Ayah Yang Tak Pernah Menua

Ayah Yang Tak Pernah Menua
Mengendalikan Mimpi


__ADS_3

Evan dengan cepat menghampiri Rose yang terbaring di lantai, keliatannya Rose sedang kesakitan dan mencoba menahan rasa sakitnya.


Mata Rose terlihat mengeluarkan air mata, karena tak kuasa menahan rasa sakit dan melihat keadaan dirinya.


Rose saat itu memang tertembak di bagian dada, namun pada saat itu dia sudah memakai rompi anti peluru. Yang ia kenakan sewaktu berada di kamar yang menahannya.


Secara kebetulan di kamar tersebut ia menemukan sebuah rompi anti peluru, yang lalu setelah itu ia kenakan.


Banyak sekali darah segar yang terlihat di lantai tempat Rose terbaring, hingga jika di bayangkan seperti air yang mengalir.


Gambaran yang ngeri sekaligus menakutkan.


"Rose.., kamu harus kuat ya...," ucap Evan lirih yang kemudian meneteskan air mata melihat keadaan Rose sekarang.


Rose tidak menjawab.


Evan pun bertanya kepada penjaga yang tergeletak di lantai yang rupanya masih terjaga. Namun dia sama sekali tidak bisa berdiri dan mengerakan anggota tubuhnya, akibat serangan Evan kepadanya tadi.


"Cepat katakan kepadaku, dimana kalian menyimpan peralatan medis!!" ucap Evan keras penuh penekanan serta bentakan.


Penjaga yang melihatnya pun takut dan langsung menjawab.


"Aaa..da di belakang, lurus saja.., lalu belok ke kiri!"

__ADS_1


Tanpa berpikir panjang Evan pun langsung cepat-cepat menuju tempat yang dikatakan oleh penjaga itu.


Ternyata bukan hanya tempat peralatan medis saja yang ia temukan, melainkan sebuah denah dalam rumah. Dan dari denah tersebut Evan melihat ada sebuah ruangan yang cukup besar


seperti ruang operasi atau semacamnya. Pikir Evan saat itu.


Evan lalu kembali dengan sebuah kotak P3K yang ia bawa dari sana. Pertama-taman ia harus menghentikan pendarahan Rose terlebih dahulu agar dia tidak kehabisan darah.


Rose merintih kesakitan dan menyebut nyebut nama Evan beberapa kali. Diiringi Isak tangis.


Sebenarnya Evan hendak mengeluarkan air namun ia menahannya, karena melihat kondisi Rose yang tak berdaya dan bisa saja membuatnya sekarat.


Evan tetap berusaha tegar sambil menutup kedua matanya dan menghembuskan nafasnya dalam-dalam lalu mengeluarkannya. Supaya dirinya tenang dan rileks.


Untungnya peralatan medis dan lainnya yang di didalam kotak P3K sangat memadai, membuat Evan tenang dan bernafas lega.


Evan kemudian memakai sarung tangan medis sekali pakai guna meminimalkan risiko terjadinya infeksi.


Evan lalu fokus kepada Rose serta memastikannya agar tetap tenang, responsif dan bernafas teratur.


"Rose kamu harus tetap tenang ya..., aku sekarang akan menghentikan pendarahan mu!, ingat saat kita bertemu. kamu saat itu bilang kalau kamu adalah perempuan yang paling kuat kan.."


Lalu setelahnya, Rose sudah berhenti menangis dengan nafas serta dirinya yang sudah kembali tenang.

__ADS_1


Tak lupa Evan mengambil ganjalan untuk ia letakkan di bawah kaki Rose, meletakkannya pada posisi lebih tinggi dari jantung. Dan juga lengannya yang posisinya di atas kepala dan jantung agar dapat mengurangi aliran darah ke luka.


Kemudian Evan membungkus bagian tubuh Rose yang masih mengalir darah segar dengan plastik. Dari bagian kedua kakinya dan satu lengannya.


Meski beberapa kali Rose sempat mengeluarkan suara karena tidak kuat menahan rasa sakit, tapi Evan tetap memaksa melakukan hal itu demi kebaikannya.


Evan juga tetap berbicara kepada Rose dengan tenang karena Rose masih dapat mendengarnya, bahkan ketika dia hilang kesadaran sekalipun.


...****************...


Saat itu juga Sein datang. Dia terkejut melihat apa yang ada di hadapannya, banyak sekali orang-orang yang tergeletak di lantai.


Pandangannya terfokuskan ke arah Evan yang sedang memberikan pertolongan pertama kepada Rose. Lalu beralih melihat orang berjas yang berbeda dengan yang lain.


Evan yang tahu kehadiran Sein tanpa melihatnya pun berkata.


"Panggil ambulans secepatnya Sein!"


"Iya-iya!"


Sein mengeluarkan handphonenya dan langsung menghubungi rumah sakit.


Ada rasa panik dalam diri Sein dan perasaan tidak enak juga dalam dirinya, sehingga sekarang membuatnya spontan dengan cepat mengetik nomor yang dituju.

__ADS_1


Walaupun tempatnya sekarang ini sangat terpencil dan jauh dari masyarakat setempat.


__ADS_2