Ayah Yang Tak Pernah Menua

Ayah Yang Tak Pernah Menua
Ingatan Masa Lalu


__ADS_3

Di suatu ruangan Evan masih mengobrol dengan Sein mereka membicarakan tentang penyelamatan anak-anak maupun gadis-gadis yang masih di tawan oleh penjahat di sebuah tempat lebih tepatnya di dalam hutan Dark forest.


Dalam obrolan tersebut Sein banyak berspekulasi dan Evan juga memikirkan hal sebab dan akibat, hanya saja di balik spekulasi Sein yang terkesan bisa mungkin terjadi, pada akhirnya ia melarang Evan untuk melakukan penyelamatan bersama teman-temannya. Bukan karena ia meremehkan kemampuan Evan maupun teman Evan sendiri namun dia khawatir mengenai keselamatan Evan mengetahui sangat berbahaya di dalam hutan Dark forest.


Di situasi ini Evan mengunakan informasi yang di berikan Sheila kepadanya.


"Dengarkan aku baik-baik Sein, dari informasi yang aku dapat di bawah rumah penjahat itu ada banyak sekali bom yang sudah di pasang, dia memasang itu untuk berjaga-jaga jika kejahatan yang dia lakukan suatu saat nanti akan terbongkar, serta informasi lain bahwa dia juga adalah seorang dengan kelainan tertentu, itulah mengapa aku melakukan penyelamatan ini bersama timku untuk menghindari hipotesis yang aku pikirkan, aku akan membuat rencana khusus untuk menyelamatkan mereka(para anak-anak maupun gadis) agar aman terlebih dahulu!"Ucap Evan.


Sein terlihat terdiam, hingga beberapa saat ia pun berkata lagi.


"Hipotesis ya, berarti hipotesis mu mengarah ke sebab jika saja kita melibatkan polisi, aku ingin tau sebenarnya apa hipotesis mu Evan?"Ucap Sein.


"Hehehe, lebih tepat jika kita melibatkan polisi maka dia akan melakukan bom bunuh diri sebelum polisi itu menangkapnya!"Ucap Evan dengan senyum menyeringai.


"Apa, dia akan melakukan hal seperti itu?"Ucap Sein yang kaget mendengarnya.


"Benar sekali, dia itu gila aku menduga itu ketika waktu aku masih kecil, kau mungkin masih ingat berita di tahun 2009, di berita itu di kabarkan ada seseorang yang meledakan pabrik gas, alasan di balik semua itu tidak ada yang tau bahkan kasus itu di tutup karena pelakunya sulit di temukan!"Ucap Evan.


"Jadi apa hubungannya dengan kejahatan orang di rumah itu dengan dia, apa mungkin dia orang yang sama?"Ucap Sein.


"Menurutku iya, dia orang tersebut yang meledakan pabrik gas, dari berita itu ada sebuah CCTV yang memperlihatkan wajah dia ketika meninggalkan area pabrik yang berjarak agak jauh!"Ucap Evan.


"Tunggu sebentar, jika tidak salah polisi waktu itu menetapkan orang yang di CCTV sebagai pelaku peledakan pabrik gas, karena dia tidak di temukan dalam pencarian saksi ledakan maupun tersangka, dia juga memiliki luka di wajahnya bukan?"Ucap Sein.


"Benar sekali, jika aku ingat-ingat dulu ketika aku bersama ayah menaiki helikopter untuk ke gunung Moon aku melihat seseorang dengan wajah aneh dan dari informasi yang Sheila berikan benar jika orang yang menjadi ketua kejahatan di rumah itu adalah seseorang dengan wajah yang cacat, jika di simpulkan dengan gambaran tempat dulu aku melihat orang aneh dan tempat rumah yang di gambarkan Sheila, maka dialah orangnya, orang yang meledakan pabrik gas, dia masih hidup sampai sekarang dan dia tidak bunuh diri seperti yang di beritakan, akan tetapi melakukan aksi kejahatannya sampai akhir hayatnya dengan menculik anak-anak dan gadis untuk di perjual-belikan yang lebih parahnya dia bertujuan untuk menciptakan keluarganya sendiri!"Ucap Evan dengan ekspresi marah.


Sein terdiam dengan seribu bahasa mendengar apa yang di ucapkan Evan, bahkan dia sulit untuk menanyakan beberapa pertanyaan lagi kepada Evan.

__ADS_1


"Aku kaget dengan hipotesis mu Tuan."


Dalam hati Sein berkata.


"Apa semua itu benar, walaupun hanya hipotesis namun semua yang di katakan tuan sangat serius, dengan beberapa informasi dan ingatannya tuan bisa menyimpulkan jawaban yang seperti itu bahkan aku sendiri tidak menduganya dia memang layak menjadi penerus Perusahaan Ayahnya kelak, ada satu pertanyaan yang belum aku tanyakan ke tuan, aku ingin tau jawaban apa yang akan dia berikan."


Sesat Sein pun terbangun dari keadaan diamnya dan berkata.


"Tuan ada beberapa pertanyaan aku ingin menanyakan kepada tuan dengan serius!"Ucap Sein.


"Hmm, ya kamu bebas menanyakan itu Sein, ngomong-ngomong kamu lebih baik memanggilku Evan saja ketika atyah tidak ada aku jadi merasa sangat tidak enak, jujur saja!"Ucap Evan.


"Baiklah, pertanyaanku adalah kenapa kamu tidak memberitahukan kepada Ayahmu kalau kamu sendiri melihat orang yang mirip dengan pelaku peledakan pabrik waktu itu, jika saja kamu memberitahu itu sejak lama mungkin dapat mengubah masa depan sekarang kan Evan?"Ucap Sein.


"Itu karena aku fokus untuk bermain dengan Ayah di gunung bahkan aku melupakan sosok itu yang terlihat berjalan menuju suatu daerah dengan tanah rendah di hutan itu jadi aku tidak memperdulikan dia karena dulu aku termakan rumor sosok misterius di hutan Dark forest!"Ucap Evan yang memberitahukan perasaan waktu itu.


"Alasanmu terdengar sepele, tetapi dengan semua yang kamu temukan itu semua dapat memberikan petunjuk yang jelas kepada si pelaku itu!"Ucap Sein.


"Boleh, akan tetapi dengan satu syarat misi penyelamatan ini harus dengan rencana yang matang!"Ucap Sein.


"Baiklah, serahkan saja padaku Sein!"Ucapnya mengakhiri pembicaraan.


Sein pun pergi dari ruangan.


Dalam hati Evan berkata.


"Dari tadi Lili dan Sheila belum terlihat, apa mereka sedang tidur di Kamar ya, huh aku akan ke dapur dulu."

__ADS_1


Sebelumnya sesudah mandi ia(Sheila) langsung bergegas pergi ke dapur, ia berharap dapat memasak untuk membuat hidangan makan malam.


Sambil membuka kulkas Sheila berkata.


"Kulkasnya penuh dengan bahan makanan, ini sangat cukup untuk memenuhi beberapa menu makan malam, kayanya hanya ini yang bisa aku lakukan untuk membalas kebaikan mereka."


Dengan hati yang gembira, Sheila pun mulai mengambil beberapa bahan makanan dari kulkas, sambil mengingat beberapa waktu yang lalu ketika ia bertemu Evan, Sheila pun memulai memasak dengan memotong-motong beberapa bahan serta menyiapkan bumbu pelengkap yang ia ambil di lemari. Dapur di villa Ayah Evan sangat luas bahkan jika di bayangkan seperti Sebuah tempat tinggal kecil-kecilan yang bisa ditinggalali oleh dua sampai 4 orang sekaligus.


Sebelum itu Sheila dan Lili sempat mengobrol di ruang tamu.


...****************...


Evan yang saat ini hendak pergi ke dapur untuk membuat makanannya sendiri, melihat Sheila yang sedang memasak di dapur, ia bahkan terlihat manis dengan mengenakan celemek berwarna pink itu.


Pada akhirnya Evan menghampirinya, melihat Evan yang ada di dapur Sheila meminta maaf karena membuat beberapa menu makanan untuk malam ini, ya sebelumnya Sheila belum izin sama sekali, di villa ini pun sedang kosong tidak ada pembantu (di malam hari) hanya penjaga di luar yang sedang berjaga, biasanya Evan ketika berkunjung di villa ia membuat makanan sendiri sedangkan Lili memesannya melalui aplikasi online. Evan dan Lili tinggal di villa sementara, karena beberapa bagian rumahnya sedang di renovasi, hal tersebut juga di manfaatkan mereka berdua untuk mencari nuasa baru.


Evan yang melihat Sheila memasak berkata.


"Sebagai tamu harusnya aku yang membuat itu Sheila dan kamu yang menunggu di tempat makan!"Ucap Evan.


"Mmm, tidak apa-apa kok Evan aku hanya ingin menunjukkan rasa terima kasihku kepada kamu maupun Lili yang sudah banyak membantuku, walaupun ini bukan seberapa aku harap apa yang aku lakukan bisa membuat kalian senang!"Ucap Sheila dengan nada kecil.


"Ya baiklah kalau kamu berkata seperti itu, apa aku boleh ikut membantu?"Ucap Evan.


"iya boleh kok Evan!'Ucap Sheila dengan senyumannya.


Mereka pun bersama-sama memasak untuk membuat menu makan malam.

__ADS_1


...****************...


Kedewasaan bukan di liat dari usia tapi di lihat dari sikap tindakan dan tingkah laku.


__ADS_2