
Evan masih saja sulit untuk mengatakan "ya" sebagai perkataan setuju berpacaran dengan Rose. Ia kini masih melamun, pandangannya tertuju ke bawah yang memikirkan lebih dari jawabannya.
"Maaf Rose, sebenarnya aku sudah berpacaran dengan seseorang!" ucap Evan jujur menatap wajah Rose penuh harap.
"Iya aku tau, aku tau kamu sudah punya pacar. Maafkan aku ya Evan, aku tadi menyuruh seseorang untuk mengawasi mu!" balas Rose dengan mimik penyesalan di wajahnya, ia juga jujur kepada Evan.
"Hahaha."
"Ev...?"
"Aku sewaktu di sekolah mengetahui seseorang itu! Lalu aku berniat untuk menangkapnya!" jelas Evan seusai tertawa geli.
Bisa-bisanya mereka berdua sama-sama jujur dalam perkataannya.
"Gini Rose, bukan karena kondisimu sekarang yang membuatku tidak mau berpacaran denganmu, hanya saja aku sudah memiliki seseorang yang harus ku jaga!" tegas Evan di dengan dan di saksikan oleh Rose.
__ADS_1
"Kamu lupa ya? Aku ini tunangan mu!"
"Untuk itu aku akan menyetujuinya, lagi pula aku sudah berjanji, bahwa aku akan menikah dan menjagamu."
Ungkapan Evan membuat Rose terpanah, gundah gulana dalam hatinya perlahan mulai sirna. Ucapan tadi sekaligus memberitahukanya harapan dan kesempatan, untuk bersama dengan Evan. Bila perlu menjadi seorang kekasih tuk selamanya. Batin Rose.
"Beneran kan? Aku nggak salah denger Evan?"
"Iya, makanya hari ini aku bersedia membuang kenangan di acara perpisahan sekolah, hanya untuk melihat mu!" ucap Evan, meskipun ada kebohongan di balik kata-kata, yaitu mengenai Evan yang bermimpi tentang hal yang menimpa Rose dan Lili.
Rose pun langsung saja menyanggupinya. Di satu sisi Lili yang ikut membantu juga seakan dijadikan babu oleh mereka berdua. Bahkan Lili menatap Evan dan Rose dengan sebalnya, hal itu karena dia sendiri cemburu melihat kakaknya bermesraan.
Perasaan lama yang tersimpan akhirnya kembali, Lili berniat untuk merebut kakaknya dari Rose, meskipun ia berteman akrab dengannya.
"Sakit banget tahu... rasanya di giniin!" ucap Lili dalam hatinya.
__ADS_1
Mendapati ide yang terlintas di pikirannya, Lili pun memulai aksinya. Dengan mendekati dan merangkul lengannya di dada.
"Kak... aku mau bantu... ! Bolehkah aku berada di sisimu, eh, maksudku supaya bisa mudah dalam membantu!"
"Kok Lili begitu ya, biasanya dia tidak segini energik sama Evan. Apa jangan-jangan dia memiliki dua kepribadian?" ucap Rose bertanya-tanya dalam hatinya.
"Maafkan aku Kak, aku udah memutuskan bahwa aku ingin menjadi istri Kakak!" batin Lili.
Seketika Evan menjadi rebutan oleh keduanya dalam diam. Merayu, memberi kasih sayang, mengharapkan bantuan, dan lain-lain. Seolah Lili dan Rose sedang dalam duel untuk memperebutkan Evan. Yang mungkin Evan lah adalah hadiah utamanya.
Evan juga agak risih lama-lama, apalagi Lili yang nekat menjadi seorang cewek yang menggoda bagi Evan. Lili faham tipe cewek Evan seperti apa. Dan ia berusaha untuk menjadi seperti itu.
"Apa-apaan mereka ini! Kenapa mala seperti bertempur di medan perang," ucap Evan dalam hatinya.
Alhasil, masakannya menjadi berbeda dengan ekspektasinya. Karena Evan agak sedikit marah kepada mereka berdua, ia pun melampiaskannya dengan menyuruh kedua untuk mencicipi masakan tadi.
__ADS_1