
Di jam 21:57 Ken juga sama, ia masih belum tertidur. Kala itu ia mencoba bangkit dari tempat tidurnya. Matanya belum mengantuk sama sekali.
Dia tadi hanya berbaring saja menunggu matanya mengantuk, sudah berbagai cara telah Ken coba tapi rasa kantuk yang ia harapkan masih belum muncul. Sehingga ia pun bangkit dan membaca sebuah buku.
...****************...
Saat Asami mencoba pergi ke atap ada salah satu bodyguard Evan yang melihatnya. Sontak ia langsung menelpon Evan dan ia pun memastikan lagi keberadaan Asami.
Dalam sambungan lewat Handphone.
"Hallo Tuan, ini saya Frank saya tadi melihat nona Asami pergi menuju tangga!" ujarnya.
"Lalu dia menuju kemana?" tanya Evan.
"Dia menuju ke arah tangga!, sepertinya dan akan menuju ke lantai atas!" Jelas Frank.
"Bagaimana kelihatannya?" ucap Evan.
"Dia mengalami halusinasi berat aku nyakin sekali setelah dia keluar dari pintu kamarnya, dia sangat gelisah dan untuk sekarang saya sendiri sedang mengikutinya, dia pasti akan melakukan sesuatu yang terbilang berbahaya!" pikir Frank dan memberitahunya kepada Evan.
"Baiklah, ikuti dia terus dan jangan sampai lengah?" tegas Evan kepada Bodyguardnya.
"Baik, tuan muda!" ucap Bodyguard dengan nada paham, lalu setelah itu ia menutup panggilan.
Asami pun berjalan santai menuju ke arah tangga yang menuju jalan untuk sampai ke atap hotel. Di belakangnya ada bodyguard Evan yang sedang mengawasi dirinya, namun dia tidak mengetahui keberadaannya. Dari perilaku Asami terlihat jelas jika ia akan melakukan sesuatu hal yang sudah di di pikirkan oleh Evan dan salah satu dari bodyguardnya.
Ternyata Asami akan melakukan percobaan bunuh diri dengan melompat dari lantai paling atas.
Hal tersebut berhasil di gagalkan, lalu Evan yang saat itu ada disana melihat Asami menangis karena hampir saja melakukan hal yang membuatnya tidak dapat melihat hari esok.
Evan pun menasehatinya secara terbuka dan juga Pak Fuyy yang memberinya motivasi semangat hidup, selain menjadi bodyguard dia juga seorang motivator.
Pada akhirnya Asami menyesali perbuatannya yang hendak akan ia lakukan, Evan pun lega karena melihat Asami yang bersemangat setelah mendengar kata motivasi dari Pak Fuyy tadi.
"Aku janji!, setelah aku keluar dari penjara aku akan menjadi kakak yang baik dan juga mewujudkan mimpiku yosh..." ucap senang Asami bersamaan dengan genggaman erat kedua tangannya.
Evan berbicara kepada Pak Fuyy secara berbisik.
"Pak Fuyy sangat luar biasa, kata-kata motivasi tadi dapat membangkitkan lagi jiwanya yang hilang!" ucap Evan memuji Pak Fuyy.
__ADS_1
"Biasa saja, lagi pula yang terpenting sekarang adalah dia kembali kepada jalan yang benar dan kelihatannya dia sangat bersemangat!" jawab Pak Fuyy merendah.
"Ya itu pasti dirinya, dan aku nyakin bahwa suatu saat impiannya pasti akan tercapai!" ucap Evan sambil tersenyum ke arah Asami.
...****************...
Keesokan harinya, Evan seperti biasa berangkat pagi-pagi sekali untuk dapat membaca buku di Perpustakaan.
Pagi itu Evan tidak melihat Sherly, tapi ia nyakin sekali jika Sherly sekarang sudah ada di Perpustakaan mendahuluinya.
Evan membuka pintu Perpustakaan yang kala itu tertutup.
Krekkk...
Evan melihat sekitarnya dan teryata tidak ada seseorang pun sejauh pandangannya.
"Aneh sekali, biasanya Sherly sudah ada di perpustakaan. apa dia tidak berangkat atau belum sampai?" Evan bertanya-tanya kepada dirinya sendiri.
Di perpustakaan terlihat rapi dan bersih sehingga ia tidak harus merapikan buku maupun membersihkannya hari ini, apalagi karena ada denda dan aturan yang sudah di berlakukan di Perpustakaan. Ide tersebutlah yang Evan pungkas waktu itu.
Evan lalu memilih buku untuk di bacanya. Hari ini Evan sangat mood dengan buku mengenai sejarah.
Serasa buku pilihannya cocok Evan pun duduk di meja khusus pembaca.
Kue itu adalah oleh-oleh dari Ayah Evan sepulang dari tugasnya. Walupun begitu kemarin kue tersebut hampir saja di makan oleh Ayahnya, namun karena Lili sudah membawanya ke tempat Evan maka Ayahnya tidak jadi untuk memakannya.
Waktu itu Lili berkata kepada Evan jika ia harus membalasnya. Perkataan Lili membuat Evan mengingatnya lagi dan lagi, sehingga membuatnya bertanya-tanya. Apa sih yang Lili inginkan sekarang.
Evan pun membuka buku dan berkata.
"Baiklah mari kita mulai membaca," ucap Evan.
Tadaaa.....
Rupanya Rahel dan Sherly sudah ada di perpustakaan sejak tadi, ia hanya bersembunyi untuk melakukan hal iseng kepada Evan. Tapi rencananya untuk membuat Evan terkejut gagal total, Evan sama sekali tidak berubah ekspresi sedikit pun. Lalu Rahel berkata kepada Evan dengan muka linglung nya.
"Eh...?, Evan tidak kaget sedikit pun!, padahal aku berharap bisa melihat wajah kagetnya," ucap Rahel yang berada di samping kanan Evan, dan berbisik kepada Sherly.
"Mmm, Evan tidak berubah ekspresi sama sekali!" ucap Sherly yang berada di sebelah kiri Evan, dan mengangguk membalas perkataan Rahel.
__ADS_1
Sambil tetap fokus membaca buku Evan berkata.
"Maaf ya, aksi kalian tadi tidak ada apa-apanya, aku sama sekali tidak kaget sedikit pun!" ucap Evan dengan senyum simpulnya.
"Humph, lagi pula tadi aku hanya iseng aja ya kan Sher?" ucap Rahel.
"Iya," jawab Sherly sambil mengangguk.
"Enggak ada maksud lain kok!" ucap Rahel.
"Yaa, mau gimana lagi aku sedang fokus membaca tadi!, lagi pula mana ada orang yang mengangetkan seseorang dengan berkata "Tada" dan kamu juga mengajak Sherly dia tidak terbiasa melakukannya tau!"
"Hhhuuuuu Evan," ucap Rahel yang meniup telinga Evan, membuat Evan sendiri menoleh ke arahnya.
...****************...
Jam pelajaran pertama pun sudah dimulai. Di kelas Evan kini sedang berlangsung mata pelajaran kimia, Evan memperhatikan gurunya yang sedang mengajar dengan serius.
Rahel juga sama ia tampak serius di pelajaran kimia, saat itu Evan melirik Rahel yang tengah fokus memperhatikan guru di depan. Rahel pun menyadarinya dan tersenyum kepada Evan.
Tak disangka di jam pelajaran yang sedang berlangsung kedatangan murid baru di kelas. Dia bernama Tsuki seorang laki-laki berambut hitam dengan wajah tanpa ekspresi.
Dia datang bersama seseorang yang saat ini sedang berada di luar kelas.
Guru dan para murid lain menyambutnya dengan antusias, lalu murid baru tersebut memperkenalkan dirinya.
Rupanya dia adalah murid pindahan dari SMA Senkai dan alasan dia pindah adalah untuk mempermudah urusan orang tuanya dalam bekerja.
...****************...
Hari ini Bas tidak berangkat ke Sekolah, karena dia sedang bersama dengan pengacaranya, yang di minta untuk hadir di sidang pengadilan Kakaknya.
Pengacara tersebut di panggil berdasarkan pemikiran Evan, takutnya jika sidang di biarkan tanpa pengacara di kubu Bas bisa saja Kakaknya akan di berikan hukuman mati oleh hakim.
Mengenai kejadian semalam Evan tidak menceritakannya kepada Bas. Kalau Kakaknya hendak melakukan percobaan bunuh diri, Evan hanya menempati janjinya saat itu sewaktu berbicara dengan Asami.
Bas juga berharap jika Kakaknya dapat berubah menjadi dirinya yang dulu setelah keluar dari penjara. Pengacaranya juga berusaha sebisa mungkin supaya masa tahanan Kakaknya tidak terlalu lama, meskipun Kakaknya Bas sudah membunuh banyak orang.
...****************...
__ADS_1
Di Kantin Evan mengobrol bersama teman-temannya. Mereka asik mengobrol sambil makan cemilan yang di belinya.
Di samping itu, Evan juga mengajak teman sekelasnya Starlight dan Mike.