
POV Evan
Aku sadar, jika hidup seperti ini tidaklah baik, meski saat ini aku hidup bahagia. Setelah lulus SMA, aku memiliki kemauan untuk berkuliah. Lebih tepatnya mengambil jurusan IPA sesuai dengan cita-cita ku.
Tahun kedua aku menikah dengan seseorang, dia adalah Rahel. Meski banyak konflik dan pertengkaran yang aku lalui tapi... aku nyatanya dapat melewatinya.
Sementara Rose dia sendiri memilih untuk menyerah mengejar ku. Aku tahu jika itu menyakitkan, aku bahkan ingin sekali menikahinya juga, namun Rose menolaknya.
Dua bulan setelah aku menikah dan aku masih melakukan rutinitas sehari-hari dengan baik. Bedanya, sekarang ini hidupku lebih bahagia dan berwarna.
Setiap harinya rasanya seperti mimpi, meskipun aku memang sedang bermimpi. Bersama Rahel menjalin hubungan asmara tuk selamanya.
•••
Ketika aku bangun, ternyata aku mendapati diriku yang berada di sebuah rumah sakit. Aku tidak kaget sama sekali, bahkan di momen seperti ini. Karena aku sudah mempersiapkan segalanya dari awal.
Seseorang lalu mendekat kearah ku, dan dia sepertinya adalah Ayahku. Terlihat dia menangis sendu ketika menatapku.
__ADS_1
Apa aku tertidur sudah sangat lama ya? Aku harap aku hanya tidur beberapa hari atau seminggu saja.
"....."
Ayahku masih diam tidak berkata, dia terus memelukku dengan erat. Membuatku semakin penasaran tentang berapa lama aku tidur.
"Yah..? Aku mau tanya. Beberapa lama aku tertidur?"
Mendengar ucapanku mata Ayah membola. Mulutnya mulai terbuka dan akan mengatakan sebuah jawaban kepadaku.
"43 tahun...? Apakah sudah selama itu, aku kan hanya tidur dan bermimpi! Yang didalamnya seperti bertahun-tahun. Tapi mengapa sangat lama sekali aku tertidur?" Dan ayah, kenapa ayah masih begitu muda? Ayah pasti berbohong kepadaku kan?" ucap ku penuh akan pertanyaan kepada ayah, rasanya seperti tersambar petir di siang bolong.
"Kejadiannya bermula saat kamu meminum ramuan Sains mu, kamu menyembutnya ramuan "tidak pernah menua" yang kejadiannya sudah bertahun-tahun berlalu."
"Lalu mengenai ayah yang tidak menua karena... efek meminum ramuan mu. Saat itu ayah merasa sangat bersalah, sampai ayah memutuskan untuk meminumnya juga!" ujar ayah.
"Karena ramuan mu masih belum sempurna, ada efek khusus di dalamnya. Mereka yang meminumnya akan mengalami pembekuan dalam diri, membuatnya jadi tertidur dalam jangka waktu yang sangat lama dan sulit untuk di bangunkan,"
__ADS_1
"Tapi aku bermimpi di dalamnya, seperti halnya kehidupan nyata!?"
"Sebenarnya mimpi mu mungkin ada hubungannya dengan apa yang ayah bacakan selama ini, karena ayah selalu membacakan sebuah cerita kepadamu. Meski kamu tertidur, tapi ayah yakin. Kalau kamu pasti mendengarnya."
"Mendengar!? Aku sama sekali tidak mendengarnya, tidak sama sekali. Mala mimpi ku itu bisa aku atur didalamnya!"
"Yang ayah tau, kamu pasti mengalami Lucy dream."
"Lalu bagaimana dengan Ibu dan Lili? Apa mereka...?"
"Maafkan ayah Evan, yang tak bisa menjagamu dan Lili dengan baik. Lili sebenarnya sudah tiada, karena mengalami kecelakaan maut. Lalu, setelah itu... "
Suasana hening seketika menyelimutiku, Ayah menundukkan kepalanya seperti berat sekali untuk melanjutkan bicaranya. Tapi untuk saat ini dia begitu tegar dan tidak menangis lagi.
"Ibumu memilih bunuh diri. Setelah kematian Lili yang tidak lama!"
Mental dan jiwaku hampir terguncang mendengar hal itu dari Ayah. Namun aku menahannya dengan menghirup udara dalam-dalam, lalu aku hembuskan.
__ADS_1