
Hari menjelang kelulusan di SMA Oregami.
Saat ini Evan bersama dengan teman-temannya sedang duduk di Kantin. Mereka memesan makanan dan mengobrol ria bersama. Tak hanya itu mereka juga saling menunjukkan kertas soal ujian beserta nilai di dalamnya.
Sebab kemarin adalah hari terakhir mereka mendapatkan nilai ujian para mapel.
Ken terkekeh ketika melihat nilai matematika Erik, nilainya empat puluh dua.
"Hehe, segitu doang nilai matematika mu kapten?" Ken juga mencibirnya.
"Kamu jangan pura-pura lupa Ken, aku mendapat nilai segini karena fokus melatih tim basket!" jelas Erik dengan alasan merujuk kepada kesehariannya.
"Ya..., tidak bisa di pungkiri sih," ucap Ken serata berpikir kembali.
Soalnya nilai matematika Ken lebih tinggi daripada Erik, Ken mendapati nilainya delapan puluh enam.
Sedangkan Hyouga memilih untuk tidak memperlihatkan nilai ujiannya. Padahal saat ini adalah gilirannya untuk memperlihatkan nilai ujian.
Giliran Hyouga pun di skip, kini Evan memperlihatkan semua nilai dari mapelnya. Nilainya terlihat sangat memuaskan berbeda dengan Ken yang tadi mencibir Erik, nilainya sendiri rata-rata hanya mapel tertentu saja yang mencapai delapan puluh keatas.
Di waktu giliran Bas mereka semua di kejutkan dengan kedatangan Rahel yang tampak malu-malu.
"Rahel?" ucap Evan dalam hatinya.
"Eh, ada Rahel..., sini-sini kita makan aku yang traktir!" ucap Ken langsung menyerobot berkata saja.
Perkataan Ken tersebut juga menarik perhatian para murid lain di Kantin.
"Engga usah makasih. aku cuma mau berbicara berduaan sama Evan!" jawab Rahel.
"Eh?"
Evan lalu beranjak bangun dari tempat duduknya. Kiranya ia berpikir jika disini bukan tempat yang pas untuk berbicara berdua dengan Rahel.
"Maaf semuanya, aku pergi dulu!, kita lanjutkan obrolannya nanti!"
"Ouh... baiklah, semoga kalian menikmati waktu kebersamaan kalian!" ucap Ken.
"Hm, kayaknya mereka sudah janjian!" kata Bas.
"Bisa saja diantara mereka mau menyatakan perasaannya!" ujar Starlight.
"Hmm?" Ken berpikir.
...****************...
Di Taman Sekolah.
Mereka berdua jalan-jalan sambil mengobrol. Di sana juga lumayan ramai karena hari ini bebas dari pelajaran.
Di Taman Sekolah adalah salah satu tempat rekomendasi untuk para murid menyatakan cintanya kepada seseorang. Terbukti dari tahun kemarin Kepala sekolah Oregami melakukan riset secara mendalam.
__ADS_1
Meski pacaran di perbolehkan, tapi Kepala sekolah maupun guru BK terus memantau murid-muridnya. Lewat edukasi konseling di Sekolah.
"Mm, kamu beneran Ev? sudah nyakin dengan keputusanmu menjadi seorang tunangan?" ucap Rahel sambil melihat ke arah samping wajah Evan.
"Heh?, Rahel menanyakan hal itu!" ucap Evan dalam hatinya.
"Iya, aku bakal menjadi tunangan seseorang!, oh ya hel aku minta maaf kalau aku pernah berbuat salah kepada mu!"
"Kalau itu aku pasti memaafkan mu! tapi..."
Langkah Rahel terhenti membuat Evan juga berhenti dan membalikkan badannya karena keduluan.
"Aku nggak bakal memaafkan mu, kalau kamu sampai menikah dengan cewe lain."
"...." Evan diam.
"Hel?, sebenarnya kamu berkata begitu apa selama ini kamu...?"
"Sebenernya aku sudah suka sama kamu sejak lama, semenjak kita temenan dulu waktu kecil!"
"Serius kah?, apa jangan-jangan kamu bohong?" ucap Evan, dia masih sempat-sempatnya mengusili Rahel dengan kata-katanya.
"Enggak... aku ngak bohong, aku serius kok. serius untuk jadi pacar mu..." ucapnya sambil menatap Evan.
"Hel. bukannya aku tidak suka dengan mu!, tapi..., kondisi lah yang mengharuskan aku untuk menikah dengannya!"
"Jadi!, aku masih ada harapan biar bisa jadi pacarmu?
"Hah?"
"Maaf untuk itu. kayaknya kamu ngak bakal ada kesempatan!"
Semangat Rahel dan senyumanya tadi seakan meredup ketika Evan menegaskannya kepada Rahel.
Setelah itu Rahel menundukkan kepalanya. Evan juga melihatnya mengeluarkan air mata.
"Hel, sebaiknya kita bicarakan lagi di sana jangan disini!, mereka keliatannya penasaran sekali!" ucap Evan kepada Rahel dan sesekali melirik para murid.
Entah kenapa perkataan Evan tadi memberikan sebuah ide yang muncul di kepala Rahel.
Dan saat itu juga, Rahel menyatakan perasaannya kepada Evan secara terang-terangan. Sambil mengusap air mata kecil di wajahnya. Dia berkata.
"Aku suka dengan mu Evan, maukah kamu menjadi pacarku?"
Suaranya bagaikan gema menarik perhatian murid yang berada di sana.
Evan pun terkejut dan membuatnya hanyut dalam lamunannya. Karena menurut Evan laki-laki lah yang harusnya menyatakan cintanya.
"Kenapa Rahel sampai senekat ini?" ucap Evan dalam hatinya.
Perlahan para murid mendekati keduanya, berharap Evan dapat menerima pengakuan Rahel.
__ADS_1
Meski dulu mereka sempat membenci Evan sewaktu bersama Rahel, tapi sekarang kenyataannya berbeda.
Evan sekarang adalah murid berprestasi sehingga mengubah pandangan mereka.
Sadar dengan status Rahel di sekolah yang terkenal sebagai bunga Sekolah, membuat Evan jadi sulit untuk menolaknya apalagi secara terang-terangan begini.
Ada murid cewe berkata.
"Terima dia Evan..., Rahel keliatannya serius denganmu!"
"Iya benar!, terima dia Ev!"
"Awas ya kalau kamu menolaknya!" ucap teman Rahel yang juga ada di sana, mencoba untuk memperingati Evan dengan tatapan tajam.
Rahel keliatannya menunggu, menunggu Evan memberikan jawabannya.
"A...ku..." Evan agak sedikit ragu.
"Terima!, terima!" ucap murid cewe yang mendukung di posisi Rahel, dia juga seakan memprovokasi yang lain.
"Terima!, terima!"
"Terima!, terima!"
Dalam keadaan tersebut, Evan seperti sudah di skak Matt oleh para murid. Yang akhirnya Evan pun menerima Rahel sebagai pacarnya.
"Aku mau menjadi pacarmu!" jawab Evan dengan cepat.
Jawabannya membuat para murid diam. Lalu setelah itu mereka bersorak ria saking senangnya.
"Yeee..." para murid cewe spontan mencurahkan kesenangannya.
Rahel menegaskan kembali kepada Evan.
"Beneran kan?, kamu nga bohong?"
"Aku beneran Hel...!"
"Ya udah kalau gitu aku mau kamu berjanji!"
"Janji?"
"Sudahlah, kamu terima aja Ev!, aku tidak suka jika kamu mempermainkan perasaan Rahel," ucap murid laki-laki dari kelas sebelah Evan.
"Eh.(sambil menelan ludah) baiklah aku berjanji akan menjadi pacarmu yang setia, aku janji!" ucap Evan di hadapan Rahel, keliatan sekali wajah Rahel terlihat memerah saat itu juga.
Kabar tersebut tersebar ke penjuru Sekolah sejak Rahel si bunga Sekolah menyatakan cintanya secara terang-terangan kepada Evan. Entah itu adik kelas maupun guru, kabar tersebut terbang bagaikan angin yang langsung terdengar di telinga mereka.
...****************...
Saat ini Evan berduaan dengan Rahel di atap Sekolah. Evan sengaja menyuruh Rahel untuk kesana pada awalnya.
__ADS_1
"Hel?, aku tak habis pikir kepada mu, kamu bahkan sampai mengunakan cara itu!"
"Soalnya kamu tadi bilang, jika aku tidak punya kesempatan sama sekali. aku sekarang ini berharap kamu dapat menceritakan masalahmu. mmm, siapa tau... aku bisa membantumu, seperti saat dulu kamu membantuku!" ujar Rahel.