Ayah Yang Tak Pernah Menua

Ayah Yang Tak Pernah Menua
Bangkit dari Keterpurukannya


__ADS_3

Orang tua Rose sendiri berharap yang terbaik untuk putrinya. Saat ini pun ia terus berdoa demi kelancaran proses operasi anaknya.


Meski Evan di anggap salah dalam mengambil keputusan, sehingga menyebabkan putrinya berada dalam kondisinya saat ini, namun Iyumi sama sekali tidak menyalakannya.


Bukan karena memandang derajat Evan sebagai anak orang terpandang, melainkan ia memandangnya dari segi realistis. Ia bilang, jika semua ini adalah


takdir dari Tuhan yang tidak bisa di gugat maupun di tolak.


Seketika saat itu juga Evan terharu mendapati perlakuan baik dari Ibu Rose, bahkan sampai matanya di buat berkaca-kaca.


Bahkan batinnya menyadari, jika dirinya lah yang menyebabkan putri Iyumi terluka dan mengalami hari yang buruk.


Beberapa saat kemudian, Ayah Evan datang bersama penasehat kantornya.


Saat itu Ayah Evan merasa bersalah, sehingga ia akan membantu keluarga Rose meringankan beban biaya rumah sakit. Dengan menanggung seluruh pengeluaran serta akan sepenuhnya bertanggungjawab, sampai Rose kembali sembuh dan pulih.


Dalam operasinya, lengan satu Rose dan dua kakinya akan di sambungkan kembali. Sesuai dengan perintah dari Ayah Evan.


Saat operasi berlangsung Rose sepenuhnya di buat pingsan atau ditidurkan, yang sebelumnya sudah dilakukan anestesi(general). Tindakan tersebut bertujuan untuk kelancaran jalannya operasi, ataupun karena kategori umum operasi yang berbeda.


Di tengah operasi Evan mendapatkan izin untuk memasuki ruangan. Bukan tanpa sebab, tetapi karena


Evan yang memintanya. Ia berniat membantu proses jalannya operasi.


Adapun sedikit keraguan dari salah satu dokter, yaitu dokter spesialis tulang. Dia berkata jika sekarang ini bukanlah waktu yang tepat untuk bercanda.


"Saya sungguh meminta maaf kepada mu nak.., jika sekarang ini sedang dilakukan operasi dengan prosedur yang sangat rumit, bagi orang yang tidak menguasainya!"


"Saya punya sesuatu untuk bapak lihat!" sahut Evan sembari menyodorkan dua sertifikat dan mengabaikan omongan tadi.


Itu adalah bukti real yang membuatnya jadi terbungkam. Bahwa Evan memiliki sertifikat khusus pembedahan dan anatomi tubuh. Dan itu asli.


Membuat dokter bedah, dokter anestesi, dan perawat bedah takjub. Namun mereka hanya kagum dalam hati karena sedang menjalankan tahap operasi.


Akhirnya, Evan diperbolehkan masuk. Tapi dengan beberapa syarat yang salah satunya harus menuruti peraturan rumah sakit dan beberapa prosedur untuk melakukan operasi.


Baju khas operasi sudah ia kenakan, Evan lalu melihat sampai tahap mana Rose di operasi.


Kemudian Evan mengambil list medical safety patient dan mengeceknya.

__ADS_1


Hingga ketika saatnya operasi penyambungan lengan, ada kendala yang dihadapi tenaga medis dan dokter.


Jalannya operasi sangat dramatis karena hal tersebut.


Pasalnya jaringan dalam lengan Rose rusak.


"Ada beberapa faktor yang menjadi syarat lengan yang putus bisa di sambung kembali, setahuku. pertama jika kondisi tangan atau kaki yang putus itu masih baik, tidak ada gangrene atau jaringan yang mati, tidak ada infeksi berbahaya, tidak ada tumor atau kanker, maka menyambungkannya kembali masih mungkin!" ucap Evan.


"Ya. tapi sekarang ini jaringan lengannya terlihat sudah rusak! hmm, padahal bekas tebasannya tidak terlalu parah?"


"Ini dok!" seru perawat kepada dokter sambil menyodorkan list medical yang baru saja terlihat.


Kelalaian tenaga medis tersebut membuat dokter panik. Di tambah setelah dokter mengetahui penyebab jaringan lengan Rose rusak.


"Racun ternyata! sepertinya ini adalah racun yang sengaja di lumuri di pedang katana itu. tapi apa dia melumurinya sebelum Rose di serang?" ucap Evan dalam hatinya dan sempat bertanya-tanya.


Membuat heboh para dokter dan para medis di sana.


"Racun ini adalah jenis racun yang sangat berbahaya, dan bisa saja merenggut nyawa korbannya!" ucapnya agak panik setelah mengetahui faktor adanya racun tersebut.


"Cepat!, panggil ahli.."


"Saya bisa membantu!, saya mengetahui penawar dari racun 'Botulinum Toxin' sekarang persiapkan apa yang saya katakan!"


Saat itu dokter bedah di buat takjub untuk yang kedua kalinya, karena Evan juga mengetahui racun berbahaya dalam jaringan lengan Rose.


Dengan sigap dan cekatan 2 dari 5 tenaga medis mempersiapkan segala kebutuhan Evan dalam membuat penawar racun tersebut.


Mereka sepenuhnya nyakin kepada Evan. Melihat kegigihan Evan serta matanya yang seakan berkobar


diiringi oleh perjuangannya.


Di ketahui jenis racun tersebut dapat menyebabkan kelumpuhan otot, yang pada akhirnya mengarah pada kelumpuhan sistem pernafasan yang dapat berujung kematian. Racun tersebut berasal dari bakteri Clostridium botulinum.


"Mengapa racun tersebut bisa ada di lengan Rose?, mana mungkin kan katana tersebut di lumuri campuran bakteri racun itu," ucap Evan dalam hatinya.


"Tunggu!, apa mungkin..., Rose dari awal memang sudah di suntikan racun tersebut?. hm, mungkin saja," imbuhnya.


Beberapa menit kemudian, akhirnya Evan selesai membuat penawar racun berbahaya yang bernama

__ADS_1


Botulinum Toxin atau yang lebih dikenal dengan nama botox.


Lalu menyuntikan penawarannya pada lengan bagian atas Rose.


Perasaan lega pun menyelimuti hati para tenaga medis dan dokter di sana.


Di dalam ruangan yang bersuhu dingin bagaikan suhu perairan samudera Atlantik di malam hari.


Dokter Ali tersenyum saat melihat raut wajah Evan.


"Sungguh dia adalah anak yang berbakat, pengetahuannya pun sangat luar biasa. melihat perjuangan saja membuatku merinding sedari tadi," ucap dokter Ali dalam hatinya, yang menilai Evan memiliki pengetahuan yang sangat luas.


Operasi pun berlanjut.


Sayatan di toreh ke bagian yang rusak dalam lengan Rose dengan alat khusus. Lalu tenaga medis yang lain mengejek bagian dalamnya.


Tapi sebelum itu, tangan pasien harus dibersihkan terlebih dahulu dari jaringan yang rusak dengan hati-hati.


...****************...


Di lantai 5 di sebuah koridor.


Ayah Evan sedang berbicara dengan istrinya melalui sambungan seluler. Mereka berdua membahas banyak hal mengenai anaknya.


Sedangkan Iyumi masih duduk di kursi tunggu. Menunggu ada kabar baik dari perawat ataupun dokter dari dalam ruang operasi.


"Aku tidak salah kan?, tempat operasi gadis itu di lantai 5," gumam Ken sembari melihat ponselnya yang merujuk ke Ichat Sein.


Saat itu Ken baru sampai, melihat ada seseorang wanita cantik berambut panjang yang terlihat sedang mengusap air mata, membuatnya berniat untuk menghampirinya.


"Tidak ku sangka, ternyata ada seorang wanita cantik di sini," ucap Ken yang melihatnya dari kejauhan.


"Ya ampun... sadar Ken!, kau ini kesini untuk melihat kondisi Evan dan gadis itu," ucap Ken dalam hatinya, serta memperingatkan kembali akan tujuannya.


Meskipun umurnya yang sudah menginjak 27 tahun, akan tetapi kecantikannya seakan tak pernah pudar.


Kulitnya bahkan masih terawat putih dan bersih, wajahnya pun tidak menunjukkan keriput sama sekali. Dia memang layak di sebut Kakak di banding orang tuanya.


Saat ini Ken masih menatapnya dan tidak mengetahui jika perempuan yang di lihatnya adalah Ibu Rose.

__ADS_1


__ADS_2