Ayah Yang Tak Pernah Menua

Ayah Yang Tak Pernah Menua
Membuat Keputusan yang Tepat


__ADS_3

Saat ini Evan berada di sebuah bangunan yang sedang dilakukan pembangunan, bertempat di sekitar area yang tak jauh dari pantai. Jadi tempat Evan sekarang ini bisa di gambarkan seperti halnya seseorang masuk kedalam gua. Karena sepi dan agak gelap.


Hal tersebut akibat cahaya matahari yang tertutup oleh awan mendung. Sehingga kota sekarang ini tampak gelap.


Pada saat orang tersebut akan memencet tombol yang bisa saja adalah tombol untuk memicu bom. Tiba-tiba, lengannya tak bisa di gerakan.


Bahkan semua tubuhnya seakan di buat mematung.


Di hadapan Evan orang tersebut terlihat tidak berdaya sama sekali.


Sedikit demi sedikit suaranya memudar.


Bibirnya pun tak bisa di gerakan.


Awalnya dia berusaha sekuat tenaga untuk dapat bergerak dan berbicara.


Namun upayanya tidak membuahkan hasil sama sekali.


Evan lalu berkata.


"Apa anda baik-baik saja,"ucap Evan dengan ekspresi khawatir sambil melihat orang tersebut.


"Apa-apaan anak ini, dia masih saja berlagak polos setelah melakukan ini kepadaku,"


"Sebenarnya apa yang ia lakukan kepadaku, sampai aku pun tidak dapat mengerakan jari-jari sekalipun," ucapnya dalam hati dan merasa kebingungan.


Ada sebuah pesan singkat yang dikirim oleh Sein.


Evan lalu mengambil ponselnya dan membacanya.


"Ev, keadaan sekarang ini sangat kacau. maksudku, sekarang ini ada banyak pihak keamanan yang menuju ketempat mu sekarang!"


"Hmm, ternyata tidak seperti yang aku duga. pihak keamanan bergerak cepat menyelidiki setiap tempat," ucap Evan dalam hatinya.


Pandangan Evan tertuju kepada koper hitam yang tak jauh darinya. Ia pun menghampirinya untuk melihat isi didalamnya.


Tombol yang ada di tangan orang tersebut Evan ambil. Demi mencegah hal yang tidak-tidak.


Jdarrrr....


Suara petir keras bersamaan dengan cahayanya yang membuat sekitaran yang terkena menjadi terang. Namun hanya seketika saja.


Di dalam koper Evan menemukan sebuah bom rakitan, entah jenis apa. Evan tidak mengerti tentang jenis bom.


"Yang aku tahu di film-film adalah cara menjinakkannya, yaa meskipun terlihat gampang. nyatanya menjinakkan bom beresiko tinggi, bahkan mempertaruhkan nyawa,"


Evan mencoba mengingat kembali ingatan tentang bom yang pernah ia baca.


"Tentu saja, cara menjinakan bom ada bermacam-macam. tergantung dari sistem pemicu ledakannya,"

__ADS_1


Setelah mengingatnya Evan pun kembali melihat bom tersebut. Untuk mencari pemicu ledakan.


Selang beberapa waktu, akhirnya ia mengerti jika bom tersebut adalah bom dengan pemicu berupa timer/jam.


Terlihat di bagian samping bom ada sebuah kalkulator yang di rancang sebagai waktu.


Akan tetapi Evan beruntung, karena orang tadi tidak mengaktifkan waktu di bom tersebut.


Saat ini Evan dalam keadaan jongkok dan hendak mengamankan bom tersebut.


Secara mengejutkan hal yang tak terduga terjadi.


Di belakang sudah ada seseorang yang menodongkan pistol ke arah kepalanya.


Evan di buat terkejut, tetapi ia bersikap tenang menghadapinya.


"Siapa kamu, kenapa mencoba memindahkan bom tersebut. apa kau adalah anggota keamanan pantai?"


"Dia bergerak bagaikan bayangan, sampai aku pun tidak dapat merasakan kehadirannya,"


Orang yang baru datang menyuruh Evan untuk segera mengaktifkan bom tersebut. Dengan sebuah ancaman yang ia lontarkan.


"cepat... aktifkan..!!, atau aku akan menembak kepalamu," perintah orang tersebut memaksa Evan untuk segera mengaktifkan pemicu bom.


Tidak punya pilihan lain, Evan ia pun terpaksa menuruti perintah orang tersebut.


Dengan cerdiknya orang tersebut menyoroti tangan Evan untuk mengetahui apakah Evan benar-benar memencet tombolnya.


Caranya adalah dengan memotong aliran listrik dari pemicu ke detonator. Biasanya dipakai bila pemicu nya berupa timer/jam.


Hal itu bisa saja Evan lakukan jika benar-benar kejadian(bom aktif).


"Sebentar lagi mereka akan ada disini, kurasa aku harus cepat menyelesaikan masalahku dengan orang ini," ucap Evan dalam hatinya.


Pistol yang pria itu todongkan kini sangat dekat dengan bagian belakang kepala Evan. Dia mendekatkannya lagi rupanya.


Pria itupun mulai menghitung mundur dari angka 3.


"Sekarang waktunya, 3...,"


"Belum tentu aku selamat jika aku menuruti perintahnya, sepertinya kali ini aku sedikit gegabah. kecil kemungkinan aku lolos,"


"2...,"


"1..."


Dan saat itulah bersamaan dengan cahaya dari kilat Evan melemparkan pemicu bom ke atas.


"Sialan kau...," umpatnya sambil melihat kearah pemicu bom yang Evan lempar.

__ADS_1


Membuat pria itu seketika kaget dan tidak menduga aksi Evan barusan.


Persekian detik Evan melempar ia langsung meloloskan kepalanya dari dekatan pistol.


Di waktu pria itu akan menangkap pemicu bom, Evan membalikkan badannya, dan menghadap pria tersebut. Lalu mendorongnya seraya salah satu tangan Evan mencoba merebut pistol dari genggaman pria jahat itu.


Pistol pun di dapat oleh Evan beserta pemicu bom yang ia lempar tadi.


Akibat dorongan tadi membuat pria tersebut jatuh tersungkur.


"Menyerahlah!!, kau sudah kalah heeh," ucap Evan menunjukkan senyum menyeringainya.


"Siapa dia sebenarnya," ucap pria tersebut dalam hatinya, bertanya-tanya tentang Evan.


Sesaat suara gaduh terdengar dari bawah. Evan memastikan sumber suara tersebut berasal dari langka para pihak keamanan. Yang sekarang ini menuju ke lantai tempat Evan sekarang.


Evan mendekati pria tersebut yang masih bergidik ngeri karena aksi Evan barusan.


Sambil berkata maaf, Evan memukul bagian leher pria tersebut. Sampai ia di buat pingsan di tempat oleh Evan.


"Waktunya aku untuk pergi," ucap Evan sesaat setelah ia loncat dari jendela, dan mencari tempat aman dari penglihatan pihak keamanan.


GPS Evan yang masih aktif di smartphone membuat Evan terlihat keberadaannya oleh Sein.


Sein terkejut pada saat tanda berwarna merah dari GPS keluar melalui sebuah jendela.


Padahal jendela tersebut berada di lantai 2 dan lumayan tinggi juga.


"Evan...,"


Disisi lain Ken mendengar dari salah satu bodyguardnya tentang informasi pembajakan CCTV di area hotel dan sekitarnya.


Sementara Bas sampai sekarang tidak mengetahui apa yang terjadi. Ia fokus dengan buku-buku yang ia baca.


Begitu pula dengan Rafael dan Erik, mereka tertidur pulas di tengah derasnya hujan.


Di kamar perempuan yang begitu luas hanya Rahel dan Sherly yang saat ini masih terjaga. Mereka berdua sedang gobrol santai, sehabis bermain permainan True or Dare bersama dengan yang lain.


Efek dari ramuan Evan yang dialami oleh orang pembawa bom pun berakhir.


Ia bisa kembali mengerakan tubuh dan tangannya.


Setelahnya ia berkata.


"Bahkan dia pun kalah oleh anak itu, hmm mana bomnya sekarang, apa masih di tempat yang sama," ucapnya.


Ketika membalikkan badan pihak keamanan rupanya sudah sampai di lantai 2 dan menodongkan senjata api ke arah orang tersebut.


Pihak keamanan berjumlah 25 orang yang masing-masing berpencar setiap regu.

__ADS_1


"Angkat tangan...?" perintah ketua regu kepada orang tersebut.


__ADS_2