
Menikmati hidangan mewah sebagai sarapannya, membuat Evan jadi bersyukur atas segala kenikmatan yang telah ia rasakan.
Pagi hari pukul 07:13 Evan dan Rahel berada di restoran hotel.
Pesanan Evan berupa salad dan teh serta nasi goreng spesial, sebagai sarapan paginya.
Berbeda dengan Rahel dia memesan seporsi kecil menu untuk sarapannya. Alasannya sederhana, ia sedang menjalani diet di masa liburan Sekolah saat ini.
Banyak sekali orang yang sedang menyantap hidangan sarapan pagi mereka. Pandangan Evan kini tertuju ke arah pemain biola yang sedang memainkan biolanya diiringi dengan live music.
Sambil menyantap makanannya, pengunjung juga sambil dihibur dengan live music yang ada di sana.
Selain menawarkan ketenangan yang eksklusif dengan seni yang menyegarkan, Restoran hotel pun akan memanjakan perut dan lidah para tamu dengan masakan lezat olahan para koki terkenal yang memadukan masakan Barat dengan citarasa lokal.
"Memang pilihan yang tepat untuk kita menginap disini, nuasa di restonya pun dapet sekali. btw Ken pasti sedang sibuk sekarang, kemarin dia juga bilang dia tidak akan ikut bermain-main sampai besok," ucap Evan dalam hatinya.
"Hel, kamu kok bisa suka sih sama makanan seafood?" ucap Evan yang melihat Rahel yang sedang menyantap makanannya.
Rahel pun menelan makanannya dan berkata.
"Makanan jenis seafood sangat bergizi lho Evan, apalagi kandungan yang ada didalamnya!" ia berbicara sambil mengangkat garpu yang masih ada gigitan seafood di atasnya.
"Benar juga sih," ucap Evan sambil menyentuh dagunya.
"Kalau begitu kamu cobain nih.." seraya menaruh seafood ke dalam piring Evan.
"Tunggu hel, kamu tahu kan aku ngak suka sama makanan jenis seafood?"
"Aku tahu kok!, tapi itu kan dulu, pas kita masih kecil. siapa tau sekarang kamu berubah pikiran setelah mencobanya lagi,"
"Selain rasanya yang lezat, makanan laut juga mengandung banyak nutrisi yang baik untuk kesehatan tubuh. antara lain protein, vitamin, mineral, dan asam lemak omega-3, tapi di balik manfaatnya yang segudang itu, aku tidak suka sama sekali dengan makanan seafood,"
"Makanya kamu cobain dikit aja yaa," ucap Rahel yang menyodorkan daging seafood dengan garpu ke arah mulut Evan.
"Tetap saja aku ngak akan memakannya,"
"Ya udah deh.. aku nggak akan maksa," seraya menarik garpunya kembali.
__ADS_1
Sambil mengunyah sedikit makanannya. Rahel menanyakan hal yang membuat Evan jadi tidak suka dengan makanan seafood.
"Btw.., kamu kenapa sih jadi nggak suka banget sama makanan seafood?, aku tau sih alasan utamanya memang rasanya yang amis"
"Tidak juga, dulu aku pernah melakukan eksperimen Sains kepada binatang laut, namun satu hal yang membuatku jadi ngeri saat itu ialah. secara mengejutkan tiba-tiba saja daging yang terpotong dapat bergerak-gerak,"
.
"Huh...," Rahel juga merasakan rasa ngeri seperti yang Evan rasakan.
"Penjelasan ilmiahnya seperti ini, meskipun secara klinis hewan sudah mati, tetapi secara seluler ototnya masih hidup. dengan sisa energi yang ada dan keterbatasan pasokan oksigen, maka serabut ototnya akan berkontraksi secara tidak beraturan sampai energinya betul-betul habis," ucap Evan menjelaskannya panjang lebar.
"Itulah mengapa daging atau bagian tubuh hewan yang telah terpotong dapat bergerak, seperti halnya dia masih hidup!"
Setelah mendengar penjelasan ilmiah dari Evan, Rahel terlihat enggan untuk memakan lagi daging seafood di hadapannya. Terlihat jelas dari ekspresi yang ia tunjukkan.
"Seharusnya aku tidak menceritakan alasanku yang tidak suka dengan makanan seafood, dan penjelasan ilmiah daging yang dapat bergerak kepada Rahel," ucap Evan dalam hatinya.
Selesai sarapan Evan dan Rahel beranjak pergi menuju spot Poto. Dimana di sana sangat ramai sekali.
Awalnya Evan berinisiatif mengajak Rahel untuk berfoto bersama dengannya. Mengingat pembicaraannya dengan Sein semalam.
Hal ini mampu menarik perhatian warga maupun para tamu hotel untuk berbondong-bondong datang.
Spot ini juga menarik perhatian para fotografer. Evan pun melihatnya yang sedang memotret karya seni tersebut.
Penikmat seni pun tak kalah hadir disana. Sampai Evan mengomentari penikmat seni dalam hatinya.
"Mereka mendedikasikan hidup mereka demi seni. dan begitulah adanya! mereka semua datang dari latar belakang ekonomi, terkadang mereka jatuh cinta dengan apa yang mereka lihat jika lukisannya menggambarkan keadaan pikiran mereka dengan tepat,"
**
Sein hari ini pulang cepat untuk menjalankan tugasnya di Perusahaan Ayah Evan.
Takut menganggu waktu liburan Evan ia pun langsung pulang begitu saja. Tanpa pamit secara langsung kepadanya, namun ia mengirimi Evan sebuah pesan chat.
Sementara itu, para polisi dan tentara sudah mengamankan banyak sekali orang-orang yang di duga sebagai penjahat kelas kakap.
__ADS_1
Mereka di tangkap di berbagai tempat. Ada pun yang terpaksa di tembak di bagian kakinya karena melawan balik ketika akan di tangkap.
Penangkapannya pun penuh dengan liku drama.
Ada sekitar 32 orang yang telah di amankan. Namun dari semua orang tersebut tidak ada bos mereka di dalamnya.
Mengetahui berita itu lewat smartphonenya, Evan jadi lega. Dia jadi tidak usah bertindak lebih jauh lagi untuk menangkap mereka.
Di samping itu, mengenai berita tentang dirinya yang di potret oleh seseorang saat berada di kawasan pembangunan. Kini teralihkan lewat berita penangkapan para penjahat yang sudah di beritakan lewat media elektronik.
Kakek Evan yang berada di kediamannya pun menyadari, jika dia sangat mengenal orang ada dalam poto tersebut.
"Anak itu selalu saja bikin ulah, tapi dia sekali lagi mengejutkan ku lagi dan lagi. aku ingin tahu bagaimana dia bersikap dewasa menanggapinya!" ucap Kakek Evan yang sedang menonton berita lewat televisi.
**
"Satu...dua..ti..ga..," ucap Rahel mempoto Evan lewat smartphonenya.
"Hah, Rahel. dia menghitung seperti meniup lilin ulang tahun saja!" ucap Evan dalam hatinya.
Evan menghampiri Rahel setelah beberapa kali ia di poto olehnya.
Yang kemudian Evan melihat dirinya dalam poto tersebut.
"Hehe, lumayan juga pose-ku," ucapnya dalam hati.
"Bagus sekali kan Evan aku mengambil gambarnya?"
"Iyaa, kamu seperti sudah pengalaman saja yaa," ucap Evan sambil menunjukkan senyumanya.
Rahel juga membalas senyuman Evan dengan tawa kecilnya.
Membuat orang-orang yang disana memandang Rahel. Saat ini Rahel mengenakan sweater panjang dan celana pendek.
"Setidaknya Rahel jadi senang setelah mendengarkannya, lagi pula Rahel kan sering update status berserta poto-potonya di media sosial," ucap Evan dalam hatinya.
Sekali lagi Evan mengingat ia yang pernah berkunjung ke akun sosial media Rahel.
__ADS_1
"Rahel yang bak seorang Dewi memang layak untuk menjadi pusat perhatian. apalagi berbagai mata para lelaki hidung belang, aku ingin sekali memperingatkannya, tapi aku bukan siapa-siapa. hanya teman yang dapat membantunya saja,"