Ayah Yang Tak Pernah Menua

Ayah Yang Tak Pernah Menua
Persiapan Menjelang Acara Perpisahan Sekolah


__ADS_3

Di dalam Perpustakaan saat ini.


Evan dan Sherly masih di dalam. Evan sebelumnya menjelaskan kepada Sherly tentang masalah dirinya yang terpaksa harus menikah dengan seseorang.


Mau bagaimana lagi, semuanya sudah terjadi dan hal tersebut adalah bentuk permohonan maaf yang paling istimewa. Meski di salah satu pihak akan ada yang kecewa dengan keegoisan semata itu.


"Apa kamu nyakin akan menikah dengannya?" tanya Sherly meminta jawaban langsung dari hati Evan.


"Tentu saja!, meskipun kenyataannya aku tidak memiliki perasaan dengannya sama sekali!" Evan menjawabnya dengan jujur serta bersungguh-sungguh, yang seolah menggambarkan jika omongan memang benar.


"Tapi... mungkin saja kamu tidak bahagia, aku harap kamu mengerti, menikah seperti itu hanyalah kebohongan belaka."


"Ya... seperti itu bisa saja terjadi, tapi kamu belum tau, kalau dia juga menyukaiku!" sembari menaruh satu lengannya di atas rambut.


"Jadi... kalau begitu, pernikahan itu sepertinya akan menguntungkannya?" ujar Sherly.


"Begitulah. hmm, sekarang aku tanya? kenapa kamu bisa menyukaiku?" entah kenapa saat ini kepercayaan diri Evan meningkat dan berani mengatakannya kepada Sherly.


"...a...ku sudah sejak lama suka denganmu!"


"Tunggu..., bukannya itu tidak termasuk dari jawaban pertanyaan ku!"


"Sesekali tidak apakan? bertingkah seperti ini terhadap Sherly," ucap Evan dalam hatinya yang sangat senang dan bersemangat.


"Itu, aku suka dengan sikapmu!" setelah sekian lama akhirnya Sherly menjawab, terlihat dia yang memainkan jari manisnya.


"Huh?"


"Dulu..." tiba-tiba Evan memotong perkataan Sherly.


"Lebih baik kita ngobrol sambil bersih-bersih, mumpung masih pagi dan segar!"


"Iyaa," rona merangkak naik ke wajah Sherly, membuatnya terkagum dan semakin menambah rasa pada Evan.


Sherly melanjutkan ucapannya di barengi bersih-bersih di sana, Evan juga ikut membantu supaya pekerjaan Sherly cepat selesai.


...****************...


Sementara di gerbang Sekolah.


Rahel sejak pagi menunggu kedatangan Evan disana, ia bersama teman-temannya yang terlihat berdandan cantik untuk hari ini.

__ADS_1


Pagi hari juga lumayan ramai banyak sekali siswa laki-laki yang datang, namun sebagian dari mereka adalah yang tidak suka dengan orang-orang atau introvert.


Tapi tidak menutup kemungkinan, mereka juga adalah murid-murid yang di bebani tugas oleh guru mereka. Seperti ketua Upacara dan kelompoknya, Klub kebersihan, Komite Sekolah, maupun bagi murid-murid yang rajin. Mereka pasti akan berangkat tetap waktu bahkan pagi-pagi sekali.


Selama menunggu, Rahel banyak di sapa oleh murid-murid, entah laki-laki maupun perempuan semuannya pasti kenal dengan Rahel. Siapa sih yang tidak tahu sama Rahel si Bunga Sekolah. Mereka juga sangat ramah kepadanya.


Jam 06:37 terlihat dekorasi sudah terpasang dengan rapi. Kelas-kelas juga sudah dihiasi bahkan pohon sakura terlihat sangat indah bergabung dengan dekorasi itu.


Seperti halnya pameran klub.


Semua klub turut membantu di acara perpisahan yang


kental akan kenangan yang tak terlupakan kali ini.


Klub memasak yang saat ini sibuk dengan urusan masakannya, klub animasi yang bergerak dan membantu dalam acara sambutan nanti, klub Manga yang memeriahkan acara dengan membagikan Manga buatan tangan anggotanya dan juga mempromosikan sosialisasi yang intens. Dan banyak lagi klub yang ikut membantu dan memeriahkan acara. Semuanya di pantau langsung oleh ketua OSIS dan Wakilnya.


"Meriah sekali acara perpisahan ini," ucap Ken sembari menengok kekanan dan kekiri aktivitas di sekolahnya.


"Mungkin karena ini adalah acara perpisahan mereka, sehingga mereka jadi bersemangat untuk membuat kenangan seindah mungkin disini!"


"Hm, tepat sekali omongan mu Hyouga."


Semakin lama di Perpustakaan juga semakin ramai, membuat Evan harus pergi bertemu dengan kawannya.


"Sher, kita ketemuan lagi ya nanti!, hmm, kamu ajak Airi juga dia pasti senang!" ujar Evan sebelum ia pergi.


"Iya-iya, aku nanti akan kirim pesan serta mengajak Airi!" jawab Sherly saking senangnya, di hatinya saat ini berdebar karena Evan mengatakan ingin bertemu lagi dengannya.


Evan keluar Perpustakaan. Lalu dengan cepat menutupi rambutnya dengan topi dan kemudian mulutnya dengan masker.


Membuat siswa yang di sana jadi tertuju ke arah Evan, namun setelah selesai Evan langsung pergi dari sana. Ia tidak ingin menimbulkan banyak kecurigaan.


Sekali lagi di perjalanan, Evan mengecek grup dan berita Sekolah melalui aplikasi khusus dari klub berita. Di sana masih banyak siswa yang membicarakan tentang Rahel dan Evan.


Katanya kini akun media sosial milik Rahel tengah ramai di banjiri pengikut. Fans Rahel bahkan memanas-manasi hubungan mereka. Kabar tersebut diperbincangkan karena kemarin Rahel sempat berfoto dengan Evan, berpose layaknya pasangan mesra. Lalu mengunggahnya di media sosial.


Akibatnya Evan harus menyamar dan tidak menunjukkan dirinya.


Ya. Itu sangat menyiksa bagi Evan, karena di hari kelulusan ini ia harus begitu sampai nanti.


Di sisi lain, para bodyguard masuk dan menyamar di Sekolah. Mereka melakukan itu atas kehendak Rose karena ia diberikan wewenang untuk memiliki bodyguard dari Ibu Evan.

__ADS_1


Dan hari itu Lili dan Rose berjanji, mereka berdua bersepakat akan memasak di dapur. Berharap masakan yang mereka buat dapat selezat masakan koki, karena masakan itu di persembahkan khusus untuk Evan.


"Sepertinya untuk saat ini aku aman ...huh," ucap Evan sembari beristirahat dan menghela nafas di sebuah tempat duduk di samping ruangan klub memasak.


Ia duduk dan melihat ponselnya lagi serta mematikan mode diam di ponselnya. Evan juga menonaktifkan mode pemberitahuan salah satu aplikasi.


Seperti biasa Ichat-nya selalu ramai dan keliatannya Rahel terus menghubunginya.


Tidak ingin membuat Rahel kecewa ia pun mengirim pesan singkat kepada Rahel dan menyuruhnya untuk ketemuan di ruangan klub menulis.


"Hei, kamu mau mencicipi biskuit buatan kami, silahkan!" ucap ketua klub memasak yang tersenyum lembut sambil menyodorkan nampan berisi kue.


"Ah, tidak terimakasih," Evan langsung menolaknya dan pergi.


Membuatnya terkejut dan melihat kepergian Evan.


Evan berjalan dengan santai melewati setiap kelas. Tanpa takut di ketahui hanya saja ia merasa seperti sedang diawasi.


Sampai di ruangan klubnya Evan pun langsung membuka pintu.


Alangkah terkejutnya ia yang melihat Sharashi ada di sana.


Srek..


"Aa!!, kenapa kamu ada disini?" Evan kaget lalu setelah itu ia bertanya kepadanya.


"Bukannya kelas kamu sedang sibuk ya?" imbuh Evan yang mengetahui kelas Sharashi sedang di sibukkan dengan bersih-bersih, Evan mengetahuinya saat melewati kelas Sharashi.


"Humph!, aku tidak mood sekarang!" jawab Sharashi yang menaruh kedua lengannya di dada dengan ekspresi kesal.


"Huh? kenapa dengan dia, apa mungkin Sharashi sedang datang bulan ya?" pikir Evan bertanya dalam hatinya.


"Lagi pula di sini lebih nyaman, aku sudah membersihkan ruangan ini dan mengepelnya!" ujar Sherly.


Evan melihat ke dalam dan terlihat sangat bersih dan rapi serta wangi.


"Lumayan sih, kemampuan Sharashi sangat ahli. tapi kenapa ya dia bisa tau aku?, padahal... aku kan sedang dalam penyamaran?" ucap Evan dalam hatinya.


"Ayo masuk, aku membawa bento!" ujar Sharashi sambil memegang tangan Evan.


Dari kejauhan terlihat Rahel yang melihat Evan di pegang oleh cewek lain, itupun adalah adik kelasnya. Saat itu perasaan Rahel menjadi panas dan muncul sifat Yandere-nya.

__ADS_1


__ADS_2