
Setelah di izinkan masuk oleh pak Gory Evan langsung memasuki ruangan pribadinya. Dan juga tampak pak Gory yang sedang membuat kopi setelah Evan masuk kedalam ruangan.
Ada beberapa percakapan bab sebelumnya yang di rubah namun tetap sama dengan yang awal.
"Duduk dulu ya nak, bapak sedang membuat kopi!, hari ini bapak memang sedang tidak mengajar, dikarenakan saat ini bapak sedang tidak enak badan!" ucap pak Gory dengan suara yang agak serak.
"Iya pak, pantas saja suara bapak agak serak gitu, oh ya pak ngomong-ngomong saya menganggu waktu bapak tidak?" tanya Evan sambil melihat pak Gory yang sedang menuang air panas ke dalam cangkir.
"Menganggu!, hmm tidak sama sekali, bapak mala senang jika ada seseorang yang datang kemari, tadi juga ada murid perempuan yang datang dia juga membicarakan sesuatu dengan bapak!" ucap pak Gory ia sudah beranjak menuju ke tempat duduk.
Dalam hati Evan berkata.
"Walaupun pak Gory mengizinkanku, tetapi kondisinya sekarang sedang sakit akan lebih baik jika aku datang lain kali saja untuk berbicara itu dengannya. tapi kurasa saat ini memang waktu yang tidak cocok untuk berbicara dengannya, tapi... siapa ya wanita yang datang kesini untuk menemui pak Gory?" Evan dalam pikirannya yang penasaran dengan cewe yang datang sebelum Evan.
"Pak saya lebih baik kembali ke kelas saja, saya sendiri tidak enak sama bapak," ucap Evan terus terang kepada pak Gory dan mengatakannya untuk kedua kalinya.
"Kenapa, lagi pula di kelas mu tidak ada guru yang masuk bukan?, bapak tau kamu ini bernama Evan dan untuk yang tadi kamu tanyakan sama sekali bapak tidak keberatan jika kamu mau menanyakan sesuatu hal kepada bapak!" kata Pak Gory.
"Pak Gory mengenalku, apa mungkin dia orang yang samar-samar terlintas di ingatanku?" ucap Evan dalam hatinya.
"Saya agak lupa sih dengan bapak, akan tetapi ada ingatan saya yang berusaha untuk mengingat bapak, jadi apa boleh bapak jelaskan siapakah bapak ini?" lanjut pembicaraan Evan kepada Pak Gory.
"Iya-iya, (dalam hati "Itu karena kecelakaan yang dialami olehnya yang membuatnya kehilangan dari setengah ingatannya.") jadi begini, bapak ini sebenarnya adalah teman Ayahmu "Rohan Artefa" sebelum Ayahmu menikah dengan ibumu "Hana Shanghai"
bapak menjadi partner Sainsnya!" ucap Pak Gory.
"Partner Sains?, itu artinya Ayahku..."
__ADS_1
"Iya tepat sekali dia adalah si maniac sains, dan banyak sekali percobaan Sains yang di akukan olehnya dulu, ketika dia masih muda bersama dengan bapak partnernya. bapak sendiri harus sigap dalam segala situasi maupun kondisi untuk melakukan percobaan Sains. salah satu percobaan kami yang sukses adalah menciptakan mikroba yang dapat melahap sampah plastik, pasti kamu kaget bukan?" ucap Pak Gory menjelaskan informasi yang diberikan kepada Evan, sembari memainkan pembicaraan dengan gerakan tangan.
"Tentu saja, menciptakan sejenis mikroba yang datang melahap sampah itu adalah temuan yang dapat mengubah peradaban sekarang ini, entah kenapa saya jadi bersemangat pak!" ucap Evan.
"Hehehe, walaupun begitu temuan itu menghilang begitu saja dalam arti lenyap!" ucap Pak Gory memberitahukan Evan kembali.
"Bagaimana bisa temuan yang semenarik itu lenyap?" tanya Evan yang agak kaget setelah mendengarnya.
"Ada cerita dibalik lenyapnya temuan kami, itu karena....ahh kurasa bapak sudah berjanji untuk merahasiakannya, dan juga kamu Evan, kamu sendiri harus merahasiakannya juga?" kata pak Gory.
Evan berasumsi jika Ayahnya sendiri ada sangkut pautnya dengan hilangnya temuan yang dapat mengubah peradaban itu.
Evan berpikir jika Ayahnya memiliki rahasia dan tidak ingin memberitahukan kepadanya.
"Yang membuat aku bingung adalah kenapa Ayah tidak pernah membahas Sains dengan ku. dari aku kecil pun dia hanya mengajariku berbagai keahlian lain terkecuali ilmu Sains, padahal kata pak Gory dia di sebut si maniac sains, kurasa hal ini akan menambah daftar di mana aku harus menguak beberapa misteri!" ucap Evan dalam hatinya.
...****************...
"Hmm tidak usah repot-repot pak!"
"Tidak apa-apa, akan lebih nikmat jika kita mengobrol sambil makan camilan, benar begitu kan?" ucap pak Gory.
"Iya sih, kalau begitu aku langsung ke inti pembicaraan saja. yang ingin aku tanyakan kepada bapak jadi begini, apakah bapak pernah menjelajah di hutan Dark forest?" ucap Evan yang langsung terus terang ke arah tujuannya.
"Menjelajah hutan Dark forest, kayaknya bapak pernah menjelajahi hutan tersebut tapi sudah lama sekali. bapak terakhir menjelajahi nya kalau tidak salah sudah 12 tahun yang lalu!" ucap pak Gory.
Evan pun berpikir dalam pikirannya.
__ADS_1
"12 tahun itu berarti sebelum peledakan pabrik gas!, tapi kan belum tentu pak Gory menjelajah sampai ke bangunan bersejarah itu, kayaknya aku harus melengkapi pertanyaanku!"
Ketika Evan akan mengajukan pertanyaan pak Gory sudah duluan berbicara.
"Bapak tertarik untuk menjelajahi hutan yang penuh misteri yaitu hutan Dark forest, karena di sana ada sebuah cerita tentang sebuah harta kerajaan yang hilang. bapak mendapatkan informasi tersebut dari seorang kakek tua pada saat bapak membantunya membawa kayu bakar yang di bawahnya!" ucap pak Gory.
"Jadi bapak mendengarnya dari kakek yang bapak bantu, apa dari yang lain juga? tanya Evan.
...****************...
Tiba-tiba suara handphone pak Gory berbunyi, sehingga pembicaraan tadi terpotong.
Lamanya waktu mengobrol dengan orang yang menelponnya, membuat pak Gory akan melanjutkan obrolannya nanti kepada Evan.
Evan pun pergi meninggalkan ruang pribadi pak Gory.
"Tak ku sangka akan ada hal yang mengejutkan yang muncul silih berganti, aku pun tidak menduga jika aku sama seperti Ayah dulu, dan juga aku bertemu dengan kawan lamanya. huh, selanjutnya apa lagi ya. akan tetapi setelah mengobrol dengan pak Gory aku jadi mendapatkan sedikit petunjuk dan juga mengingatkan aku kembali akan ingatanku dulu pada sosok pak Gory, dia adalah salah satu orang yang menginspirasiku sejak kecil. dia dulu sering datang ke rumah Ayah demi membantu melakukan eksperimen Sains, aku juga ingat ketika ibu marah-marah kepada keduanya, hah saat-saat yang menyenangkan,"
Ucap Evan dalam hati, namun ingatan Evan tersebut masih samar-samar.
...****************...
Sekarang Evan kembali menuju kelas, dia terlihat menyangakan kedua lengannya di bagian belakang kepalanya di sepanjang jalan.
Evan berjalan menyusuri koridor Sekolah. Di tengah perjalanan Evan bertemu dengan seorang murid dengan tatapan tajam melihat kearahnya, yang rupanya murid tersebut bernama Kelin salah satu murid berandal yang sering membuat onar ketika di luar Sekolah.
Evan pun berpapasan dengannya, saat itu juga Kelin tersenyum menyeringai.
__ADS_1
Tatapan Evan hanya biasa saja, dia seperti tidak ingin terlalu mencolok.
Evan tidak tertarik dengan orang-orang yang membuat onar di usianya sekarang, namun Evan akan membantu seseorang jika dirasa membutuhkan bantuan.