
Tempat selanjutnya yang mereka datangi adalah pusat perbelanjaan besar yang ada di kota ini, bernama Big Plaza. Dan dari awal memang tujuan merekalah yang ingin pergi kesini, atau lebih tepatnya Lili yang mengajak Evan.
Memasuki pusat perbelanjaan terlihat banyak sekali customer yang memadati suatu tempat khusus. Misalnya tempat yang menjual aneka aksesoris, namun berbeda dengan tempat lain.
"Ayo kita lihat-lihat ke sana!, kayaknya lagi ada diskon tuh," ucap Lili seraya menarik tangan Evan, dan tatapannya seakan tertarik dengan papan bertuliskan diskon.
Masih dengan kepura-puraannya Evan mengikuti Lili yang menuju ke tempat tersebut.
Ketika sampai Lili langsung saja melepas tangan Evan dan melihat pakaian dan gaun yang terpajang disana. Tak lupa pula ia menyentuhnya.
"Wah..., gaunnya bagus-bagus sekali..., hmm, boleh ngak ya aku mencobanya?"
"Hmm, tentu saja boleh!" ucap Evan menyahutnya.
Mendengar suara heboh dari arah tempat pakaian. Membuat seorang wanita berbaju rapi datang dan menghampiri mereka berdua.
"Bisakah saya bantu?" nada bicaranya sopan.
"Akhirnya ada yang kemari," gumam Evan.
"Aku mau mencoba gaun-gaun dan pakaian ini, kalau boleh tau di mana tempatnya ya?"
"Boleh-boleh, silahkan!, saya akan tunjukkan tempatnya."
Setelah itu, perempuan tadi menyuruh Lili untuk mengikutinya, yang kemudian Lili masuk ke dalam tempat ganti pakaian.
Ada pun fasilitas mewah lain yang difasilitasi di tempat ini. Seperti seorang maid yang akan membantu Lili dalam menganti pakaiannya serta make up-nya.
Hingga beberapa saat Lili akhirnya keluar dan dia terlihat sudah berganti pakaian dengan mengenakan gaun putih bergambar bunga-bunga. Kesannya sangat anggun dan cantik.
Evan dari tadi menunggu Lili, sampai ia akhirnya harus mencairkan suasana dengan mengajak mengobrol perempuan tadi.
Beberapa saat kemudian.
"Bagaimana gaun ku kak, apa kakak menyukainya?"
"Mmm??"
"Ya, gaunnya sangat cocok dengan mu!" jawab Evan mengomentari gaun Lili tapi tatapannya
biasa.
"Ya udah aku ganti yang lain."
Lili ngambek seraya memalingkan wajahnya, dan pergi begitu saja menuju tempat ganti pakaian lagi.
****************
Evan kembali menunggu Lili berganti pakaian lagi. Meski sekarang ia tidak mengobrol lagi dengan perempuan tadi, karena ada pelanggan lain yang datang.
"Kurasa aku tidak mendapatkan sesuatu dari
sini!"
"Hmm, apa ya kira-kira?, agar aku dapat memastikannya lagi."
"Sepertinya agak mustahil sih menurutku, masa iya aku bermimpi dan aku mala bermimpi lagi saat aku tidur, kan itu aneh?" ucap Evan dalam hatinya bermonolog sendiri.
__ADS_1
****************
Selesai berganti, Lili pun menunjukkan gaun yang ia kenakan kepada Evan. Dan menunggu jawaban darinya lagi.
Tapi sayangnya Evan menunjukkan ekspresi sama seperti sebelumnya, sehingga Lili kembali pergi begitu saja.
Evan sempat akan mencegahnya, namun Lili begitu cepatnya pergi. Sehingga Evan harus menunggunya berganti pakaian lagi.
Dari kejauhan perempuan tadi melihat Evan, ia pun berkata di dalam hatinya.
"Sungguh pria yang pengertian sekali, aku jadi iri dengan pacarnya. kekasihnya pasti beruntung memiliki seorang pacar sepertinya!"
Sampai Evan melupakan sejenak tentang mimpi, dan ia sekarang sedang fokus memikirkan tentang Lili.
"Sebenarnya kenapa dengan Lili?, apa dia
masih belum cocok memilih gaun, atau mungkin... karena ia minta aku puji. tidak-tidak mana mungkin sih," ucap Evan dalam hatinya.
Kembali datang di hadapan Evan dengan gaun yang baru saja ia ganti. Lili memandang Evan dengan penuh harapan.
Penampilannya pun lebih cantik dari yang sebelumnya, karena Lili sudah di make up over oleh maid.
"Hn!"
"Lili kamu..." ucap Evan yang memandangi Lili.
Evan terpesona dengan penampilan Lili sekarang.
"Apa barusan aku terlihat meyakinkan?" ucap Evan dalam hatinya.
"Eh!" pipi Lili memerah di buatnya.
"Iya sungguh!"
Mendengar perkataan Evan barusan membuat Lili akhirnya menyudahi memilih gaun. Dan kemudian menyuruh perempuan tadi untuk membungkus gaun tersebut.
"Aku memilih gaun tadi buka karena kamu memujiku ya kak!" ucap Lili sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Iya-iya..."
...****************...
Setelah itu mereka berdua pergi ke tempat permainan.
Tak di sangka di Big Plaza mereka berdua bertemu dengan Bas yang sedang bermain bersama dengan seorang cewek.
"Heh?, itu bukannya Bas ya. lah dia ada disini, hmm tumben sekali."
"Bas temanmu ya Kak?"
"Iya, dia temanku yang aku ceritakan kepada mu waktu itu!"
"Eh, jadi dia ya penulis novel yang aku baca," ucap Lili
"Lebih tepatnya dia seorang penulis Novel!"
"Mmm!"
__ADS_1
Evan menghampirinya.
Evan menyapa Bas yang sedang fokus dengan seorang cewe di depan layar game.
"Hai Bas, senang melihat mu berada disini?"
Bas menoleh dan berkata.
"Ev?, kamu sedang apa disini."
"Kenapa kamu jadi bertanya balik, harusnya aku yang berkata begitu."
"Uhm, aku sedang menemani seseorang disini!"
Kemudian cewe yang bersama Bas berhenti memainkan game tersebut. Lalu ikut gabung berbicara dengan mereka.
"Hai..., namaku Hitomi," ucap Hitomi dengan senyum ramah di wajahnya.
Evan dan Lili menyahutnya. Yang kemudian mereka duduk di sebuah bar mini dan memesan sebuah makanan dan minuman.
Setelah makanan dan minuman mereka sudah datang, mereka pun berbincang-bincang sambil menyantap makanan didepannya.
Ternyata cewe tersebut adalah fans dari
Bas yang sengaja bertemu di Big Plaza.
Awalnya Bas kaget karena ia tidak mengenal cewe tersebut, tapi katanya dia mengaku sebagai fans dari novel yang Bas tulis.
Kemudian mau tidak mau Bas harus memberikan sebuah kesan pertama yang berkenan. Jadi ia terpaksa menuju ke tempat game dan bermain bersama wanita itu.
****************
Hyouga saat ini bangun dari pingsannya. setelah sadar ia pun terkejut, karena Ibu dan Ayahnya sudah ada di hadapannya.
"Ayah kenapa pulang?, bukannya ayah masih bekerja," ucap Hyouga dengan suara kecil dan lirih.
"Ayah sangat khawatir kepadamu nak, setelah ibu menelpon ayah jika kamu pingsan!"
"Ouh, jadi begitu. aku hanya sedang lelah saja."
"Hyouga, kamu sebenarnya kemana setelah pulang dari rumah?, kenapa kamu bisa pingsan seperti ini," tanya Ayah Hyouga.
"Sudahlah yah, biarkan Hyouga beristirahat dulu dia kan baru bangun sekarang!" ujar Ibu Hyouga kepada suaminya.
Lalu kedua orang tua Hyouga pergi meninggalkan Hyouga di kamarnya.
Di meja rupanya sudah ada buah-buahan dan makanan spesial serta air dan juga obat untuk Hyouga.
Hyouga pun melihatnya.
"Kenapa setiap aku sakit ayah dan ibu selalu begitu? mereka membelikan makanan enak dan juga membeli buah-buahan untuk ku. padahal kalau...tsk sial kepala ku masih sakit!" kesal Hyouga.
Setelah pikirannya tenang Hyouga memutuskan untuk bertemu dengan Evan lagi.
Dan akan membicarakan suatu kesepakatan penting dengannya.
Maaf ya di bab ini Double, Author terlalu ceroboh
__ADS_1