Ayah Yang Tak Pernah Menua

Ayah Yang Tak Pernah Menua
Tanpa Sadar


__ADS_3

Melamun sejenak, Evan memikirkan kata-kata untuk menjelaskannya kepada Rahel. Baru setelah dapat Evan langsung berkata.


"Jadi... aku mau mengatakan kalau aku ini tidak mencin..."


"Sttt," Rahel menutup mulut Evan dengan jari telunjuk supaya perkataanya tidak berlanjut.


"Udah, gini aja. kamu tetap dengan penampilan seperti ini, baru nanti siang kita ketemuan lagi. aku janji akan mengatur semuanya biar kamu merasa nyaman!"


Dalam hatinya Evan berkata.


"Hari ini Rahel tampak seperti berbeda dari sebelumnya, dia bahkan tidak malu-malu lagi kalau bersama dengan ku. sampai-sampai seberani ini."


Rahel mengibas-ngibas tangannya ke wajah Evan.


"Kamu nga papa kan sayang."


"Ya ampun..." batin Evan serta membuat wajahnya memerah dan sadar dari alam lamunannya.


"Kamu suka ya... kalau di panggil sayang?" tanya Rahel menatap Evan sambil berjinjit.


"Tidak sama sekali!" ucap Evan membuang muka dengan ekspresi pura-pura datar.


Sebenarnya Evan ingin memutuskan hubungan pacaran dengan Rahel, meski mereka baru berpacaran kemarin-kemarin. Soalnya Evan sudah berjanji pada dirinya untuk menjaga Rose, bahkan kemungkinan terbesarnya ia akan menikahinya.


Makanya Evan sekarang ini bertekad untuk membuat Rahel tidak suka dengannya. Dan Evan baru kepikiran lagi.


Rahel terlihat agak murung setelahnya.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan serahkan kepadamu dan untuk ketemuan ini aku lupa untuk mengatakan apa."


"Iyaa, serahkan saja kepadaku," jawab Rahel dengan senang.


Lalu Sharashi keluar dari ruangan klub dan berkata.


"Mereka kayaknya lagi ngobrol gitu, apa aku harus kasih ini ya, hmm, kayaknya jangan deh."


Kembali kepada Rahel dan Evan, sekarang ini Rahel memberikan Evan sebuah keju yang diambil dari tasnya.


"Ini aku bawa keju Evan, ayahku kemarin pulang dan membawa sekotak keju dari negara S. karena banyak, aku kasih ke kamu nih!" ucap Rahel sembari menyodorkan sebuah keju.


"Eh, serius? ini kelihatan keju mahal Hel."


"Serius kok, coba kamu makan!"


"Iyaa," balas Rahel.


Evan memang suka keju sejak ia masih kecil, ia bahkan sering menghabiskan keju kalau pas sarapan pagi.


Cuma sekarang ia jarang sekali makan keju lagi.


Menghabiskannya dengan dua kali gigitan Evan sekarang ini merasa kekurangan, dan melihat ke arah wadah berisi keju yang Rahel pegang.


Rahel mengetahuinya dan berkata.


"Kalau di pikir-pikir semuanya buat kamu aja deh Ev," ujar Rahel menyodorkan wadah berisi keju.

__ADS_1


"Jangan Hel buat kamu aja, ayah kamu pasti membawanya sebagai oleh-oleh," Evan menolak Rahel memberikan semua keju di wadah itu kepadanya.


"Gapapa, lagi pula aku tidak terlalu suka sama keju!"


"Ya, deh."


Tanpa ragu Evan langsung menerimanya.


Setelah ia makan beberapa keju, di sebelah mulutnya terdapat keju yang menempel.


Melihat ada keju tersebut membuat Rahel terpikirkan sebuah ide.


"Keju ini sangat enak," ucap Evan.


Set..


Rahel mencium Evan saat itu juga. Evan yang menyadarinya menjadi kaget.


"Rahel dia...?" ucap Evan dalam hatinya.


Entah kenapa Evan jadi ikut hanyut dalam situasi tersebut dan membalas sedikit ciuman Rahel, tangannya juga bergerak sendiri menuju bagian belakang rok Rahel. Dan masuk kedalamnya.


Mata Rahel melebar di kalah Evan melakukannya, namun ia memilih membiarkannya.


Beberapa saat Evan tersadar dan menyudahi ciuman tersebut serta menjauhkan tangannya


"Gawat! aku melakukan perbuatan yang tidak seharusnya," ucap Evan dalam hatinya yang panik.

__ADS_1


__ADS_2