Ayah Yang Tak Pernah Menua

Ayah Yang Tak Pernah Menua
Entah Kenapa Aku jadi Hanyut Dalam Lamunan [Revisi]


__ADS_3

Evan menuju ke lantai atas, kemudian ia menuju ke klub komik hingga Evan sampai di depan pintu klub. Evan pun mengetuk pintu, dan dia sekarang ada di depan ruangan tersebut.


Tok...tok..tok..


Beberapa saat.


Krekk...


Pintu ruangan klub terbuka Evan pun melihat dengan jelas orang yang membukanya secara perlahan, kemudian orang itu berkata.


"Hmm, apa ada yang bisa aku bantu, maafkan kami tadi agak lama membuka pintu soalnya ruangan kami agak kedap suara!" ucapnya dengan nada tidak terlalu keras.


Pintu klub tidak terbuka lebar yang sekarang hanya di buka sedikit olehnya (murid anggota klub komik).


Evan menjelaskan kedatangannya.


"Maaf menganggu, aku kesini untuk mencari Henry kudengar dia sangat aktif di klub komik, hmm apa dia ada sini?" ucap Evan.


"Henry, dia tidak ada di sini maaf ya!" ucap murid tersebut.


"Tunggu, bisakah kamu memberiku kabar tentangnya?" ucap Evan bersamaan untuk mencegah murid itu menutup pintu.


"Baiklah, aku akan memberimu kabar!, jadi sekarang ini dia tidak ada disini, karena kemarin dia izin untuk tidak berangkat selama beberapa hari ke depan!" ucapnya menjelaskan pertanyaan Evan tadi.


"Apa dia sakit?" tanya Evan.


"Tidak, dia mengatakan jika dirinya akan berkunjung ke desa orang tuanya atau mungkin saja keluarga Henry sedang mudik!" ucapnya murid tersebut.


"Ouh..., jadi kemungkinan dia sedang ada di perjalanan kesana sekarang, oke terimakasih untuk waktunya!" ucap Evan seraya berbalik badan setelah Murid tersebut menjawabnya.


"Ya, sama-sama."


Tak lama, bel Sekolah pun berbunyi. Evan yang masih di lantai atas kelasnya bergegas menuju ke ruang kelas segera, ia sendiri mempercepat langkahnya.


Di dalam kelas Evan sempat berpikir untuk mencari petunjuk dengan bertanya langsung ke guru yang memiliki hobi berpetualang. Lalu ia hanyut ke dalam lamunannya seakan dia sendiri tidak sedang di dalam kelas, karena Evan terlihat sangat serius akan suatu hal.

__ADS_1


Rahel menoleh ke arah samping kanan, dia melihat Evan yang sedang menyangakan dagunya seperti sedang melamun.


Hingga Rahel beranjak pergi mendekati Evan lalu ia menyapanya.


"Hallo..., uhm... bagaimana kabarmu Evan?" tanya Rahel dia tersenyum ke arah Evan sembari sedikit membungkukkan badannya.


Evan tidak merespon Rahel sama sekali, hingga Rahel terlihat membulatkan pipinya. Tak lama ia pun mendapatkan suatu ide untuk menjahili Evan.


Dalam pikiran Evan.


"Menurutmu apakah Patansaa adalah orang yang terlibat juga dalam kejahatan kepada anak-anak maupun para gadis-gadis yang di tahan di sana(hutan Dark forest markas)?" tanya Evan kepada dirinya sendiri.


"Hey tentu saja dia adalah orang yang terlibat dalam kasus kejahatan perdagangan manusia , walaupun dia menceritakan kisahnya dan agak seperti dia yang menjadi korban dalam cerita, namun jangan anggap semua yang dia katakan itu adalah fakta. ingat ada udang di balik batu!' ucap dirinya yang lain dalam khayalan di pikirannya.


"Hmm, benar juga jika saja dia berbohong maka dia pasti bermaksud menyembunyikan sesuatu. dari informasi yang Sein dapat Patansaa memang pemimpin organisasi tapi kenyataannya dia hanya menjadi bonekanya Priyan saja atau penasehatnya sendiri, yang tak lain pemimpin dari organisasi mereka memiliki pemimpin lebih dari satu, Sein juga mengatakan bahwa dia bernama Peruchen!"Menjelaskan informasi yang didapat.


"Kalau begitu Priyan mengunakan identitas palsu bukan, dia mengaku dirinya adalah Peruchen si pemimpin asli, tapi untung saja Sein mendapatkan identitas aslinya jadi..., dia bukalah Peruchen!, Itu juga menjawab mengapa beberapa ahli beladiri ada yang menghilang tanpa jejak. yang mungkin saja mereka tidak tertangkap oleh polisi dan anak buahnya Franlate juga sama. pastinya karena mereka sudah kabur dari area itu bersamaan dengan pemimpin organisasi yang asli, oh ya ngomong-ngomong kenapa kita membicarakan ini?, bukannya kau akan menguak misteri bangunan di hutan Dark forest ya."


"Hey kamu ini adalah diriku."


Ada suara di dalam lamunan Evan seperti berusaha memanggil dirinya suara tersebut lama-lama terdengar jelas. Hingga Evan bertanya kepada dirinya.


"Benar suaranya juga tidak asing,(terkejut) tunggu itu kan suara Rahel!!!"


...****************...


Evan pun akhirnya sadar dari lamunannya dan Rahel sendiri sudah ada di samping Evan, dia sudah duduk di dekat Evan dari tadi.


Evan menoleh sedikit ke samping lalu ia pun kaget.


"Eh, Rahel kamu sedang apa disini?" Evan pun gugup.


"Hmm, aku disini cuma mau melihatmu saja Evan!" ucap Rahel terus terang dengan tatapan yang dekat dengan Evan.


Hati Evan berdebar saat Rahel mengatakan hal itu kepadanya.

__ADS_1


Hingga Evan salah tingkah di buatnya.


"Oh, ya ngomong-ngomong kamu tadi terlihat sedang asyik melamun, apa kamu sedang memikirkan sesuatu ya?"tanya Rahel yang masih menatap Evan.


Evan mengaruk rambutnya yang tak gatal lalu menjawab perkataan Rahel.


"Aku memang sedang memikirkan sesuatu Hel, tapi aku tidak menyangka jika aku terlihat seperti seorang sedang melamun!" ucap Evan sambil menyangakan dagunya dengan lengan kanan yang menoleh ke arah samping atau keluar jendela


"Mmm, kamu memang selalu begitu ya Evan!" ucap Rahel.


"Hah?, apa aku terlihat konyol tadi? " Evan menanyakan kembali.


"Enggak kok, kamu jadi terlihat seperti seorang CEO yang sedang berpikir serius, dan ku kurasa jika kamu masuk ke klub teater pasti langsung di terima!" ucap Rahel dia menyarankan Evan supaya ikut klub teater karena kebiasaan Evan yang kadang melamun di pagi hari menurutnya.


Tempat duduk Evan sekarang berada di dekat jendela semenjak hari Sabtu di ubah tempat duduk oleh wali kelas secara(rolling). Jadi sekarang Evan agak jauh duduk dari Rahel yang sebelumnya sangat dekat.


"Aku berpikir jika Rahel agak berubah dari biasanya, kenapa ya, apa dia sedang dalam mood yang baik, huh.. entahlah,"Ul ucap Evan dalam hatinya.


Para murid yang ada di dalam kelas nampak sedang berbincang-bincang, sambil menunggu guru mata pelajaran pertama yang belum datang.


Rahel melanjutkan pembicaraannya dengan Evan. Rahel sendiri duduk di dekat Evan dengan membawa kursi lebih yang ada di belakang.


"Evan kamu tadi bersama Sherly Nya menuju perpus?" menanyakan hal yang Rahel liat tadi pagi, yang ia sendiri melihat Evan.


"Iya, tadi pagi aku bersamanya untuk pergi membaca buku di perpustakaan, karena mulai sekarang aku harus membiasakan diri!" ucap Evan.


Lalu Rahel bertanya dengan wajahnya agak cemberut.


"Membiasakan apa Evan?" tanya Rahel.


"Membiasakan untuk berangkat pagi dan menyisikan waktu untuk membaca buku itu lebih berguna dari yang aku kira!" jawab Evan.


Rahel termangu mendengar ucapan Evan.


Ketika sedang asyik mengobrol, guru pun datang.

__ADS_1


"Apa kabar semua, apa kalian semangat untuk mengawali pembelajaran hari ini?" tanya pak guru dengan senyumnya.


Murid-murid pun heboh menjawabnya, saking seriusnya dalam memulai pembelajaran dari pak guru yang bernama Pak Andy guru mata pelajaran Indonesia, dia sangat di kagumi dan di hormati oleh murid-muridnya karena logat bicaranya yang menarik dan berbeda dari guru-guru lainnya.


__ADS_2