Ayah Yang Tak Pernah Menua

Ayah Yang Tak Pernah Menua
Menipu Balik Kejahatan dengan Sebuah Kebohongan


__ADS_3

Untuk mencari tahu keberadaan pasti orang yang Evan cari, Sein mencoba mencarinya melalui sebuah rekaman CCTV yang terpasang di area sekitar pantai dan tempat-tempat tertentu.


Yang pada awalnya Sein menghubungi pihak yang bersangkutan untuk memudahkan tugasnya.


Tak butuh waktu lama untuknya mencari. Akhirnya Sein menemukan orang tersebut yang sekarang ini sedang berjalan menuju tempat pembangunan.


"Tsk.. ternyata dia adalah pembohong besar," ucap Sein ketika melihat orang tersebut dari CCTV yang sedang mengobrol dengan seseorang.


Hujan semakin deras disertai petir yang persekian menitnya terdengar.


Suara guntur pun tak kalah ikut serta dalam meramaikan suasana tersebut.


Di daerah tempat pembangunan sebuah gedung. Evan berjalan sambil sesekali mengintai keberadaan orang yang ia cari (meteorolog).


"Kalau mereka hendak meledakan sebuah tempat kenapa harus tempat yang sepi, seharusnya kan sebaliknya. aku bingung kepada para ******* itu," pikir Evan dalam hatinya.


"Aku nyakin sekali bahwa mereka akan meledakan bangunan itu,"


Di saku jaketnya, Evan membawa sesuatu.


Gelap karena mendung dan dingin karena suhu yang meningkat. Evan berupaya untuk secepatnya menyelesaikan misi kali ini.


Misi yang Evan lakukan tanpa bantuan dari pihak kepolisian. Namun berbeda kali ini, karena Evan melakukannya seorang diri.


Di ruangan tempat Sein melihat CCTV.


Tiba-tiba sambungan CCTV tersebut mati atau berupa gambar semut yang tergambar.


"Bagaimana mungkin mereka memiliki seorang hacker. sial, aku tidak menduganya," umpat Sein kesal.


"Kurasa aku harus memberi tahu Evan,"


Sein mengabari Informasi barusan, berupa CCTV yang ia duga sedang di hack oleh seseorang. Sehingga Sein langsung menyampaikan hal tersebut kepada Evan, yang sekarang ini masih mengintai disana.


Evan lalu berpindah tempat ke sebuah tenda besar berisi bahan material.


Jdarrr...


Suara Guntur terdengar lagi disertai angin kencang.


Selang beberapa waktu, Evan melihat orang yang sedang mengendap memasuki bagian belakang dari gedung bangunan tersebut. Meski dia harus basah karena terkena sedikit air hujan.


Dia bergerak cepat seolah-olah ahli dalam melakukan hal tersebut.


Sepi tak ada penjaga pantai maupun orang yang berkeliling di sana. Sama halnya seperti ia leluasa melakukannya.


Akhirnya, Evan berpindah lagi setelah dinilai cukup aman untuknya. Pandangan Evan pun tak lepas untuk mengamati sekitarnya.


Kericuhan pun terjadi di hotel, tepatnya di ruang CCTV khusus.


Di sana para pengawas terkejut karena CCTV sekarang ini sedang di hack oleh seseorang.


Kembali kepada Evan, ia sekarang melihat satu orang yang beranjak cepat menuju lantai atas dengan menaiki sebuah tangga.

__ADS_1


Tap....tap...tap...


Langkahnya terdengar oleh Evan.


"Aku harus berhati-hati, disini sangat gelap. tunggu, bukannya tombol stop kontak dalam kondisi on," ucap Evan dalam hatinya, melihat sebuah tombol stop kontak lampu.


"Mungkin saja mereka sengaja mematikan daya lampu untuk meminimalisir terjadinya hal yang tak terduga, atau pihak pembangunan lupa untuk menyalakannya dari pusatnya.


Evan menaiki tangga dan melihat sekitarnya.


Kini Evan berada di lantai 2 yang keadaannya sekarang ini terlihat masih belum selesai di bangun.


Tiba-tiba dari arah belakang Evan merasakan gesekan udara akibat sesuatu benda yang melesat cepat menuju kearahnya.


Srekk...


Seketika Evan menghindarinya.


Setelah membalikkan badan Evan berhadapan dengan orang yang ia cari.


"Bukannya anda.. seorang meteorolog yang waktu itu berkunjung ke resto?" tanya Evan untuk memastikannya.


Evan masih mengenali orang tersebut, meski minim akan pencahayaan.


Barusan Evan menghindar dari serangan besi panjang yang orang tersebut Lesatkan kepadanya.


Bukannya panik, Evan mala bersikap tenang dan memulai pembicaraan.


"Begitulah..," jawabnya dengan tangan yang masih mengengam besi panjang di tangannya.


"Cih, jangan sok berlagak polos kau ini!. aku tahu kau pasti punya maksud tertentu, mana mungkin orang seperti mu bisa berada disini," dia agak marah setelah mendengarnya.


"Lagak bicaranya berubah total. benar-benar dia seorang pembohong besar, persis seperti yang di katakan oleh Sein," ucap Evan dalam hatinya.


Evan melihatnya sambil melirik sebuah koper, yang tempatnya tak jauh dari orang tersebut berdiri.


"Koper itu..,"


Koper yang sama persis ketika Evan melihatnya di siang hari.


Dalam pikirannya Evan mengira, jika orang yang ia curigai di siang hari. Waktu itu adalah seseorang yang ia curigai juga saat dia berada di resto.


"Apa kau ini hendak menghentikan ku.., kau juga sepertinya tahu apa yang aku lakukan disini?"


"Tidak!!, aku disini hanya untuk sekedar lewat saja,"


"Apa!!, hanya lewat,"


"Iya, aku hanya orang yang kebetulan lewat saja untuk mengambil sesuatu. barusan aku melihat seseorang yang mengendap yang membuatku penasaran untuk membuntutinya,"


Dalam hatinya orang tersebut berkata.


"Dia kelihatannya tidak mencurigakan sama sekali, jika aku lihat, dia adalah seorang pelajar bukan," ucapnya dalam hati.

__ADS_1


"Meskipun begitu, aku akan menanyakan kepadanya. kenapa barusan ia dapat menghindari serangan dariku, padahal kondisi sekarang ini tidak memungkinkan dia dapat melihat dengan jelas. Tsk.. bahkan serangan itu dari belakang,"


Orang tersebut penasaran dengan aksi Evan tadi, ketika ia hendak menyerang Evan dari belakang. Orang tersebut menjanjikan sesuatu di benaknya. Dan jika jawaban Evan tidak sesuai, maka ia akan langsung menyerangnya.


"Kenapa barusan kau dapat menghindari serangan ku?"


"Serangan?, uhm aku tidak mengira itu sebuah serangan. justru aku mala kaget anda memberitahukannya kepadaku,"


"Jangan berpura-pura kau!!, aku adalah anggota militer elite. serangan tadi mana mungkin aku meleset,"


"Aku hanya pelajar biasa, sekarang ini aku sedang berlibur. ya, aku mendapatkan sebuah kesempatan untuk datang kesini karena memenangkan sebuah undian,"


"Jangan mengalikan topik, jelaskan bagaimana kau dapat menghindar tadi?"


"Sungguh, tadi aku cuma kebetulan menghindar saja. di tempat yang minim cahaya ini mana mungkin pelajar biasa seperti ku dapat berlagak hebat,"


Perkataan Evan membuat orang tersebut berpikir untuk yang kedua kalinya.


Tstttt...


Suara seseorang yang sedang berkomunikasi kepada orang tersebut melalui Earpiece atau penyuara telinga.


"Bagaimana?, kenapa tidak terdengar suara ledakan dari sana. apa kau ada kendala,"


"Maaf-maaf, aku akan menyelesaikan segera,"


"Baik, aku pegang omongan mu,"


"Oke,"


Bocah ini mala seperti menunda pekerjaanku saja.


"Aku akan to the point, sekarang ini aku akan meledakan bangunan ini,"


"Hehehe aku ingin lihat reaksinya sekarang," ucapnya dalam hati.


Evan pun terlihat panik seolah-olah dia sedang di terkam di depan harimau yang kelaparan.


"Tidak-tidak!!, aku tidak ingin mati, ya ampun...tolong aku ibu," ucap Evan sambil tangannya menyentuh muka.


"Dia terlihat seperti seorang anak kecil saja hehe. baik aku langsung ke inti acaranya heeh," ucapnya dalam hati.


"Maaf nak, ini adalah akhir dari kita berdua. aku harap kita dapat bertemu lagi di dunia yang berbeda," ucapnya dan akan memencet sebuah tombol.


"Apa dia berkata tentang dunia lain, apa yang ia maksud adalah reinkarnasi atau alam baka," ucap Evan dalam hatinya.


Dan seketika orang tersebut hendak memencet tombol.


Dan...


"Kenapa..kenapa, aku tidak dapat mengerakan tanganku,"


"Apa bocah itu melakukan sesuatu kepadaku, tapi dia bahkan tidak melakukan aksi apapun, kecuali..,"

__ADS_1


Evan pun tertawa gila dalam benaknya.


__ADS_2