
Penasaran dengan perempuan yang ia lihat, Ken pun memutuskan untuk menghampirinya.
"Maaf!, apa saya boleh duduk disini?" seru Ken ketika menghampiri Iyumi atau Ibunya Rose.
Iyumi langsung saja menatap Ken. Matanya terlihat sedih dan sembab ketika Ken lihat, air matanya bahkan mengalir di pipinya. Membuat Ken menaikan alisnya saat memandangi Iyumi.
Sembari berkata Iyumi mengusap bulir air mata di wajahnya.
Ken faham betul mengapa perempuan yang ia lihat sedang menangis di ruang tunggu, bisa saja karena keluarga atau sanak saudaranya sedang terkena musibah atau mungkin saja karena menjenguk orang lain.
"Ya ampun..., cantik sekali perempuan ini!, bahkan ketika dia menangis, dia bisa membuat ku terpana," ucap Ken yang jujur kepada isi hatinya.
"Boleh!, silahkan." sahut Iyumi mengenai ucapan Ken tadi, sembari mengusap air matanya.
Mendapatkan sebuah ide di kepalanya, Ken mencoba untuk lebih dekat lagi dengannya dengan mengajaknya gobrol dan sambil bertanya-tanya.
Tak lupa Ken juga berusaha menghibur Iyumi agar dia tidak berlarut-larut dalam kesedihannya.
Ken sebenarnya lupa dengan tujuannya kemari. Entah mengapa, setelah melihat Iyumi, Ken seakan terpanah oleh busur asmara yang membuatnya di mabuk cinta. Pada pandangan pertama.
Iyumi menceritakan tentang Rose bagaimana dia bisa berada disini. Apalagi setelah mendapatkan kabar lain yang tak kalah juga membuatnya berkuduk ngeri. Bahkan Iyumi tidak bisa membayangkan semua ini akan terjadi.
Hingga ada ucapan Iyumi yang membuat Ken kaget, dan baru saja ia ketahui, sewaktu Iyumi menjelaskannya kepada Ken. Dan Iyumi berkata.
"Anakku bahkan tidak pernah menyakiti orang lain, tapi.. mengapa? ada orang yang mencelakainya."
"Begitulah, musibah memang sulit di prediksi, kapan waktu datangnya tiba!"
__ADS_1
Ternyata perempuan yang Ken sangka seperti kakak kelasnya adalah seorang Ibu beranak tunggal. Ken yang mendengar ucapan Iyumi pun bingung, sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Sekali lagi Ken bertanya kepadanya untuk memastikannya lagi.
"Apa benar mba sudah punya anak?"
"Iyaa," jawab Iyumi, saat ini suasana hatinya membaik dan kesedihannya pun sudah berkurang.
"Uhm, panggil Ibu aja gapapa, soalnya Ibu nga enak kalau kamu manggilnya mba!"
"Iya.., tapi Ibu terlihat masih muda. saya yang melihat Ibu saja tidak menyangka, bahwa Ibu sudah punya anak. mala tadi saya mengganggap Ibu sebagai senior saya."
"Makasih ya nak, dan terimakasih kamu sudah memberi ibu motivasi."
"Sama-sama, lagi pula sudah kewajiban kita menolong seseorang."
Dari kejauhan, Ayah Evan melihat Ken dan Iyumi yang mala membuatnya berpikiran jika mereka terlihat mesra.
Memang tidak bisa di pungkiri, seorang Ibu yang sudah memiliki anak masih terlihat muda dan begitu cantik.
"Isstt, apa selera anak muda jaman sekarang berubah ya?" ucapnya dalam hati
Sekarang ini Ayah Evan masih berbicara dengan istrinya melalui sambungan seluler.
"Hallo yah!"
"Iya-iya, aku faham!. nanti aku akan bicarakan kepada Ayah setelah semua ini."
__ADS_1
"Ya udah.., mami tutup dulu ya.."
"Iya sayang."
"Papa udah tua ya.. masih manggil sayang-sayang."
"Ya kan sekali aja mah, sekali-kali. gapapa kan?"
"Iya deh terserah!"
Menjumpai mereka, Ayah Evan pun berdehem saat itu juga.
"Ehem!"
Seketika Ken dan Iyumi terkaget.
Di kala itu Ayah Evan membicarakan lagi obrolan tadi yang sempat terpotong dengan Iyumi, karena Ibu Evan menelponnya. Ayah Evan membahas lagi mengenai musibah yang menimpa Rose, putri satu-satunya Iyumi. Seperti bertanya data tentang anaknya atau hal lain yang berhubungan dengannya.
Saat ini Sein bersama dengan pihak kepolisian. Ia sedang menjelaskan, kronologi kejadian tadi secara jelas di kantor.
Karena masih ada yang janggal menurut perspektif penyidik, saat melakukan analisa di sana.
Dan sekarang ini rumah mewah dan megah yang letaknya tersembunyi, sudah di beri garis polisi.
Bahkan sebagian anggota polisi yang di sana masih mengejar pelaku yang sempat kabur.
Pada saat proses menyatukan kulit tangan Rose, Evan memilih menyerahkan tugas tersebut kepada yang ahlinya. Meski dia sendiri sudah lumayan mahir dalam melakukannya. Karena Evan dulu sempat mengikuti program kimia fisika, di salah satu laboratorium di kotanya.
__ADS_1
Hingga berjam-jam lamanya proses operasi. Evan masih belum keluar dari sana.