
Ada beberapa yang membuat ku merasa seperti mengalami Dejavu, seperti pada hari ini aku yang sedang mencari hawa segar di taman. Tapi entah mengapa aku pernah merasakan kehadiranku sebelumnya disini, mungkin kau berpikir jika aku memang pernah kemari. Tapi kau salah, bukan itu sebenarnya.
Pagi itu adalah pagi yang cerah, aku bangun dari tempat tidurku dan melihat dari jendela burung-burung yang bersuara indah. Mereka hinggap di ranting pohon bersamaan dengan sinar matahari yang menerpa dari langit.
...****************...
Bangun dari tempat tidur Evan merasa mengalami Dejavu seperti biasa, ia pun berusaha bangkit dari tempat tidurnya.
"Aahh, puas sekali aku tidur, huh.. dan seperti biasa aku mengalami Dejavu lagi, padahal ini baru awal aku memulai hari."
Kaki Evan melangkah menuju jendela yang tertutup oleh gorden, pancaran sinar matahari pagi menggugah jiwa Evan tuk membuka jendela yang tertutup itu.
"Selamat pagi dunia, ini adalah awal yang bagus untuk memulai hari, bahkan burung-burung bernyanyi riang di ranting pohon, dan suaranya sangat merdu sama halnya penyanyi."
Evan memandang keluar jendela beberapa menit kemudian.
Lalu Evan menuruni anak tangga dan menuju ke kamar mandi.
Terlihat Lili yang sudah berdandan rapi sedang menata makanan di meja bersama bibi pembantu.
Itu karena Lili lebih awal bangun, dia sendiri mengunakan waktu tersebut untuk melakukan aktivitas dan kegiatan lain. Seperti memasak bersama bibi pembantu di dapur, dan membantu menyiapkan makanan di meja.
Kadang Lili menggunakan waktu bangun paginya untuk belajar sedikit mapel, yang kemarin telah ia pelajari dari gurunya.
Sementara Ayah Evan yang mengambil cuti kerjanya, sedang sibuk dengan rutinitas kesehariannya, kesibukan keseharinya bisa bermacam-macam seperti mengawalinya dengan bangun pagi di sambung beraktivitas kecil yaitu berolahraga. Ayah Evan juga terlihat asyik melakukan trading online di smartphonenya.
...****************...
Pukul 08:55 Evan masih antusias mengikuti mata pelajaran IPA.
__ADS_1
Saat itu Evan maju ke depan untuk menyelesaikan soal di papan tulis, Evan pun menyelesaikan soal-soal tersebut dengan mudahnya, bahkan dengan waktu singkat. Membuat para teman-temannya di kelas bersorak.
Evan tersenyum ke arah mereka yang menyorakinya, yang tak lama ia pun duduk kembali.
Kemudian di jam istirahat kedua.
Musim panas ini membuat ruang kelas agak panas pada siang hari. Tepatnya saat siang bolong, siswa-siswi mengeluh karena kepanasan, terkecuali ruang kelas yang sudah di pasang AC oleh wali kelas mereka.
Evan sedang duduk di bangku kelas sembari mengayunkan ke kiri dan ke kanan buku yang di pegangnya.
"Aduh.. panasnya hari ini, apa hujan kemarin-kemarin hanyalah hukum alam saja!" ucap Evan yang berada di dekat Ken, yang sedang membuka minuman bersoda.
"Tahun-tahun ini panasnya semakin memuncak saja ya, tidak seperti tahun lalu, ini pasti akibat dari pemanasan global yang membuat iklim ini menjadi semakin panas!" ucap Ken setelah menengguk minumanya.
Beberapa saat Hyouga datang dan mendengarkan percakapan keduanya.
"Ya.. mau bagaimana lagi, ulah manusianya itu sendiri!" kata Hyouga.
"Hmm, yang aku tahu dejavu yang artinya "sudah pernah melihat sebelumnya", hmm dan kurasa ini bukan hanya curhatan saja!" ucap Ken bergumam.
"Kalian boleh menambahkan hal lain untuk membumbui curhatan ku ini. baiklah, apa yang kalian ketahui tentang dejavu?" tanya Evan.
Ken menjawab pertanyaan Evan.
"Sudah kubilang tadi, Dejavu artinya "Sudah pernah melihat" entah itu peristiwa, keadaan, tempat, dan bahkan gerakan tangan yang terasa familiar, dan itu terjadi secara tiba-tiba lalu kita akan berpikir bahwa kita pernah mengalami aktivitas serupa, benar-benar pengalaman yang membingungkan!" jawab Ken sambil menjelaskannya.
"Tahu tidak sebutan tersebut mengenai Dejavu pertama kali di cetuskan oleh seorang filosofis bernama Emile Boirac pada tahun 1876, dejavu cenderung berakhir secepat kemunculannya. sensasinya begitu cepat sehingga terkadang kita tidak banyak merasakan tentang apa itu dejavu. atau bahkan kita mungkin sampai tidak menyadari apa yang baru saja terjadi!" sambung Hyouga.
"Begitulah dejavu!, pengalaman dejavu ini mungkin membuat kita berpikir sejenak tentang yang baru saja terjadi, dan mencoba mengingat-ingat pengalaman sebelumnya, sampai kita mengabaikan kondisi tersebut. benar apa yang di katakan Hyouga jika kemunculannya sangat tak terduga dan berakhir sama pula!" ucap Evan.
__ADS_1
"Jadi seperti ini, aku mengalami dejavu akhir-akhir ini, dan itu sering. padahal aku yakin jika sekali saja adalah hal yang lumrah, tapi dejavu yang aku alami seperti sebuah arahan agar aku mengingat akan sesuatu!" ucap Evan Menjelaskan hal yang di alaminya.
"Apa yang terlintas dalam pikiran mu pada saat mengalami dejavu-dejavu itu?" ucap Hyouga dengan serius.
"Sama halnya dengan aktivitas yang aku lakukan, tapi ada hal yang membuatku bingung. kadang aku seperti berada di rumah sakit dan di sampingku ada seseorang yang sedang berbicara, dan layaknya sedang menjagaku!" ucap Evan.
"Kalau menurutku sih, dejavu yang kamu alami mungkin ada hubungannya dengan aktivitas mu sebelumnya, tapi aku cuma menebaknya saja!" ucap Ken sambil mengubah gaya duduknya.
"Ini sangat menarik untuk di bahas, tapi menurutku ada baiknya jika kita menyimpulkan jika dejavu yang kamu alami hanya gambaran dari visual otakmu saja Ev, yang lama-kelamaan pasti menghilang!" ucap Hyouga.
"Hey, kau terlalu cepat memutuskan ya Hyouga!" ucap Ken menoleh ke arah sampingnya.
"Hehehe, benar sekali lebih baik kita sudahi saja dan membahas hal penting. agar lebih bermanfaat!" ucap Evan dengan senyum simpulnya.
Evan menganti topik pembicaraannya yang tak lama kemudian Rahel masuk kedalam kelas. Rupanya dia habis membeli beberapa makanan dari kantin.
Saat itu Rahel menawarkan minuman yang dia beli kepada Evan. Dengan senyum manisnya ia pun menyodorkan minumanya, Evan yang saat itu melihat Rahel menyodorkan minumanya. Terbelalak dengan senyuman manis Rahel.
Saat itu pun kawan Evan di dekatnya ikut melihat Rahel yang memberi Evan minuman darinya.
Ada semacam ekspresi aneh yang Ken tunjukkan, karena dia sendiri masih jomblo.
Beda dengan Hyouga dia mala mengabaikan momen itu dengan membaca buku, yang ia ambil dari sakunya.
Hingga bel terakhir Sekolah berbunyi, menandakan waktu kepulangan siswa dan siswi. Evan pulang dengan Rahel yang ada di sampingnya berjalan seiringan dan seirama. membuat yang lain iri melihat kemesraan mereka.
Padahal Evan sendiri hanya kebetulan bisa berjalan dengan Rahel sepulang Sekolah.
Evan sekarang mulai memahami tentang dirinya, rasa gugup yang lalu kini telah berlalu. Evan tidak gugup meski saat ini Rahel berulang kali melihatnya dari samping.
__ADS_1
Rencana sepulang Sekolah adalah Evan akan membantu Hyouga di tempat kerja sambilannya.