Ayah Yang Tak Pernah Menua

Ayah Yang Tak Pernah Menua
Yang Mengejutkan dari Rahel


__ADS_3

Perasaan gusar menyelimuti hati Evan, dia bingung harus berkata apa.


"Mampus lah.. aku! Rahel pasti membenciku!" ucap Evan dalam hatinya.


Tapi mau bagaimana lagi, Evan harus berkata kepada Rahel yang sekarang ini dia diam tidak berbicara.


"Hel, aku sungguh menyesal! maaf atas perilaku yang lancang tadi. aku terbawa oleh perasaan.., maafkan aku..." ucap Evan sembari menundukkan kepalanya, ia merasa sangat menyesal atas perbuatannya tadi.


Sesaat tidak ada suara diantara mereka berdua dan Evan masih tertunduk malu.


Sementara di ruangan klub Sharashi merasa heran kepada Evan, ia berpikir jika hal tadi adalah hal lumrah yang kebanyakan pasangan lakukan. Tetapi mengapa Evan meminta maaf seperti itu.


"Apa jangan-jangan mereka berdua berpura-pura pacaran? hmm... bisa jadi sih. tapi buat apa aku memikirkan mereka, urusanku jauh lebih penting," ucap Sharashi dalam hatinya.


"Katakan saja! apa yang bisa aku lakukan agar kamu mau memaafkan aku Hel? niscaya aku akan menempati janji!"


"Baiklah, kamu harus turuti ya apa yang aku katakan!" balas Rahel sedikit menunjukkan senyumanya.


"Heh...?" sembari Evan mengangkat kepalanya.


Saat Rahel bilang barusan ada penasaran aneh dalam diri Evan. Evan berpikir jika, Rahel akan memarahinya karena ia terlalu berlebihan atau mungkin Rahel menganggapnya orang mesum.


"Aku cuma mau kamu setia aja!" ucap Rahel sambil memandangi Evan.


"Serius kah? dia hanya menginginkan itu saja?" ucap Evan bertanya dalamnya.


"Hel, sebenarnya aku itu mau..."


Perkataan Evan di potong oleh Rahel.

__ADS_1


"Udahlah!! kamu nurut aja sama aku!" ucap Rahel yang meninggikan suaranya penuh penekanan, membuat badan Evan serasa mati rasa serta matanya terbelalak.


"Ya. baiklah aku mengerti...!" dengan terpaksa Evan berkata.


Rahel kemudian membalikkan badan dan pergi meninggalkan Evan.


Dalam hatinya Evan masih bertanya-tanya.


"Baru kali ini, aku melihat Rahel yang seperti itu."


Tiba-tiba terdengar suara handphone dari saku celana Evan. Terus ia mengangkatnya.


Panggilan dari Ken.


"Kamu.. ada dimana Ev? aku dari tadi mencari mu tidak ketemu-ketemu."


"Kamu tidak mau mengatakan dimana kamu berada Ev...? apa sekarang ini kamu sedang berkencan?"


"Berhentilah basa-basi Ken, cepat beri tau aku di mana tempat mu sekarang!" ucap Evan malas serta mengabaikan perkataan Ken tadi.


"Huh, baiklah. sekarang ini posisi aku di depan ruang klub memasak!" ujar Ken.


"Kamu tunggu saja, aku akan kesana segera kesana."


"Oke."


Panggilan mereka berakhir dan Evan kemudian beranjak.


"Harusnya Rahel membawakan ku bento, tapi mala sebaliknya," ucap Evan pelan sambil berjalan menuju ke ruang menulis.

__ADS_1


Dia langsung saja di sambut oleh Sharashi di depan pintu.


"Ev, aku minta maaf. tadi aku tak sengaja mendengarkan percakapan mu dengan Rahel," ujar Sharashi.


"Tidak apa, yang penting kamu merahasiakannya," ucap Evan sambil tangannya mendarat di pundak Sharashi.


"...iya.. aku janji," ucap Sharashi yang agak berat mengucapkannya.


"Baguslah."


Setelah itu Evan pergi meninggalkan Sharashi tanpa berkata apa-apa lagi.


Sehabis ia di tunjukkan ekspresi itu dari Evan, membuat tangannya sekarang ini jadi gemetaran.


Dari sudut lain, ada pria yang sedang mengintip. Baru ketika Evan berjalan menuju kearahnya, ia langsung menghilang begitu saja tertutupi tembok.


Baru saja ia pergi Evan ternyata sudah mengetahuinya. lantas Evan dengan sigap langsung mengejarnya.


Tap..


Gerakan Evan yang di mulai dengan kecepatan dorongan dari tubuhnya, sehingga melesat maju kedepan.


Sret.. tap..


Evan langsung berbelok dan bergerak cepat lagi. Serta mengontrol emosi dalam dirinya.


Dari lantai atas Evan melihat seseorang yang berlari di luar halaman sekolah. Atau lebih tepatnya belakang Sekolah.


"Tidak akan aku biarkan dia lolos!" ucap Evan menunjukkan senyum penuh emosi.

__ADS_1


__ADS_2