Ayah Yang Tak Pernah Menua

Ayah Yang Tak Pernah Menua
Hal yang Seharusnya Tidak di Lakukan


__ADS_3

Lukisan yang Rahel tunjukkan menggambarkan adegan seseorang yang hendak menyatakan cintanya kepada sang kekasih. Sambil memberinya sebuah bunga.


"Uhm..gini, lukisan ini sepertinya menggambarkan kisah romantis diantara mereka berdua," ucap Evan.


Di akhir ucapan Evan, Rahel terlihat agak sedikit cemberut.


"Iyaa, kamu benar," ucap Rahel murung dan mengecilkan suaranya.


Evan tidak menyadari maksud Rahel tersebut, sehingga membuatnya terlihat tidak peka.


Ketika mendekati Rahel dan akan berkata kepadanya. Evan tiba-tiba di panggil oleh Ken.


Lantas Evan pergi untuk menghampirinya, sedangkan Rahel masih terlihat sama.


"Sepertinya, ada perkataanku yang kurang enak sehingga membuat Rahel terlihat murung begitu," ucap Evan dalam hatinya.


Ken lalu berkata kepada Evan.


"Ev, sebenarnya aku juga sama denganmu, aku juga curiga dengan salah satu orang. mala tadi aku menyuruh seseorang untuk mencari keberadaan orang yang tadi aku curigai," ucap Ken membicarakan tentang orang yang ia curigai.


"Tunggu, bagaimana ciri orang tersebut, apakah kita mencurigai orang yang sama?" Evan bertanya kepada Ken.


"Dia membawa sebuah koper aneh," ucap Ken sambil mengingat orang tersebut dalam gambaran pikirannya.


"Hmm, orang itu pernah aku lihat sebelumnya, aku sih waktu itu curiga. tapi aku pasrahkan kepada bagian keamanan saja. dan sekarang aku sedang curiga kepada seseorang yang mengaku sebagai meteolorog, sewaktu kita berada di resto," jelas Evan panjang lebar.


"Begitu ya, oke aku akan menyuruh bodyguard khusus untuk menyelidikinya," ujar Ken.


Setelah bercakap-cakap Evan dan yang lain pun masuk kedalam lift.


Karena sebelumnya Ken sudah chek in, maka temannya bisa langsung saja menuju kamar bookingan.


Di lantai paling atas lift pun berhenti, mereka lalu lanjut jalan. Hingga datang Bell boy seseorang yang bertugas membantu tamu hotel, mulai dari mengangkat tas koper, membersihkan kamar, membelikan sesuatu, dan tugas-tugas lainnya yang bersifat melayani.


Dengan senyum ramah ia bercengkrama dan mengantar setiap tamu hotel.


Perempuan dan laki-laki pun berpisah karena beda kamar.


Di perjalanan menuju kamar hotel, Hyouga menyangakan kepalanya sambil berkata.


Sedangkan Ken, Hyouga, dan Bas berada di depan. Lalu Evan dan Rafael serta Erik di belakang.


"Ini untuk yang kedua kalinya aku masuk ke hotel, sepertinya tidak buruk juga aku ikut," ungkap Hyouga.


"Heeh..heeh aku mempunyai maksud tersendiri tau," ucap Ken dia mengatakan dengan jelas kepada Hyouga dan Bas.


"Itulah mengapa aku membenci dirimu Ken!" umpatan dari Hyouga.


"Kedengarannya bukan sebuah ancaman," gumam Ken.

__ADS_1


"Mungkin maksud Ken sama halnya dengan marketing, yang jika ia ikut membantu pihak hotel mendapatkan tamu, maka ia akan di beri uang bonus!" terang Bas kepada keduanya.


"Bukannya aku yang chek in, itu artinya aku yang membayar kan," Ken menyangkal ucapan Bas dengan sebuah bukti.


"Yah, kamu benar. Memang kau lah yang membayar, namun jumlah uang yang kau keluarkan lebih kecil di bandingkan dengan bonus yang akan kau dapat!"


Ken pun terdiam.


"Apa benar begitu Ken, hmm ternyata kau licik juga!"


"Entahlah, kalian tidak tahu," balas Ken.


Pada jam 15:07 cuaca tampak mendung disertai hujan yang cukup lebat. Dan sudah berlangsung lama dari tadi.


Namun Evan berpikiran tentang badai, ketika ia memandang jendela ke bawah.


Evan masih mengingatnya, pada saat di resto tadi. Seorang meteorolog yang mengatakan jika akan ada badai yang menuju kemari( area pantai). Tapi nyatanya nihil, dan tidak terjadi apa-apa sama sekali ataupun pertandanya.


Di kamarnya, Evan merasa bosan. Walaupun saat ini ia sedang chat-tan dengan Rahel.


Evan pun memutuskan pergi menuju ke lift untuk pergi mencari informasi tentang seorang meteorolog.


Sementara yang lain sedang menikmati masa-masa santainya atau beristirahat.


Pada waktu Ken akan menugaskan para bodyguard untuk membantu Evan mencari tahu orang yang di curigai, Evan menolaknya. Dia mengatakan jika itu membuang- buang uang saja.


Evan keluar kamarnya dan meninggalkan hotel dengan pakaian berbeda.


Meski Evan sempat di halang oleh keanggotaan hotel untuk mematuhi larangan keluar, karena cuaca buruk. Akan tetapi Evan tetap gigih untuk keluar.


Alasan khusus ia buat agar dapat melewati rintangan tersebut, anggapan Evan terhadapnya.


Di luar suhunya sangat dingin.


Di luar sekarang tidak tampak ramai seperti biasa, hanya ada beberapa orang yang bertugas saja.


Evan berjalan melewatinya dengan santai. Sambil melihat rintikan hujan yang turun.


Memasuki sebuah tempat yang transparan di sebelah samping kanan dan kirinya. Evan berjalan sambil memasukkan kedua telapak tangannya ke saku jaketnya.


Langkah Evan terhenti, ketika ia mendapati sebuah telpon. Yang rupanya dari Sein.


"Hallo Ev, bagaimana kabarmu di sana?"


"Iya, kabar ku disini baik-baik saja. meski liburan kali ini terganggu oleh cuaca yang terbilang ekstrim!"


"Heeh, tapi kamu pasti sempat bersenang- senang bukan. yaa.. itu ada baiknya juga,"


"Cukup menyenangkan bagiku yang seorang kutu buku, meskipun hanya beberapa saat aku bersenang-senang,"

__ADS_1


"...aku harap kamu dapat bersenang-senang lagi disana. Karena masa SMA adalah masa yang akan kamu rindukan ketika kelak kamu besar nanti,"


"Begitulah maknanya, jika dikaitkan dengan sebuah kenangan indah. terimakasih Sein untuk saran-mu,"


"Apa kataku tadi seperti sebuah sarankah?"


"Aku menganggap begitu, btw aku sedang butuh bantuan mu sekarang!"


"Bantuan, baiklah... aku siap membantu!"


Evan lalu menutup sambungan tersebut dan melanjutkan langkahnya.


Kembali memasuki resto yang tampak sepi dari sebelumnya.


Evan pun berjalan menuju tempat untuk ia dapat bertanya mengenai beberapa histori resto pada siang hari tadi.


Di sana Evan bertanya kepada seorang sekuriti.


"Maaf apa saya menganggu waktunya?" sambil mendekatkan dirinya di depan sebuah kaca, penghalang tempat sekuriti


Sekuriti lantas mendengar ucapan Evan dan langsung menghampirinya.


"Tidak-tidak!, ini sudah menjadi tugas kami. uhmm apa ada yang bisa saya bantu,"


**********


Sekitar 10 menit Evan bertanya kepada sekuriti tersebut. Sambil melihat CCTV yang di izinkan olehnya untuk Evan lihat.


Serta memberikan informasi mengenai jejak seorang meteorolog yang telah singgah di resto sebelumnya.


"Terimakasih atas bantuannya mba, aku jadi terbantu," ucap Evan berterimakasih kepada mba sekuriti.


"Eh, iya-iyaa," balasnya dengan senyum diwajahnya.


16:01 Evan masih mencari petunjuk lain, yang mengarah kepada meteorolog tersebut.


Evan sudah mengantongi identitas dari meteorolog tersebut. Yang ia dapat dari sekuriti.


Sebelumnya, Evan mengirimkan informasi tersebut kepada Sein, sehingga Sein bergerak cepat mencari tahu tentang meteorolog tersebut.


Dan secara mengejutkan, dia ternyata bukan seorang meteorolog yang selama ini Evan kira.


Sein bercakap dengan Evan lagi melalui sambungan telepon. Untuk membahas hal tersebut, dan mengkaitkannya dengan serangan ******* yang tengah banyak di perbincangkan.


Pasalnya, ada data yang Sein dapat dari orang yang mengaku sebagai meteorolog tersebut. Berupa masa ketika dia berada di anggota militer.


Dan dia keluar karena memiliki faham kepada aturan kemiliteran.


Mendapati informasi tambahan dari Sein tadi. Evan pun bersiasat, bahwa target selanjutnya para ******* adalah sebuah bangunan yang sedang di bangun yang letaknya tak jauh dari pantai.

__ADS_1


__ADS_2