
Di tengah keramaian spot poto Evan melihat Erik yang sedang mengamati karya seni. Dia rupanya tidak sendirian disana, dan di temani oleh seseorang yang Evan sendiri belum mengenalnya.
Evan membujuk Rahel yang lagi asyiknya berpoto. Kemudian bersamanya menghampiri Hyouga.
"Hallo Erik, kamu ternyata suka seni!"
"Hallo Ev, wow kamu sedang berkencan ya?" setelah berbalik Erik langsung terkejut, hingga mengeluarkan kata yang membuat Rahel tersipu.
Rahel hanya diam dengan wajahnya yang memerah.
Erik kemudian mengenalkan Evan kepada temannya yang bersamanya. Dia bernama Gesan seorang fotografer yang suka akan nilai seni.
Lalu terbesit di pikiran Evan anggapan tentang suatu nilai seni. Dan ia gunakan untuk memulai pembicaraannya dengan Gesan.
"Menurutku seni sangat indah, apapun bentuk dan ragamnya," kata Evan.
"Ya, seni selalu menghadirkan hal yang berbeda, meski ada yang termakan oleh usia. tetap saja akan abadi," Balas Gesan.
"Jika kita adalah sang raja, maka keterampilan adalah mahkota dan ide adalah tahtanya. itulah seni yang aku lihat," menurut pendapat Evan tentang seni.
"Bagus juga perumpamaan mu terhadap seni," puji Gesan.
Melalui obrolan ringan itu akhirnya mereka berdua semakin akrab.
**
Di tempat Ken berada tepatnya di ruangan VIP. Ia sedang bersama dengan seorang cewek yang akan menjadi calon keuangan hotel.
__ADS_1
Bukan tanpa sebab Ayah Ken memang sengaja memberikan tugas tersebut kepada anaknya agar ia dapat belajar.
Ayah Ken menyuruhnya untuk mewawancarai cewek tersebut supaya ditempatkan di salah satu divisi.
Hawa dingin menyelimuti segala penjuru dan Ken masih saja ragu untuk berbicara.
**
Sementara Rose kini disibukkan oleh bahan-bahan untuk memasak. Dia sekarang berada di dapur. Dan mencoba memilah dan memilih bahan makanan.
Kebetulan sekali Rose memang pandai memasak. Sering kali ia menjanjikan makanan untuknya sendiri ketika berada di rumah, hal itu yang membuat kemampuan memasaknya semakin meningkat.
"Uhm, aku tidak tahu makanan kesukaan Evan. apa coba ya.., apa aku masak makanan acak aja kali ya..," gumam Rose.
Akhirnya Rose memutuskan untuk membuat sup dan beberapa makanan tambahan lainnya.
Evan sebenarnya tahu jika Rose terkunci di dalam kamarnya, namun karena malas untuk memikirkan kemungkinan yang akan terjadi. Evan pun hanya pasrah dan percaya kepada Rose. Evan tahu kok Rose adalah orang baik.
**
Ken yang sudah mewawancarai seorang wanita tersebut, akhirnya pergi meninggalkan ruangan.
"Huh, akhirnya selesai juga. untung saja aku mengingat simulasi yang aku buat," gumam Ken sambil berjalan keluar ruangan.
Merasa bahagia karena tugasnya yang berjalan mulus, Ken memutuskan untuk pergi ke kamarnya Evan. Dia ingin mengunjungi Evan dan mengobrol sedikit tentangnya.
Hingga sampailah Ken di depan pintu kamar Evan.
__ADS_1
Ken memegang daun pintu kamar dan ia mendapati pintu yang terkunci.
Knock..knock..knock
Di sisi Rose yang sedang ada di dapur.
Chop.chop.chop
"Terkunci rupanya," gumam Ken.
Tak lama Ken disana, ia pun berpikir untuk mengunjungi Evan lain waktu.
Setelah Ken pergi, Rose pun menghentikan memotong wortel, karena ia sempat mendengar suara dari arah pintu.
**
Sore hari.
Deburan ombak yang seakan menerpa dan air laut yang bersih, menciptakan kesan harmonis diantara keduanya.
Pasir putih dan langit sore yang menenangkan membuat suasana sore hari di pantai sangat tentram.
Evan yang kini duduk dan menatap langit tampak senang memandanginya. Sementara yang lain sedang asyik bermain air disana.
Hari mulai gelap dan Burung-burung mulai berterbangan, pulang ke rumah mereka masing-masing. Di bawah langit yang berwarna oren kecoklatan.
Menyaksikan senja dan menikmati jingga dari tempatnya sekarang.
__ADS_1