Ayah Yang Tak Pernah Menua

Ayah Yang Tak Pernah Menua
Pasca Operasi


__ADS_3

Keesokan harinya, tepatnya jam 04:45. Evan bangun dari tidurnya. Setelah menjalankan proses operasi yang memakan waktu yang cukup lama, hingga berjam-jam.


Ia hanya tidur kurang lebih sekitar 30 menit saja, walaupun begitu, setelah bangun kondisi badannya tetap fit dan prima. Menjadi modal untuknya dalam mengawali hari.


"Rasanya sangat nikmat sekali aku bangun pagi hari ini, meski semalam suntuk aku menjalankan operasi hingga hitungan jam-jaman."


Evan tidur di kamar khusus menginap, karena fasilitas rumah sakit sekarang sudah berkembang. Bahkan beda jauh dari yang dulu.


Apalagi rumah sakit besar harus memiliki fasilitas yang layak dan standarnya sama dengan sebutannya.


"Ya. aku akan mandi terlebih dahulu, ng?, terus mengecek kondisi Rose. kata dokter dia akan siuman sebentar lagi, tapi? bukannya aku tidur..."


Evan melihat arlojinya.


"Menurutku sekarang ini Rose sudah siuman. tapi akan lebih baik aku kesana setelah sudah mandi."


Tidak terpaku dengan tempatnya sekarang, Evan langsung saja beranjak bangun dan pergi dari kamarnya.


Untuk Ayahnya, beliau tidur di kamar sebelah. Sedangkan Ken, Hyouga, dan kakeknya sudah duluan pulang dini hari.


Di jalan Evan berpapasan dengan seorang dokter yang menangani proses operasi Rose kemarin, dia lalu menyapa Evan.


"Selamat pagi tuan muda," sambil menunjukkan senyumanya sebatas gigi gerahamnya.


Dokter itu mengatakan 'tuan muda kepada' Evan sebab, mengetahui identitas Evan sebenarnya. Selamanya ini Evan adalah anak seorang Presdir terkemuka, tapi dia selalu menyembunyikan identitasnya dan jarang menggunakan kedudukannya pada kepentingan pribadi. Itulah mengapa sebagian orang tidak mengetahui.


"Pagi juga dok!, anda dokter yang ikut dalam operasi pasien bernama Rose kan?" sahut Evan sembari berhenti.


"Iya. saya dokter dalam operasi pasien tersebut, bukannya kita sama-sama di ruang operasi ya, tapi kamu kok kaya ngak mengenal bapak?"


"Saya baru mengingatnya dok, meski samar-samar sih. belum lagi di ruang operasi anda memakai masker!"


"Hehehe, ouh iya bapak lupa," balasannya dengan tawa kecil.


"Maaf dok!, saya sedang terburu-buru mau mandi, jika dokter ingin membicarakan sesuatu dengan saya, dokter bisa membicarakannya nanti!"


"Hmm, iya. kebetulan bapak memang mau membicarakan sesuatu denganmu, kalau boleh bapak sekarang memberimu kartu pengenal bapak. di dalamnya ada nomor dan alamat, kamu bisa menghubungi bapak kalau ada waktu senggang."


"Ya udah deh dok, aku terima kartu ini!"


Sementara di ruangan Rose berada, sekarang ini ia sudah siuman. Lalu datanglah seorang dokter yang memeriksanya, saat itu Iyumi juga ada disana menemani Rose.


Rose masih diam saja setelah siuman, bahkan wajahnya menunjukkan ekspresi kosong.


"Bagaimana dok?, apa Rose baik-baik saja," tanya Iyumi

__ADS_1


"Rose baik-baik saja, operasinya bahkan berjalan sempurna!, tapi.."


"Kenapa dok?, apa ada sesuatu dengan Rose?"


"Sepertinya begitu."


Seketika Iyumi terdiam. Dan dokter kembali melanjutkan berbicara atau menjelaskan kondisi terkini Rose.


"Walaupun operasinya sempurna, terkadang dalam dunia medis ada sebutan bagi pasien setelah menjalani operasi. dan yang kemungkinan terjadi kepada Rose adalah, gangguan psikologinya!"


Untuk kedua kalinya Iyumi terdiam mendengar ucapan dokter tentang putrinya.


"Jadi.., apa ada sesuatu yang bisa membuat Rose kembali seperti sediakala?"


"Sepertinya Rose harus berhenti bersekolah terlebih dahulu!, dan menjalani proses pemulihan. saran saya ini mungkin sepele tapi banyak manfaat untuk kedepanya," ucap dokter menyarankan Iyumi agar putrinya menjalani proses pemulihan.


Kemudian dokter mengajak Rose berbicara.


Sementara Evan sudah selesai mandi, karena waktu bangunnya tidak bersamaan dengan Rose. Evan bangun lebih awal darinya.


Evan berjalan menuju tempat Rose berada atau kamar Rose.


Dokter terlihat keluar dari kamar Rose. Evan lalu memasuki ruangan.


Dan di sambut hangat oleh Iyumi, namun Evan melihat ada kesedihan yang Iyumi sembunyikan.


Dengan jelas Iyumi menjelaskannya. Dan Evan faham betul dengan penjelasan Iyumi.


"Sepertinya Rose mengalami trauma pasca operasi!, bahkan dia tadi tidak menyahut panggilan sama sekali dan tatapannya kosong. tapi Ibu tenang saja, saya lumayan banyak belajar mengenai psikiater, saya janji akan melakukan yang terbaik demi kesembuhan Rose."


"Terimakasih nak, atas bantuannya. Ibu percaya kok kepadamu. karena ibu tau selama ini orang yang di cari Rose adalah kamu!"


"Huh?"


"Rose mengakuinya kepada Ibu, jika ia sedang mencari-cari seseorang!"


"Tapi kenapa ibu bisa nyakin jika aku orangnya?"


"Di handphone Rose ada poto sewaktu dia bersama kamu."


"Eh.., jadi begitu.."


Pagi jam 06:00 itu Lili sudah ada di rumah sakit dan membawa rantang berisikan nasi dan lauk.


Lalu menemui Evan di ruang menginap.

__ADS_1


Ketika bertemu Evan, rupanya Ayah juga ada disana. Mereka kelihatannya sedang mengobrol.


"Akhirnya putri kecil papa datang!, bawa makanan lagi."


"Iya nih, ada nasi dan lauk yang Lili bawa, Kakak sama Ayah bisa langsung makan aja!"


"Ouh ya, nih piringnya. Lili lupa," ucap kembali Lili karena kelupaan sesuatu, lalu ia menyodorkan piring dari dalam tasnya.


Evan dan Presdir langsung saja sarapan. Padahal mereka dari tadi sedang menunggu antaran makanan pesanan on-line.


"Mm e..na..k ban..get.." ucap Presdir yang berbicara saat makan.


"Hey, Yah. jangan berbicara kalau mulut penuh nasi dan lauk!" ucap Evan memperingatkan Ayahnya.


"Iya.., egh," balasnya sambil minum.


"Masakan kamu hari ini sangat enak!, bapak jadi tergiur pengen nambah lagi," kata Presdir senang sambil menyodorkan piringnya kepada Lili.


"Eh..., segitu kah?" ucap Lili yang lalu meraih piring Presdir.


"Benar apa kata Ayah Lili, masakan mu hari ini memang berbeda."


Hari ini masakan Lili sangat enak, Ayahnya bahkan memujinya dan Evan juga. Padahal mereka ini bisa berkata begitu karena kondisi mereka saat ini memang sedang lapar.


...****************...


Rose pun menjalani proses pemulihan di rumah sakit.


Tiap hari Evan datang bersama Lili guna untuk menghibur Rose.


Hari berikutnya teman-teman Evan datang menjenguk, meski sebelumnya mereka tidak mengenal Rose. Tapi mereka berkenan untuk menjenguknya.


Setiap hari Evan datang sampai kondisi Rose membaik dan sudah bisa mengucapkan sepatah kata. Serta akhir-akhir ini Rose banyak menunjukkan senyumanya.


Tapi hanya kepada Evan dan Lili.


Saat itu ketika Ken menjenguk dia membawa bunga dan buah. Memasuki ruangan Rose Ken langsung menyapanya, lebih-lebih mala berkata manis.


"Hey gadis cantik..., apa kabar?"


Hal itu mengingatkan Rose kembali akan sesuatu, sehingga ia menunjukkan muka bencinya kepada Ken dan melempar bantal ke arahnya.


Saat itu memang Ibu Rose sedang tidak ada disana mereka hanya berdua.


"Wah? kenapa ini, kenapa aku di serang?"

__ADS_1


Untungnya Evan datang dan langsung menenangkan Rose.


Sementara Ken pergi menjauh sembari meletakkan barang bawaannya.


__ADS_2