
Malam ini Evan sedang belajar di kamarnya, seperti biasa ia belajar mengenai ilmu pengetahuan Sains dan juga bahasa pemrograman. Selain mempelajari Sains Evan juga mempelajari hal yang sekiranya dapat membantunya, ketika kelak ia besar nanti.
Cara belajar Evan pun sangat efektif, salah satunya ketika ia mempelajari bahasa pemrograman. Dia sendiri menghafalnya lalu mencoba untuk mengingatnya kembali di hari esoknya.
Bagi Evan belajar adalah satu satu cara agar dia mampu menjawab hal-hal yang di luar logika yang menyangkut ilmu pengetahuan, tapi pemikirannya itu saat dia kecil. Seiring dengan pertumbuhannya, Evan berubah pemikiran, dia belajar supaya dapat membantu manusia dia era masa depan, dimana setiap orang memiliki peran dan tanggungjawab yang berbeda di masa sekarang.
Malam ini cuacanya sangat cerah, bintang terlihat dengan jelas di langit. Tidak ada awan mendung maupun awan yang menutupi kelap-kelip bintang di langit.
Di meja belajarnya Evan melihat hasil jepretan foto, sewaktu berada di taman raya bersama Rahel. Saat itu kebetulan sekali Evan dan Rahel berjumpa dengan seorang fotografer, lalu sang fotografer itu menawarkan jasanya. Evan saat itu canggung sewaktu si fotografer menyebut Evan dan Rahel sangat serasi, dan di kala itu juga Rahel terlihat memerah di bagian pipinya, sambil melihat Evan Rahel seakan Evan ingin mengatakan sesuatu yang ada di pikirannya.
Evan mengangguk, lalu si fotografer tak lama memfoto keduanya.
Salah satu dari mereka menyimpan Poto jepretan tadi masing-masing.
"Lagi-lagi, kenangan indah bersama Rahel tersimpan dalam ingatanku. aku yakin perasaan aku ini tertuju padanya, tapi entah kenapa ada perasaan lain yang menjadi penghalang untuk hatiku sampai kesana, apa mungkin perasaan cintaku kepada Rahel memudar atau.."
Pukul 20:24 Evan mendapat telepon dari Hyouga, karena hari ini dia tidak mampir ke tempat pelatihan karate peninggalan kakek Hyouga.
Evan meminta maaf, Evan mengatakan alasannya kepada Hyouga langsung. Bahwa hari ini dia jalan-jalan berdua bersama Rahel, sontak Hyouga terkejut ada ekspresi senang si wajahnya. Bahkan Hyouga mengira kalau Evan sedang berkencan bersama Rahel, Evan hanya menjawab kalau hari ini dia cuma jalan-jalan biasa dengan Rahel.
Pukul 20:35 Evan selesai berbicara dengan Hyouga lewat sambungan telepon, ia pun turun kebawah untuk makan malam bersama Lili dan Ayahnya.
Evan menuruni anak tangga sambil salah satu lengannya di masukan ke dalam saku bajunya dan lengan lain memegang pengangan tangga. Rambutnya yang lentik membuat kesan karismatik saat Evan menuruninya.
Di meja makan tersebut sudah ada Lili dan Ayahnya, mereka berdua melihat Evan yang namfak Lili melihatnya dengan pangling. Sementara Ayahnya tersenyum kepadanya dengan tatapan tulusnya.
Evan pun duduk di kursi makan yang di bantu kepala pelayan.
"Akhirnya kita bisa makan bersama lagi, Ayah sangat menantikan kebersamaan ini, meski hanya beberapa hari terlewatkan!"Ucap Ayah Evan.
__ADS_1
"Aku juga sama Yah, bisa makan bareng Ayah dan Kakak membuatku senang, apalagi bareng Ibu juga!"Ucap Lili sambil tersenyum manis, bonekanya tidak lepas darinya.
"Bukanya Minggu ini Ibu akan pulang?, apa benar jika pekerjaannya sudah selesai, maksudku mengurus sebuah Perusahaan yang sedang berkembang mungkin membutuhkan waktu bagi Ibu untuk beradaptasi."Ucap Evan sambil mengambil lauk di hadapannya.
"Untuk itu memang benar tidak mudah bagi Ibu untuk mengatur sebuah Perusahaan, apalagi ini baru yang pertama kalinya, tapi Ayah yakin Ibu pasti bisa melakukannya!"Ucap Ayah Evan.
"Ya, aku juga yakin, Ibu adalah orang yang tangguh!"Ucap Evan.
Mereka pun melanjutkan pembicaraannya di sela-sela makan.
"Ngomong-ngomong bagaimana Sekolah mu Evan?, jika ada hal yang menarik kamu bisa ceritakan kepada Ayah."Ucap Ayah Evan.
Saat ini Evan jadi kepikiran kembali tentang Ayahnya yang dulu pernah bercita-cita menjadi Ilmuwan.
Evan berusaha menghilangkan pikiran itu, lalu lanjut dengan menjawab hal yang di katakan Ayahnya tadi.
Ayah Evan menanyakan hal sama kepada Lili, Lili pun menjawab.
"Hari-hari ku sangat menyenangkan sewaktu di Sekolah!"Ucap Lili.
...****************...
Di kamarnya Sherly beranjak untuk tidur, dia sempat bercermin terlebih dahulu.
Dalam hati Sherly berkata.
"Apa aku pantas bersanding dengannya, mmm sementara dia terlihat sangat akrab dengan teman perempuannya. tapi sekiranya aku tetap berusaha, supaya dapat mendapatkan hatinya."
__ADS_1
Selesai bercermin dan menyisir rambutnya, Sherly pun beranjak ke tempat tidurnya.
Di kala itu dia terus memikirkan seseorang yang dia cintai, sambil berbaring dan bersiap untuk tidur ia pun memegang guling nya. Dia pun tersenyum, saat guling tersebut sudah di peluknya. Sambil memejamkan matanya ia pun ia pun memeluk erat guling tersebut.
...****************...
Untuk Sein, sekarang ini dia masih mencari warisan peninggalan sang raja, Pencariannya tetap berlanjut meski ada beberapa hambatan yang terjadi, seperti hujan lebat kemarin maupun anomali suhu yang berubah ubah. Namun Sein tetap optimis dia berjuang demi menguak misteri hutan Dark forest tersebut.
Ada juga kabar dari tim Sein mereka berhasil menangkap dua orang yang diduga kelompok organisasi yang di pimpin oleh Peruchen. Mereka sempat melawan ketika akan hendak di tangkap, akan tetapi karena jumlah tim Evan disana cukup banyak dan bersenjatakan lengkap, membuat keduanya memilih untuk menyerah.
...****************...
Di waktu lain Bas sedang sedang membaca buku di meja belajarnya. Dia fokus sekali dalam belajar matanya memandang buku tulis dan buku mata pelajaran dengan penuh kefokusan. matanya tidak berhenti untuk menatap buku yang di genggamannya.
Kakak Bas di didakwa atas kasus pembunuhan terhadap para korban, ia pun vonis oleh hakim yaitu 10 tahun kurungan penjara.
Berkat bantuan dan kerja sama Bas serta pengacara yang di panggil oleh Evan. Pengadilan waktu itu berjalan dengan lancar, walaupun ada dari pihak korban yang menyesali akan perbuatannya Asami kepada anggota keluarganya. Bahkan keluarga korban meminta kepada hakim agar Asami di hukum seberat-beratnya, tapi saat itu Pengacara menjelaskan akan sesuatu hal yang merujuk kepada Asami ia mencoba membandingkan kasusnya dengan kasus kejahatan lain.
Bas juga membantu jualannya debat antara pengacara dengan pihak korban, hakim memberi kedua pihak kelonggaran pada saat itu.
Ada dari pihak korban yang matanya berkaca-kaca saat mengingat akan kematian salah satu anggota keluarganya.
...****************...
Malam ini Ken sama dengan Evan, dia belajar bahasa pemrograman setelah mempelajari bab mata pelajaran untuk besok di semua mapel.
Selain memiliki hobi bermain basket Ken juga jago dalam hal pemrograman komputer, salah' satunya dia sangat suka pada saat mencoding.
Ayahnya memiliki hobi melukis bakatnya pun sangat luar biasa, walaupun itu hanya sekedar hobi saja bakatnya tersalurkan juga ke anaknya.
__ADS_1