
Beberapa hari kemudian Evan dan juga salah satu guru mengunjungi kediaman Airin untuk menjelaskan kepada kedua orang tuanya, perihal kronologi kejadian yang dialami oleh putrinya. Dengan nada pelan dan jelas guru menjelaskan semuanya di depan kedua orang tua Airin, sampai di tengah cerita Ibu Airin yang tak kuasa dengan apa yang dialami oleh putrinya, dibuat menangis tersedu-sedu mendengar kejadian yang selama ini putrinya alami, namun dia sebagai orang tuanya tidak mengetahui dan membantunya.
Beda dengan Ayah Airin dia sangat tegar ketika guru menceritakan kronologi kejadian tentang putrinya. Mala Ayah Airin mencoba untuk menenangkan istrinya sambil memeluknya sembari menuangkan kata-kata yang dapat meringankan beban yang dirasa oleh istrinya.
Pada saat yang sama Airin rupanya sedang berada di kamarnya, lalu Evan meminta izin kepada kedua orang tua Airin untuk menemui Airin. Setelah istrinya tenang keduanya pun mengizinkan Evan untuk menemui putrinya, sedangkan Ibu guru mencoba yang terbaik untuk membuat kedua orang tua Airin tetap kuat menerima kenyataan ini.
Evan melangkah maju kedepan menuju sebuah tangga di depannya. Ia pun naik dengan kedua lengannya menyangga sedikit di sampingan tangga. Di depan kamar Airin Evan berhenti sejenak karena rasa bersalah yang dirasanya, hingga selang beberapa waktu lalu Evan baru mengetuk pintu kamar Airin.
Tok...tok..
Saat Evan mengetuknya tidak terdengar suara dan jawaban dari dalam. Hingga ada suara gaduh yang terdengar dari dalam, tanpa berpikir panjang Evan langsung mendobrak pintu kamar tersebut dan pada saat itu dirinya melihat Airin yang sedang melakukan percobaan bunuh diri dengan mengantungkan tali di langit rumahnya.
Suara gaduh tadi adalah suara kursi yang jatuh kesamping akibat dorongan kaki Airin, dan disaat itu pula Evan mendapati Airin terjerat tali di lehernya. Spontan Evan langsung mengambil suriken dari dalam sakunya dan berusaha melemparkannya ke arah tali yang menggantung.
Srekkk..
Brakkk
Airin pun jatuh setelah suriken yang Evan lempar mengenai ujung tengah tali. Tapi di saat bersamaan Evan meraih dan langsung menangkap Airin di momen jatuhnya.
Suara gaduh dari atas rupanya terdengar oleh kedua orang tua Airin maupun Ibu guru yang ada di bawah.
Pada saat terdengar suara gaduh Ayah Airin sempat mendengarnya dan langsung menuju ke atas untuk melihatnya.
Melihat tali dan juga kursi tergeletak serta Evan yang masih merangkul Airin, Ayahnya langsung menghampiri putrinya.
Momen ini sangat mengharukan, karena Ayah Airin menangis sejadinya.
Hampir saja seorang putri kesayangannya pergi tuk selamanya.
Dengan nafas tersengal Airin rupanya masih dalam kondisi sadar selepas beberapa saat tali yang mencekik lehernya.
__ADS_1
"Jika saja aku telat maka nyawa Airin akan melayang." Ucap Evan dalam hatinya sambil melihat Ayah Airin menangis di depannya.
"Hiks.. maafkan Ayah yang tidak bisa menjagamu dengan benar hiks.. maafkan Ayah yang selama ini terlalu memaksakan kehendak.."
Evan mengambil suriken yang ia lempar tadi dan mengambilnya dari lantai, karena berada di tempat yang rawan.
Airin seakan terdiam dia mencoba menahan air matanya.
Melihat buku dengan sampul menarik lalu Evan mengambil dan membacanya.
Ibu Airin dan juga guru sudah berada di kamar Airin setelah beberapa saat di menaiki anak tangga.
Sama dengan suaminya Ibu Airin juga menangis lalu menghampiri putrinya dengan memeluknya.
Terjadi beberapa percakapan diantara Ibu dan juga Airin.
Sementara Evan masih membaca buku yang dia ambil tadi. Membacanya dengan cepat sampai akhir buku.
Selang beberapa waktu Airin di bawa pergi ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan. Evan tidak sempat untuk berbicara dengannya saat dia di bawa pergi, akan tetapi Evan percaya jika masih ada banyak kesempatan baginya untuk mengobrol dengan Airin setelah dia pulang dari sana.
Tinggal pembantu rumah, Evan dan juga Ibu guru di rumah Airin.
"Saya memang tidak mengetahui kejadian pastinya tapi saya sangat berterimakasih kepada anda yang sudah berkenan membantu keluarga kami!" Ucap kepala pelayan keluarga sambil menundukkan kepalanya.
"Aku cuma bisa membantu sebisaku pak dan itu semua berkat guru yang sudah membimbing ku!" Jawab Evan.
"Saya sebagai gurunya juga merasa bersalah karena telah lalai dengan murid didik saya, jadi saya juga meminta maaf kepada keluarga kediaman sebesar-besarnya!" Ucap Ibu guru seraya menundukkan kepalanya.
Di dalam mobil Bu Hia memulai obrolan dengan Evan mengenai percobaan bunuh diri yang Airin lakukan.
"Sebenarnya Ibu sangat sedih dengan semua kenyataan yang dialami oleh Airin, tapi semua itu dia lalui sendiri sampai dia tidak tahu harus bagaimana lagi menanggung bebannya!" Ibu Hia meluapkan perasaannya langsung kepada Evan tentang Airin, terlihat air mata di wajah Bu Hia.
__ADS_1
"Bukan hanya Ibu saja, aku juga sama. merasakan rasa sedih yang amat mendalam di hatiku seperti pisau yang menyayat di hati." Kata Evan.
"Eh.." Bu Hia menoleh ke arah Evan sedikit terkejut dengan kata-katanya.
"Ya, aku adalah temannya yang selama ini tidak tau apa yang dia alami saat itu, aku sendiri jarang berkunjung kerumahnya dan tidak mengetahui jika rumahnya pindah sekarang!"
"Ibu mengerti kamu merasa bersalah karena hal tersebut, wajar bagi kamu yang merasa bersalah terlepas dari semua yang sudah dialami oleh Airin." Kata Bu Hia.
"Meskipun begitu aku tidak tahu bagaimana cara meminta maaf kepadanya nanti, bahkan aku malu untuk layak bertemu dengannya!"
"Evan.. kamu orang yang sudah menyelamatkannya kan?"
"Hah.. iya" mengingat kembali pada saat ia melemparkan suriken.
"Berarti kamu sudah bisa melawan rasa itu... dan ibu nyakin kamu bisa melakukan lagi untuk yang kedua kalinya!" Ucap Bu Hia seakan wajahnya berseri.
"Ibu Hia benar.. saat di depan kamar Airin aku merasakan hal yang sama saat ini, namun bedanya saat itu aku mala melawannya, sehingga pada saat yang tepat ketika suara gaduh terdengar aku langsung sigap masuk dengan mendobrak pintu kamar Airin. jika saja aku hanyut dalam lamunan rasa penyesalan maka akan berbeda cerita dari sekarang." Ucap Evan dalam hatinya.
"Baik, sekarang aku mulai bersemangat lagi."ujar Evan penuh semangat.
"Ara.. Ibu senang melihatnya"
"Ini berkat nasehat Ibu aku jadi bisa melawan rasa penyesalan serta rasa bersalah dalam diriku, aku sangat berterimakasih kepada Ibu!" Ucap Evan dengan senangnya.
"Iya sama-sama, ini sudah kewajiban Ibu sebagai guru!"
Dalam perjalanan tersebut Evan dan Bu Hia mengobrol bersama sepanjang jalan.
Tapi di saat itu Evan jadi teringat tentang Erik yang meminta bantuan kepadanya.
"Aah iya, aku jadi lupa jika aku ada janji untuk menjadi pelatih klub basket sementara!" Gumam Evan. Ucap Evan sambil memegang rambutnya dengan kedua tangannya.
__ADS_1
Bu Hia lalu menoleh kearah Evan dengan tatapan keheranan.