Ayah Yang Tak Pernah Menua

Ayah Yang Tak Pernah Menua
Sebuah Berita Mengejutkan [Revisi]


__ADS_3

Dalam obrolannya mereka membicarakan.


"Ev, ngomong-ngomong karya Sains apa yang akan kamu tunjukkan besok?" tanya Erik yang agak penasaran.


"Rahasialah, akan lebih mengejutkan jika aku tidak memberi tahukan kepada kalian tentang itu!" jawab Evan menjelaskan alasan ia merahasiakan karya Sains untuk besok.


"Baiklah!, aku tunggu nanti karya Sains mu itu Ev!" ucap Erik.


Ken sambil makan.


"Aku tau karya Sains apa yang akan di buatnya!" cetus Ken seakan dia tau.


"Cepat katakan apa itu Ken?" rasa penasaran Rafael yang amat tinggi.


"Yang lain mau tahu tidak?" Ken bertanya sekali lagi.


"Bisakah kau memberitahukannya segera?" ucap Mike.


"Aku sama sekali tidak percaya dengan Ken!" ucap Hyouga yang sedang bersandar di kursinya.


"Sepertinya menarik!" ucap Starlight dia tersenyum simpul.


"Ouh, oke-oke dengarkan baik-baik!, karya Sains Evan besok adalah Karya Sains yang mengejutkan hahahah!" ucap Ken dengan suara lantang.


Krik..krik...krikk...


Para pelajar yang sedang membeli makanan maupun yang sedang makan berhenti sesaat, dan melihat ke arah Ken.


"Sudah kuduga," gumam Hyouga.


"Ken terlihat sangat menyakinkan," ucap Erik dalam hatinya dia merasa terheran-heran.


Akhirnya jam istirahat pun selesai.


...****************...


Di waktu ketika jam pelajaran pertama belum dimulai. Saat itu murid baru bersama walinya sedang berada di dalam kantor kepala Sekolah.


Mereka berdua sedang membicarakan sesuatu.


"Bagaimana, apa bapak mengizinkannya?" ucap Sho.


"Sepertinya saya tidak mengizinkan anak anda untuk masuk ke Sekolah saya, lagi pula mana mungkin di Sekolah lain mengizinkan seseeorang bersekolah ke SMA dan dia belum tamat SMP!" ucap Pak kepala Sekolah dengan tegas.


"Hahaha, itu peraturannya?, aku sangat percaya. bagaimana jika aku akan membayar bapak lebih dari gaji bapak sebagai kepala Sekolah," ucap Shou dengan senyum menyeringai.


"Maaf!, saya tetap tidak bisa mengizinkan anak bapak!" ucap Pak Kepala Sekolah.


"Padahal aku sudah memberikan kelonggaran buat bapak, tapi bapak mala mengabaikannya. baik tunggu sekejap!" ujar Shou.

__ADS_1


Shou kemudian mengambil handphonenya yang di saku celananya. Hingga beberapa saat ada panggilan masuk.


Shou mendekatkan handphonenya ke arah telinga Pak Kepala Sekolah.


"Ayah, tolong aku umh..."


Seketika Pak Kepala Sekolah tertegun. Anaknya kini di tangkap oleh seseorang disana.


Akhirnya Pak Kepala Sekolah setuju menerima Tsuki sebagai murid baru dengan identitas khusus.


Ada kesempatan yang di buat oleh Shou dengan Pak Kepala Sekolah, yaitu jika masalah ini melibatkan pihak kepolisian, maka anak dan istrinya akan dilenyapkan.


"Baiklah, aku akan mempersiapkan segala sesuatunya!" ucap Pak kepala Sekolah dia agak cemas dan khawatir, terlihat dari wajahnya.


"Mohon bantuan Pak Kepala Sekolah!" ucap Shou.



Shou pun tersenyum ke arah Tsuki.


...****************...


Pada jam istirahat kedua Evan berkeliling untuk mencari udara segar di sebuah Taman di dekat kelas 11.Taman tersebut adalah salah satu spot yang banyak di datangi oleh para siswa, maupun guru-guru di SMA Oregami.


"Sebenarnya aku khawatir bahwa aku mungkin sudah terbiasa dengan gaya hidup semacam ini, kemungkinan terbesarnya adalah ketika aku lulus dari sini nanti!" ucap Evan dalam hatinya.


Terlihat hari ini di Taman Sekolah sangat sedikit yang datang, angin yang berhembus kencang mungkin menjadi alasan utamanya.


"Bukannya itu murid baru?, bukannya tadi dia ada di kelas. dia rupanya sudah mendapatkan teman ya," ucap Evan dalam hatinya.


Evan tetap melanjutkan langkahnya, sampai mereka yang sedang mengobrol berhenti. Dan tertuju pandangan mereka kepada Evan.


Lalu Tsuki menyapa Evan.


"Yo, bukanya kamu yang ada di kelas saat aku memperkenalkan diri tadi?" ucap Tsuki.


"Dia terlihat aneh," ucap Evan dalam hatinya.


"Ya, senang bisa bertemu denganmu, namaku Evan!" ucap Evan sambil bersalaman dengannya.


"Kurasa kamu sudah tau namaku jadi aku tidak harus memberitahukannya lagi kan!, hmm, ngomong-ngomong kamu sendirian datang kemari untuk apa?" ucap Tsuki, namun tidak membalas jabatan tangan Evan.


"Dia ingin sekali mengetahuinya, aku rasa tidak ada salahnya..." ucap Evan dalam hatinya.


"Aku sedang mencari udara segar disini, meski anginnya agak kencang!" jawab Evan.


"Baliklah, maaf sudah membuang waktumu, dan silahkan lanjutkan kegiatan mu," ucap Tsuki, dia agak sedikit menunjukkan giginya.


Evan pun melewati mereka yang berjumlah 5 orang itu.

__ADS_1


Swosh...


"Jika dilihat keempat murid tadi terlihat seperti sehabis di pukuli oleh seseorang, dan mereka juga menunjukkan ekspresi menipu seolah-olah tersenyum kepadaku. entahlah, bisa jadi mereka habis di serang oleh seseorang, lagi pula itu bukan urusanku. aku harus lebih fokus ke uji Sains besok," ucap Evan dalam hatinya.


...****************...


Keesokan harinya.


Ada sebuah kabar di televisi yang mengatakan jika ada sebuah pembunuhan yang terjadi di komplek perumahan elit di jalan Kensota, yang menewaskan seluruh penghuni rumah.


Evan yang saat itu mendengar berita lewat televisinya, sontak kaget dengan kabar tersebut.


"Ada pembunuhan yang terjadi, beritanya di siarkan pagi ini, itu artinya pembunuhan tersebut terjadi pada malam hari," ucap Evan.


"Pembunuhannya sangat keji!, bahkan menewaskan semua keluarga penghuni rumah. aku jadi kasian dengan mereka dan turut berdukacita!" ucap Lili yang tau-tau ada di samping Evan.


"Eh, ngomong-ngomong kamu sudah di sini sejak tadi?, apa kamu mendengarkan beritanya dari jauh," tanya Evan.


"Aku sudah di sini sejak tadi kak!, huuu kakak ngak mengetahui kehadiranku. oh ya aku juga mendapatkan alamat dari berita itu kak, yang aku dapat dari handphone ku!, alamat pembunuhan tersebut di bla..bla..bla!" ucap Lili.


"Alamat itu bukanya..., alamat rumah Kepala Sekolah..!" ucap Evan terkejut.


"Kepala Sekolah?, jadi apa yang membuat Kakak jadi kaget seperti itu," tanya Lili yang penasaran.


"Alamat rumahnya persis seperti alamat rumah kepala Sekolah ku!" jelas Evan kepada Lili.


...****************...


Pembunuhan tersebut menjadi ramai di perbincangkan, dan membuat warga sekitar heboh.


Aksi si pelaku diduga di lakukan di Malam hari, ketika mereka sudah tertidur lelap. Hal itu dari mayat yang di temukan polisi di ranjang tempat tidur mereka. Di duga mereka semua di serang dengan mengunakan senjata tajam, polisi melihat banyak luka tusuk di tubuh korban.


Adanya kabar tersebut membuat Sekolah jadi membatalkan uji Sains. Mengundur nya hingga waktu yang tidak di tentukan.


Persiapan Evan pun menjadi sia-sia, akan tetapi Evan tidak menyesalinya, mala ia lebih memikirkan keluarga Pak Kepala Sekolah yang mengalami insiden tersebut.


...****************...


Di kelasnya, Evan memikirkan akan sesuatu, ia bersandar di bangkunya. Hari ini kemungkinan tidak ada pelajaran sama sekali, karena para guru sedang menuju ke rumah Kepala Sekolah. Mereka turut berduka cita atas meninggalnya beliau.


Saat itu Rahel menghampiri Evan, yang sedang bersandar.


"Evan, apa kamu sedang memikirkan sesuatu, kamu dari tadi terlihat seperti sedang memikirkannya?" tanya Rahel.


"Ya, kamu benar aku memang sedang memikirkan sesuatu, dan itu mengenai pembunuhan kepala sekolah!, aku hanya tidak menyangka, jika beliau meninggal esok harinya, setelah aku berbicara kepadanya kemarin!" ucap Evan menjelaskan hal yang membuatnya lesuh.


"Mmm, untuk itu aku juga turut berdukacita atas meninggalnya beliau dan keluarganya. uhm, kamu berbicara kepadanya kemarin kan?" tanya Rahel.


Lalu Evan menjelaskannya.

__ADS_1


"Saat jam istirahat kedua, setelah aku mengunjungi Taman, aku datang ke kantornya untuk membicarakan suatu hal kepadanya. beliau kemarin terlihat tidak seperti biasanya, dari cara berbicara maupun sikapnya, seperti sedang gelisah dan khawatir!" ucap Evan.


__ADS_2