
Ramuan Sains ciptaan Evan yang bernama "Ramuan Tak Pernah Menua" membuatnya jadi tertidur sangat lama dan baru bangun sekarang. Lalu...? Mengapa efek ramuan tersebut tidak berefek secara keseluruhan kepada Ayahnya, dan hanya efek tidak menua saja yang ia dapatkan? Hal tersebut karena perbedaan usia.
Hari Senin Evan terbangun pada jam 06:30, setelah beberapa jam di rumah sakit untuk menjalani serangkaian pemeriksaan lebih lanjut. Lalu ia dibolehkan untuk pulang.
Saat ini yang ada pikiran Evan hanyalah sebuah kenangan tentang mimpinya, anehnya. Pengetahuan dan kenangan yang ia pelajari dalam mimpinya dari awal "seperti awal mimpinya" masih tersimpan dalam ingatan maupun memorinya.
Kini Ayah Evan masih memiliki Perusahaannya dan masih menyandang gelar seorang Presdir. Kematian sang istri tidak membuatnya patah semangat, maupun kematian putri angkatnya. Malahan membuatnya menjadi pribadi yang kuat dibandingkan sebelumnya.
Hari-hari ia habiskan untuk bercerita kepada Evan yang masih tertidur, sementara perusahaan dijalankan oleh seseorang kepercayaannya.
•••
Satu Minggu kemudian, Evan mencari berbagai informasi mengenai jejak teman-temannya. Ia ingin tau sekali tentang keadaan mereka saat ini.
"Kurasa ini saatnya aku mengunjungi kawan lama, meskipun sudah bertahun-tahun lamanya, namun. Aku ingin sekali bertemu dengannya," ucap Evan sambil mengetik keyboard dan fokus pada layar PC.
•••
Pertama, Evan mengunjungi kediaman Ken. Dengan menggunakan mobil pribadinya, Evan mengendarainya menuju kesana. Hingga ia sampai di sana lalu memasuki halaman depan yang luas.
Dari kejauhan ada beberapa orang yang menuju ke arahnya bergegas untuk menyambut. Berpakaian pelayan berwana hitam serta rapi.
"Yang aku tau, Ken sekarang ini menjadi pembisnis terkenal karena parasnya yang kece di masa mudanya. Hmm, apa aku salah membaca berita? Aku tebak, pasti Ken sudah menjadi seorang mertua," ucap Evan dalam hatinya.
"Maaf Tuan muda, ada keperluan apa? Kami akan menyampaikan langsung kepada Tuan Ken!" ujar pelayan tersebut lewat kaca jendela mobil setelah Evan membukanya.
"Aku ingin bertemu dengannya, tapi sampaikan saja kepadanya bahwa aku ini adalah kawan lamanya!" titah Evan kepada seorang pelayan tua yang kelihatannya berwibawa.
"Tapi... Tuan, Tuan Ken sedang sibuk sekarang ini, yang pasti tidak akan mengijinkan seseorang untuk menemuinya!" balas pelayan tua tersebut sopan dengan menundukkan kepalanya, serta menjelaskan situasi terkini tentang tuannya kepada Evan.
"Begitu ya, kalau gitu... bolehkah aku meminta nomor telfonnya!"
"Baik, Tuan muda tunggu sebentar! Saya masih ragu sebenarnya, Tuan muda ini sebenarnya ada hal apa sampai ingin berbicara dengan tuan kami? Apa berhubungan soal pernikahan?"
"Pernikahan?Apa mungkin..."
__ADS_1
"Bukan, bukan soal itu. Aku kesini hanya untuk sekedar mengobrol!"
"Sebenarnya siapa tuan muda ini? Aku merasa tidak asing, tapi siapa dia? Dari mobilnya saja cukup aku hubungkan. Jika ia adalah anak orang kaya, namun kenapa dia menyebut dirinya sebagai kawan lama tuan?" ucap pelayan tua dalam hatinya berasumsi.
Evan lalu bertemu dengan Ken, bujuk rayunya lagi kepada pelayan ternyata membuahkan hasil.
"Kamu??" ucap Ken ketika melihat Evan, ia sendiri sedang duduk di kursi kebesarannya.
"Ya. Ini aku. Apa kabar kawan lama?" ucap dengan senyum simpul.
Ken masih ternganga, ia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Bahwa Evan teman lamanya ada di depannya saat ini, dengan wajah dan tubuh masih sama. Terlihat masih muda seperti masa SMA dulu.
"Aku baru bangun dari tidurku! Sepertinya kamu terkejut ya kek, hehe," canda Evan di akhir katanya agar dapat mencairkan suasana.
Tawa kecil lalu keluar dari mulut Ken, menghiasi keriput diwajahnya. Ia tertawa sebagai wujud balasan atas lelucon Evan yang menganggap bahwa dirinya sekarang ini sudah Kakek-kakek. Tapi memang begitulah kenyataannya.
"Kamu masih sama saja Ev, tidak ada yang berubah sama sekali. Meski sudah sangat lama semenjak kita terakhir bertemu."
"Bukannya itu kamu ya, yang selama ini tidak mengunjungiku lagi! Lagipula... kau juga sama. Tidak ada yang berubah kecuali dirimu yang terlihat sudah tua."
"Hahahaha."
Mengobrol bersama Ken berlangsung satu setengah jam lamanya. Yang kemudian Evan pergi meninggalkan kediaman Ken.
Di dalam mobil Evan berniat untuk mengunjungi makam Hyouga, karena dia meninggal sepuluh tahun yang lalu. Hyouga tutup usia akibat penyakit yang di deritanya.
Seusai berdoa di makam Hyouga, Evan langsung bergegas pergi menuju kediaman Rahel. Pokoknya hari ini Evan putuskan untuk bertemu dengan beberapa temannya.
Di sana Evan bertemu dengan Rahel yang sedang mencuci baju, awalnya Evan mengira jika dia bukan Rahel. Namun setelah dilihat dari dekat ternyata Rahel yang sudah tua dengan memakai style-lan baju ala nenek-nenek.
Rambutnya semuanya beruban dan pandangan matanya sepertinya agak kabur, ketika Evan menatap Rahel dan ingin mengajaknya berbicara. Tapi Rahel terlihat kesusahan dalam mengenali.
Evan tahu jika Rahel sudah memiliki 5 orang anak, namun sekarang ini dia hidup bersama dengan anaknya saja.
Pembicaraan Evan dengan Rahel sedikit tersampaikan. Dan Evan telah menyadari jika pendengaran Rahel sedikit berkurang atau bermasalah.
__ADS_1
Rahel bahkan sempat memeluk Evan, yang terlihat bagaikan orang tua yang sedang mendekap anaknya. Cukup lama disertai Isak tangis.
Meskipun terlambat untuk mengatakannya, namun dengan berat hati Rahel mengatakannya bahwa ia... sangat mencintai Evan.
"Aku mencintaimu Evan, maaf karena aku tidak bisa menunggumu lebih lama. Dan aku sekarang sudah menjadi nenek-nenek rapuh, yang hanya hidup dari uluran anak-anakku!"
"Bukannya ini adalah takdirmu dan takdirku juga, takdir kita sangatlah berbeda!"
"Hmm, aku faham. Tapi takdir ini yang akan selamanya membuat ku tidak tenang. Tapi, karena sekarang kita bertemu aku harap kamu dapat terus hidup Ev! Bila perlu anggap saja aku sebagai orang tua yang sedang berkhotbah! Aku senantiasa akan membimbing dan mengarahkan mu!"
"Pasti Rahel sedang menghawatirkan aku, ya mungkin saja karena aku harusnya belum lulus SMA. Atau mungkin dia menganggap aku dengan pemikiran remaja 18 tahun. Tapi berkat mimpi itu aku telah menjadi dewasa," ucap Evan dalam hatinya.
"Baiklah, aku akan kesini lagi nanti. Aku harap dapat makan masakan mu!"
"Iya, boleh saja. Aku akan buatkan nanti."
"Entah kenapa aku merasa Rahel mengubah cara bicaranya kepadaku dari awal? Apa cuma anggapan yang salah?" ucap Evan bertanya-tanya dalam hatinya.
•••
Di perjalanan pulang Evan menepikan mobilnya di pinggir jalan, karena ia melihat seorang orang gadis tengah melambaikan tangannya seperti meminta tumpangan.
Saat gadis itu masuk, Evan tidak percaya melihat wajahnya. Dia mirip seperti seseorang yang ia kenal.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Terimakasih banyak ya, yang sudah membaca sampai sini. Author sangat berterimakasih.