
Sekarang ini Evan duduk di sofa bersama dengan Rose, di temani segelas susu dan roti panggang. Sebenarnya Evan akan membicarakan sesuatu kepadanya.
Karena Ada banyak sekali pertanyaan yang ganjel di hati Evan, saat ia bertemu kembali dengan Rose. Setelah sekian lama mereka berdua terpisah oleh jarak dan waktu.
Kini Rose datang kembali menjumpai Evan, membuatnya tak menyangka apa yang sebenarnya terjadi.
Bagi Evan kedatangan Rose adalah sebuah kebetulan sama seperti sebelumnya.
Jadi mereka ini hanya memiliki hubungan sebatas teman yang saling kenal. Bahkan mereka tidak mengenal jauh satu sama lain, Itu pun karena tak sengaja takdir yang telah mempertemukan mereka.
Namun berbeda dengan Rose, dia memiliki seseorang teman yang bersekolah di SMA Oregami. Sehingga ia dapat mengenal Evan lebih jauh, melalui informasi dari temannya itu.
*
Rose bahkan sesekali mencuri-curi pandang, saat ia hendak meminum susu. Tujuannya hanya untuk memandangi Evan.
Seketika suasana menjadi hening, sementara Evan masih hanyut dalam lamunannya.
"Ha...?" Rose menatap Evan dengan tatapan kosong, seperti penasaran dengan apa yang Evan pikirkan.
Evan yang baru saja sadar tersentak, hingga kaget melihat Rose yang sedari tadi menatapnya.
Dalam hati Evan berkata.
"Karena aku gugup, aku jadi ngak memperhatikannya."
Evan menganti posisi duduknya, mengengam kedua telapak tangannya menjadi satu.
"Rose aku ingin bertanya kepadamu, mengenai maksud dari kedatanganmu ini. hmm sebelumnya aku minta maaf untuk pertanyaan ku ini," ucap Evan yang langsung to the point dengan isi hatinya.
"....uh, sebenarnya..., aku ingin menyampaikan sesuatu kepadamu Evan. sesuatu yang selama ini aku pendam!" jawab Rose agak malu untuk mengungkapnya.
"Tunggu!, sesuatu yang ia pendam. kata-kata itu seperti isi dari surat yang aku temukan, apa jangan-jangan..." ucap Evan dalam hatinya.
"Kamu berbeda dengan cowo lain Evan, sikap dan tindakan serta keramahan yang kamu miliki sangat berbeda. saat aku berada di dekatmu aku selalu merasa seperti itu, ada perasaan nyaman ketika aku di dekatmu."
"Karena itulah, Evan. maukah kamu berpacaran dengan ku?"
Mata Evan terbelalak menyaksikan lebih jelas lagi tatapan Rose setelahnya.
"Apa ini lelucon, dia jelas-jelas mengatakan sendiri kepadaku untuk menjadi pacarnya," ucap Evan dalam hatinya yang tak percaya.
Setelah Evan mengatakannya berulang kali kepada Rose karena tak percaya. ternyata..., Rose benar-benar menembak Evan.
Sungguh kejutan malam-malam yang sangat tak terduga. Evan bahkan mengingat jika ini adalah yang pertama kalinya.
Rose mendekati Evan dia memasang wajah penuh harapan. Sebaliknya Evan masih diam dengan seribu bahasa.
__ADS_1
"Ehem, begini. aku memang mengenamu tapi..."
Tiba-tiba jawaban Evan terpotong, di saat telinganya mendengar suara lagu.
Suara tersebut berasal dari smartphone Rose di karenakan sebuah panggilan masuk.
"Ha...halo?"
"Ini aku Rose, apa kamu belum pulang dari sana?" Ibu Rose menanyakan balik kepada anaknya karena khawatir.
"Eh, udah kok Ma!"
"Ya udah, kamu langsung istirahat aja dan jangan banyak bermain ponsel ya. Ibu malam ini ngak pulang karena sedang sibuk!"
"Iya ma..., Rose ngerti. mama yang semangat ya disana."
"Iya-iya sayang makasih. hmm, mama tutup dulu ya soalnya ada...?"
Tut....tut....
Ibu Rose langsung menutupnya begitu saja.
Mata Rose berair walau hanya sedikit, ia pun mencuri waktu untuknya mengusap air mata. Agar Evan tidak melihatnya.
"Tadi telepon dari Ibu!"
"Iya, hm gini Rose. bukannya aku tidak tertarik kepadamu, tapi... aku mempunyai prinsip, yaitu tidak akan berpacaran sebelum menikah!"
"Begitulah, aku sungguh-sungguh dengan prinsip ku."
Flashback Rose Beberapa tahun lalu
Dulu Rose memiliki keluarga yang lengkap seperti sebuah keluarga yang pada umumnya. Kedua orang tuanya sangatlah harmonis mencintai satu sama lain, sampai ada tetangga sebelah yang iri menyaksikan keharmonisan mereka ketika pagi hari. Saat Ayah Rose hendak berangkat kerja.
Namun semua itu seakan sirna bak kayu yang dimakan api, hanya sesaat. Rose terpukul pada saat mendengar kedua orang tuanya akan berpisah. Saat itu batin Rose menangis sejadi-jadinya.
Dia tidak tau harus berbuat apa dan bingung. Akhirnya mau tidak mau Rose harus hidup bersama dengan Ibunya.
**
"Apa kamu baik-baik saja?" ucap Evan melihat Rose bengong.
"Engga, gapapa kok!" suara Rose terdengar lirih.
Dari penjelasan Rose dia mengaku kalau dia sedang butuh teman curhat. Namun perasaannya kepada Evan adalah fakta bukan sekedar ucapan saja.
Rose ternyata bekerja sebagai Akuntan di hotel berbintang ini. Dan membuat Evan tak menyangka.
__ADS_1
"Tapi, bukanya kamu masih bersekolah ya Rose. Akuntan itu kan adalah pekerjaan yang..."
"Aku putus Sekolah!" ucapnya dengan tatapan lesu.
"Bagaimana bisa?"
***
Di ruang kerja tempat Sein bekerja. Kini Sein beralih profesi dari yang bisa kita sebut sebagai bodyguard, menjadi penanggung jawab bagian tertentu Perusahaan.
Sein bekerja sudah lumayan lama hingga pekan ini.
Di sela ia membaca prosedur, ada suara notifikasi pesan yang terdengar dari arah ponsel Sein.
Sein pun segera mengambil ponsel yang berada di sampingnya, dan membaca isi pesan tersebut.
Tertulis sebuah ancaman dan kritik serta informasi yang bersifat memaksa. Dari si pengirim.
Lebih tepatnya seperti ada yang sedang mengkambing hitamkan Evan.
Si pengirim memaksa agar ia dapat bertemu dengan Evan segera. Bahkan ia memberikan waktu yang cukup ekstrim, yaitu besok.
Awalnya Sein agak tidak percaya namun sesaat pesan lain muncul dan membahas detil mengenai Evan. Sein pun akhirnya percaya, bahwa si pengirim bukan main-main dalam mengirimkan pesan.
*****
Malam ini Evan tidur menemani Rose, karena tadi Rose meluapkan isi hatinya kepada Evan dan menangis sejadinya.
Membuat Evan mau tidak mau harus memenangkannya.
Di salah satu kamar tidur, Evan tidur di ranjang yang sama dengan Rose. Dalam kamar pun gelap karena lampu kamar sudah di matikan. Evan disana masih terjaga, sementara Rose keliatannya sudah tidur dalam dekapan Evan yang hangat.
Dalam hati Evan berkata.
"Seharusnya aku tidak melakukan ini, tapi..., ini semua demi Rose dia tadi menangis meluapkan semua emosi dan perasaan dalam hatinya. aku benar-benar tidak menyangka, jika kehidupan Rose bisa sesuram itu."
"Pelukan Rose begitu hangat dan dia sangat wangi. aku tidak percaya jika aku akan tidur bersama dengan seorang perempuan untuk yang kedua kalinya."
"Mmm...mmm...," Rose memeluk Evan lebih erat lagi dari sebelumnya.
Sebenarnya Evan ingin sekali menolak pelukan dari Rose dan hendak melepaskannya. Tapi ia sadar jika sekarang adalah waktu yang tidak pas.
Evan Kembali bermonolog dalam hatinya.
"Dia sangat dekat sekali!, saking dekatnya, aku bisa mendengar detak jantung Rose."
"Nafasnya..., dadanya. tubuhnya juga sangat dekat."
__ADS_1
"Nggak mungkin rasanya bisa bertahan, dalam situasi ini!"
Evan pun mencoba untuk tetap tenang, dan melawan segala pikiran buruknya yang bermunculan di benaknya.