
Rose masih saja memperhatikan Evan, berharap ada sesuatu yang membuat rasa penasarannya menghilang.
Dalam pikirannya terbayang seseorang yang tidak mempunyai teman. Yang pada akhirnya ia sendirian tanpa seorang kawan.
Rose pun menepis pikiran itu dari benaknya.
"Huh..., apaan sih. apa aku terlalu kebanyakan baca manga," ucap Rose dengan suara kecil bertanya-tanya pada dirinya.
Sesaat setelah ia menghilangkan bayang-bayang dalam dirinya. ia pun kembali mengintip Evan.
Namun tak di sangka dia sudah tidak ada disana.
"Eh?, nko dia ngga ada..," ucap Rose dengan ekspresi bingung seraya lebih menunjukkan dirinya.
Tiba-tiba dari arah belakang. Evan mengangetkan Rose dengan ucapan.
"Sedang apa kamu ini?"
"Kyaa..," Rose agak berteriak sedikit.
Matanya melotot dan mau tidak mau ia harus memberanikan diri melihat kebelakang.
Ia pun berbalik badan. Dan menatap wajah Evan yang sedang tertuju ke arahnya.
"Eh, kenapa dimatanya ada air mata, apa dia menangis," ucap Evan dalam hatinya.
__ADS_1
"Kenapa cewe cantik sepertinya bisa ada disini. apa mungkin..,"
**
Melalui pertemuan itu, mereka berdua akhirnya memutuskan untuk berkenalan satu sama lain.
Meski beberapa Minggu yang lalu mereka sempat bertemu, dan akan saja memulai perkenalan. Dan sekarang tiba waktunya bagi mereka semenjak perkenalan waktu itu tertunda.
Tunggu!, kamu.." keduanya mengucapkan kata yang sama.
Keduanya merasakan perasaan yang sama, yaitu tidak asing saat perkenalan mereka.
Beberapa waktu mereka habiskan disana, untuk mengobrol bersama di Taman. Dan membicarakan banyak hal mengenai nilai kehidupan, yang salah satunya membahas tentang pertemuan mereka waktu itu. Seperti halnya takdir yang terlah mempertemukan mereka kembali.
Ada waktu di mana Rose bercerita kepada Evan mengenai kehidupannya yang berubah. Evan pun dengan senang hati mendengarkan segala curhatan isi hati Rose.
Evan mencoba menenangkan diri Rose yang terlihat menunduk sembari menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Tangisan Rose mengingatkan Evan kembali di kala ia berdebat dengan Ayahnya.
"Hey!, wajah cantik mu itu tidak cocok saat kau menangis. biarkan saja kejadian itu berlalu, dan kau dapat memulainya kembali. karena masa masih ada kesempatan untuk mu memperbaiki kesalahan,"
Rose terdiam sesaat.
Tanpa ragu Rose memeluk Evan sebagai rasa terima kasihnya.
__ADS_1
Awalnya Evan berniat untuk mencegahnya, namun hati kecilnya berkata lain. Ia pun membekap Rose agar dia pulih kembali.
Dekapan Evan membuatnya nyaman.
"Jadi seperti ini memiliki seorang kekasih," batin Rose.
"Apa kamu sudah baikan?, sekarang ini aku akan pergi," ujar Evan.
"Nggak!, kamu ngga boleh pergi," ucapnya dengan mengengam erat dekapan Evan.
Evan memasang wajah melas, mengetahui betapa rapuhnya Rose.
Setelah sadar Rose merasa malu dengan dirinya.
"Apa yang kulakukan?, ini sungguh sangat memalukan. apalagi di depan laki-laki,"
"Tapi dia sama sekali berbeda dengan para cowo lain. sikapnya begitu baik," ucap Rose dalam hatinya yang melihat Evan sedang merapikan secarik kertas.
Kertas tersebut berisi data Sains milik Evan.
**
Dan kebetulan sekali besok Rose akan pindah kota. Dia ikut dengan kedua orangtuanya karena urusan kerja.
Mau tidak mau ia pun harus pindah Sekolah dan meninggalkan kampung halamannya untuk sementara.
__ADS_1
Pertemuannya dengan Evan mengubah diri Rose menjadikan wanita yang kuat.
Mereka berdua pun berpisah. Dan Evan terpaksa harus berjanji dengannya.