tuh kan, kamu. Pokoknya aku mau video call-lan titik!"
"Rahel ini, semakin lama semakin berubah aja sifatnya sama aku, semenjak kita sudah sudah berpacaran. Itupun karena terpaksa," ucap Evan dalam hatinya.
"Iya iya aku ngalah."
"Kok kamu ada di dalam mobil, sedang apa emangnya?"
"Aku... aku mau pulang karena ada hal mendadak!"
Meskipun Evan sudah banyak basa-basi dan mengeluarkan segala upaya dengan melontarkan perkataanya, namun Rahel tetap saja kekeh seperti melarang Evan pergi.
Alasannya karena Rahel tidak ingin Evan melewatkan momen seperti ini, momen yang amat langka dan bersejarah. Penuh akan kenang-kenangan.
__ADS_1
Flashback off
Evan sekarang ini bersama dengan Rose mengobrol di ruangan buku, dan Evan yang mengajaknya.
Sambil memegang sebuah buku yang ia ambil, seketika akhirnya Evan yang berbicara duluan. Karena mereka inilah tujuan Evan dari awal.
"Gini Rose, aku mau bertanya kepadamu. Apa kamu baik-baik aja sekarang?"
"... aku baik-baik aja kok."
"Syukurlah kalau begitu, aku mengajakmu kemari karena ingin berbicara suatu hal penting!"
"Penting?" Rahel tampak kebingungan.
"Hm."
"Jadi aku mau kamu... "
"Ev, apa kamu mau pernah mencintaiku?" Rose tidak memotong pembicaraan Evan, sedangkan ia membicarakan tentang hal lain.
"Huh? Kenapa kamu membicarakan itu?" ucap Evan mengikutinya.
"Aku cuma berpikir kalau kita ini harusnya berpacaran!"
__ADS_1
"Pertanyaan seperti ini yang kadang membuatku pasti merasa pusing. Soalnya aku malas kalau di suruh harus memilih pada akhirnya, karena aku tidak ingin salah pilih. Itu bisa saja berakibat fatal," ucap Evan dalam hatinya bermonolog.
"Seandainya kamu tahu Ev, kalau aku ini sangat mencintai mu. Aku bahkan rela menjadi yang kedua," batin Rose sambil menatap Evan yang melamun.