
Kini perempuan cantik yang mengenakan gaun merah yang ada di dalam kamar Evan, duduk sembari berpikir apa yang akan dia lakukan sembari menunggu kedatangan Evan.
Tampaknya dia sengaja untuk tidak meminta bantuan dari pihak hotel. Agar ia dapat leluasa melakukan sesuatu disana. Padahal dia sendiri membawa ponsel dan bisa saja ia gunakan untuk meminta bantuan kepada staf hotel.
Sampai-sampai ia melamun sejenak, membayangkan Evan pada saat ia sedang serius. Rona merangkak naik di wajahnya dan berubah menjadi rasa kagum.
Ia sendiri duduk di kasur sambil menyangga dagunya dengan satu tangan.
Meski dia tidak pernah bertemu lagi dengan Evan setelah kejadian waktu itu, tapi.. ada satu hal yang membuatnya mengetahui berbagai kehidupan Evan. Bahkan keseharian Evan walaupun secuil.
**
Perempuan cantik itu bernama Rose dia seorang siswa kelas 12 SMA Butterfly. Sekolah elit bagi para siswa bertalenta terutama bagi kelas bangsawan.
Memiliki wajah cantik dan kulit putih bersih tidaklah membuatnya senang. Pasalnya ia merasa bosan atau intropet kepada teman-temannya.
Sifat Rose sangat berbeda dari kebanyakan cewe lain, dia nampak seperti otaku dengan sifat polosnya.
Selama di Sekolah ia seringkali di goda oleh para cowo yang secara langsung bertemu dengannya. Baik di koridor maupun di Kantin, selalu.. saja ada dari mereka yang menggoda Rose.
__ADS_1
Dalam hatinya dia merasa jengkel kepada para cowo yang tak segan-segan mencarinya dan menyatakan perasaan kepadanya.
Sama seperti sebelum-sebelumnya, Rose masih saja menolak mereka mentah-mentah.
Selain itu ia memiliki teman yang banyak, dan tidak sedikit dari mereka yang membencinya karena merasa iri dan kalah saing dengannya.
Terutama para cewe yang tidak suka dengan sifatnya yang menurutnya Rose adalah cewe bermuka dua.
**
Sampai suatu hal yang membuat menjalani proses pembelajaran nilai kehidupan.
sama sekali. Mala sering menyapa dengan kata-kata manis kepada Rose.
Semuanya di mulai ketika ia berubah pendirian. Pendiriannya yang ingin mencari ketenangan sejenak.
Akhirnya ia berubah menjadi cewe yang acuh kepada teman-temannya. Baik cowo maupun cewek. Ia pikir itu adalah jalan terbaik untuknya, daripada di hantui oleh rasa bersalah.
Tapi lama kelamaan, sebagian teman-temannya yang dulu berada di sampingnya kini beralih membencinya. Bahkan teman cewek di kelas seakan enggan berbicara dengannya, mereka hanya menyapa dan berkata sepatah kata.
__ADS_1
Berada dalam posisi itu ia akhirnya sadar, bahwa apa yang selama ini ia lakukan ternyata salah. Dan mala berakibat kepadanya.
Sehingga benturan-benturan mental menghantuinya dan membuatnya larut dalam kesedihan.
Untung saja teman baiknya selalu ada ketika Rose dalam kondisi tertekan. Dia selalu mendukung dan menjadi teman setianya, serta menjadi tempat ia meluapkan segala keluh kesahnya.
Tidak ingin larut dalam kesedihannya, ia pun berpikir untuk keluar rumah. Guna menenangkan pikiran dan batinnya.
Menuju ke sebuah taman dekat pepohonan sakura yang sedang bersemi. Dan kebetulan sekali disana sangat sepi sehingga ia dapat menenangkan diri disana.
Sampai ia melihat seseorang yang sedang duduk di bangku taman, sembari menulis pada secarik kertas.
Dia ternyata Evan yang kebetulan sedang ada di sana.
"huh, siapa pria itu?, keliatannya dia sendirian disana," ucap Rose yang memandang pria itu.
Karena rasa penasarannya, ia pun memperhatikan Evan dari jauh sambil bersembunyi di balik pohon sakura. Layaknya dia sedang mengintip.
Dia melihat ekspresi Evan yang senang dengan setengah senyumanya.
__ADS_1
Dedaunan yang jatuh membuat pemandangan indah saat ia memperhatikan Evan.