Ayah Yang Tak Pernah Menua

Ayah Yang Tak Pernah Menua
Muncul Lagi Masalah Baru


__ADS_3

Di jam 04:43 Evan bangun dari tidur lelapnya.


Bukan karena kebiasaannya yang selalu bangun petang-petang, tapi kali ini Evan bangun karena mencium bau harum dari arah dapur. Padahal pintu kamarnya terkunci.


Evan membuka matanya perlahan bersamaan dengan bau harum dari dapur yang ia cium. Ketika menengok ke arah samping tempat yang seharusnya Rose berada, Rose rupanya tidak ada sana, disamping Evan maupun di dekatnya.


Evan bersikap tenang seperti biasa, kemudian mengusap mata dan merapikan rambutnya.


Beranjak bangun dari tempat tidur, Evan menuju ke arah dapur. Di sana Evan mendapati Rose yang sedang memasak, membuatnya agak kaget sekaligus takjub.


"Lho, Rose kok bisa bangun sepagi ini ya, apa mungkin karena pekerjaannya. ya itu pasti," ucap Evan dalam hatinya.


"Kamu udah bangun ya Evan?, maaf ya aku membangunkan mu," ucap Rose di selingi permintaan maaf darinya, karena ia pikir ia membuat Evan bangun.


"Tenang aja, ini mala kebiasaanku bangun pagi. btw... kamu sedang masak apa Rose?" Evan menanyakan kepada Rose perihal apa yang Rose masak.


"Aku membuat menu spesial nih..., coba tebak?, aku lagi masak apa. nanti aku kasih hadiah deh..."


"Dari bumbu dan bahan-bahan saja sudah ketebak, jika Rose sedang memasak makanan rumahan. hmm, rupanya itu," ucap Evan dalam hatinya, serta baru saja


"Hmm, baunya harum sekali!, sampai-sampai baunya bisa nyampe ke kamar," ucap Evan sambil mengendus bau harum dari masakan Rose.


"Iyakah?, apa karena aku pakai bumbu ini ya."


"Itukan bumbu bermerek terkenal. bumbunya bahkan sangat menyerebak untuk sebuah bumbu masak." seru Evan yang paham betul tentang bumbu yang di pakai Rose.


"Nah, jawaban ku adalah kamu sedang masak sup miso kan?"


Jawaban dari Evan membuat Rose menunjukkan senyumnya.


Seperti yang Evan harapkan, Rose keliatannya tidak membutuhkan bantuannya sama sekali. Dengan sekali pandang Evan bahkan dapat memahaminya. Melihat kecepatan tangan Rose yang lihai saat Rose memotong tahu menjadi bentuk persegi. Dan tangannya juga keliatan cekatan dalam membagi tugas.


Evan melihat bumbu dan bahan-bahan yang sudah tersedia. Membuatnya berpikir jika Rose bangunannya terlalu dini.


Langkah Evan kini tertuju kearah dispenser dan hendak meminum air.


Setelah itu Evan meninggalkan Rose, Evan memperhatikannya untuk sesaat. Meski tadi ia sempat melihat bulir air mata di sudut pelupuk mata Rose.


Setelah selesai membuat sup, Rose menyajikannya sup miso dalam mangkuk dengan taburan daun bawang.


*


Di pagi itu juga Sein menelpon Evan untuk membicarakan hal penting dengannya.


Kebetulan sekali handphone Evan berada di saku celananya, sehingga ketika ada seseorang yang menelpon ia langsung mengangkatnya.

__ADS_1


Tak lama suara lagu terdengar dalam saku celana Evan.


"Tumben sekali Sein meneleponku pagi-pagi begini?" ucap Evan dalam hatinya.


Sein langsung saja two the point dengan apa yang akan dia bicarakan.


Yaitu mengenai seseorang yang telah mengirimkan kepadanya sebuah pesan berisi ancaman.


Evan menanggapinya dengan dengan tenang, dan menunggu penjelasan langsung dari Sein.


Beberapa menit berlalu Evan dan Sein membicarakan hal yang berhubungan dengan isi surat ancaman itu. Bukan sekedar isinya saja, melainkan kebanyakan mencari cara untuk mengatasi masalah ini, dengan mengemukakan berbagai deduksi.


Walaupun sebenarnya Evan agak sedikit marah dengan rencana liburnya yang terganggu.


Pertama aksi orang jahat yang viral dengan membawa bom. Dan sekarang muncul lagi masalah baru.


**


Matahari terlihat sudah mulai terbit, sehingga sinarnya memberikan semangat bagi mereka yang akan memulai hari.


Evan saat ini bertemu dengan Hyouga dan Bas di sebuah bar mini kecil di dalam hotel. Membicarakan tentang informasi atau kabar dari Sein yang Evan dapat pagi ini.


"Sebelumnya aku minta maaf, karena semalam aku meninggalkan kalian!" ucap Evan karena merasa bersalah jika ia meninggalkan teman-temannya semalam.


"Memangnya kenapa kamu pergi semalam?, kau tidak tau, tadi pagi Rahel mencarimu." ucap Bas setelah selesai menyeruput kopinya.


Hyouga keliatannya memberikan Bas ruang untuk berbicara dengan Evan.


"Sebenarnya kemarin malam aku sedang sibuk!"


"Iya-iya aku faham, orang seperti mu pasti selalu sibuk," gumam Bas.


"Apa Rahel baik-baik saja, maksudku dia..."


Bas memotong perkataan Evan dan berbicara.


"Tenang saja!, tadi Rafael mengajaknya untuk melihat matahari terbit atau disebut Sunset."


"Hmm, begitu ya."


Hyouga kemudian bertanya kepada Evan alasan ia membahas kabar dari Sein.


"Sebenarnya berita yang seperti apa yang Sein gambarkan Ev?"


"Ini lebih rumit dari yang kita kira, bahkan aku tidak punya waktu sekarang untuk menceritakan secara rinci," jelas Evan kepada Hyouga dan juga Bas.

__ADS_1


"Lebih rinci saja Ev?"


"Ada seseorang yang sedang mengancam ku. Sepertinya dia tau, jika aku adalah orang yang selama ini menolong dalam bayang-bayang. dan ada kemungkinan jika dia akan membongkarnya!"


Bas keliatan mencerna perkataan Evan barusan, sambil dirinya sedang memikirkan sesuatu.


"Baik aku paham!, lalu ancaman seperti apa yang dia katakan." ucap Hyouga dengan tatapan serius.


"Yang pasti membongkar rahasia ku selama ini, disertai dengan sebuah bukti-bukti. dia bahkan tidak ragu untuk bertemu denganku!"


"Jadi berapa banyak waktu yang dia tentukan?"


"1 jam lagi!"


"Cih, terlalu memaksakan saja,"


"Gini, kita bahas lagi setelah selesai makan!, karena otak akan lebih encer setelah perut terisi," ucap Bas untuk mencairkan suasana serta saran darinya.


***


Lokasi tempat Evan bertemu dengan orang yang mengancamnya yaitu, di sebuah ladang dekat jalanan yang sepi karena tertutup.


Sementara Sein hari ini tidak absen di Perusahaan karena berniat mendampingi Evan. Dan Ayah Evan tidak tau, jika anaknya sedang di ancam oleh seseorang.


Mereka berdua akhirnya berunding, dan memutuskan untuk datang ke lokasi pertemuan tersebut. Dengan sebuah persiapan yang matang.


****


Sebelumnya, Evan pamit pergi kepada Rose untuk pergi ke suatu tempat. Dan kebetulan sekali hari ini Rose lagi libur kerja, sehingga Rose menanyakan lebih detil kemana Evan akan pergi. Rose bahkan meminta Evan untuk mengajaknya yang saat itu Rose sedang beres-beres kamar.


"Lebih baik aku berbohong kepadanya," ucap Evan dalam hatinya.


"Aaa, aku pergi untuk menemui seseorang kenalan!"


"Siapa emangnya?, apa dia cewe."


"Bukan!, dia adalah seorang penulis. kebetulan aku di undang untuk bertemu dengannya," jelas Evan kepada Rose, padahal Evan sedang berbohong.


"Kamu tidak taunya Evan kalau aku suka membaca!"


Mata Evan melebar sesaat Rose berkata demikian.


"Jadi jika aku ikut pasti akan jadi suatu kesempatan yang bermakna," kata Rose dia senang dan mengharapkannya.


"Aduh, bisa kebetulan begini ya. kurasa aku harus menolak dengan cara yang baik," ucap Evan dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2