Ayah Yang Tak Pernah Menua

Ayah Yang Tak Pernah Menua
Apakah Surat Cinta


__ADS_3

Pihak keamanan hotel sekarang ini sedang di sibukkan dalam pencarian orang yang di duga menghack CCTV.


Di kala derasnya hujan dan di padukan dengan suara petir yang menggelegar, mereka terpaksa mencarinya demi keamanan lingkungan hotel.


Di ketahui aktivitas terakhir yang telah di lacak oleh tim program, mengarah kepada 5 tempat yang berbeda.


Sehingga di butuhkan 25 orang untuk setiap regu. Yang masing-masing berjumlah 5 orang


Bisa saja si hacker menipu pihak hotel dengan mengirimkan sebuah alamat IP palsu kepada staf progam. Terlihat dari 5 tempat berbeda yang telah di konfirmasi sebagai tempat keberadaan si hacker.


Evan saat ini berusaha untuk kabur dari sana(bangunan dalam tahap sedang di bangun). Dari lantai 2 melalui jendela yang terbuka dan belum di pasangkan sebuah kaca. Evan keluar melewatinya, seusai menyelesaikan misi menangkap pelaku kejahatan yang tengah viral.


Meski harus basah kuyup karena hujan. Evan terpaksa melakukannya, demi menjaga privasi dirinya.


Layaknya ninja, Evan meloncat dari bangunan satu ke bangunan yang berada di sebelahnya. Lalu turun menggunakan tali yang menjuntai.


"Tepat waktu!!, serta aku dapat lolos juga dari mereka, hmm btw handphone aku dari tadi belum ku cek, pasti Sein mengirimkan SMS,"


Di smartphonenya Evan mengaktifkan mode diam saat menjalankan misinya tadi. Yang bertujuan demi kelancaran misinya, ia pun sampai tidak melihat SMS penting dari Sein.


...****************...


Setelah 1 jam lebih, Evan terbangun dari tidur lelapnya.


Sambil mengingat peristiwa yang dialaminya sewaktu berada di gedung pembangunan.


Meski ada kejadian yang membuat Evan dalam keadaan terdesak. Dan bisa saja nyawanya melayang, karena misinya itu.


Beranjak dari tempat tidurnya, Evan menuju pintu dan mengambil sepucuk surat yang telah sengaja di tinggalkan oleh seseorang.


Evan mengetahuinya secara tidak sengaja dan posisinya tergeletak di lantai bawah pintu.


Ada aroma wewangian khusus yang menyelimutinya, ketika Evan menghirupnya. Sesaat akan membukanya.


"Niat sekali orang yang memberikan surat ini," ucap Evan sambil membuka surat tersebut.


Secarik kertas berwarna coklat keemasan dan gambar animasi beruang di samping kanannya. Menambah kesan khusus bagi pembacanya.


Dalam surat berisi tentang pengakuan orang yang mengirimnya. Evan pun membacanya secara keseluruhan.


Dan di dapatkan inti dari pesan yang ia baca.


"Siapa ya kira-kira orang mengirimkanya," Evan menunjukkan ekspresi kebingungan dan bertanya-tanya.


Beberapa menit setelah Evan bangun.


Tok.tok. tok.

__ADS_1


Terdengar suara ketukan pintu dari luar.


Evan membuka pintu dan alangkah terkejutnya ia mendapati Sein yang sudah ada di depannya.


"Apa??" mulutnya ternganga.


Mereka berdua pun masuk kedalam dan membicarakan tentang kejadian tadi. Setelah Evan menyambut hangat kedatangan Sein.


Alasan Sein mendatangi Evan sekarang ini adalah, karena ia sangat khawatir dengan kondisi Evan. Apalagi di GPS komputer Sein menunjukkan hal yang mengejutkan yang pernah dilihat olehnya.


"Bagaimana kamu dapat kemari Ken, sekarang ini kan sedang hujan lebat," tanya Evan kepada Sein.


"Justru kondisi saat ini yang membuat jalanan menjadi sepi. meski agak licin ketika melewati ruas tol," jawab Sein dengan jelas.


"Hmm, benar juga ya..,"


"Gini, mengenai misi yang kamu sebutkan waktu itu bagaimana?, apakah ada kendala yang kamu alami Ev. pasti ada menurutku,"


"Misinya sukses, namun menurutku kita tidak membasmi ke akar-akarnya!" ada perasaan kesal dalam hati Evan.


"Maksudmu?"


"Kita belum menangkap ketua dari penjahat tadi,"


"Jadi.. tadi kamu benar-benar menangkap salah satu dari mereka," ucap Sein seakan kaget.


Meskipun dua dari anggota penjahat telah di tangkap, tapi tetap saja aksi mereka kedepanya tetap berjalan. Dan itu terjadi karena tidak di tumpas langsung dari akarnya. Itulah maksud Evan.


Mereka berdua berbincang-bincang selama 1 jam penuh, sampai Evan di buat untuk menolak ajakan temannya.


Pukul 21:08 .


Malam ini suhunya sangat dingin. Evan merasakannya saat ia membuka jendela dari kamarnya, untuk melihat bintang-bintang di langit.


Setelah hujan deras disertai petir dan juga angin beberapa waktu lalu. Malam hari ini tampak berbeda. Di langit terlihat sangat cerah sehingga seseorang dapat menghitung bintang yang bersinar.


"Aku jadi keterusan kepikiran tentang isi surat itu. tentang sebuah pengakuannya yang selama ini dia pendam, mungkin saja..dia salah kirim. barang kali dia lupa alamat untuk mengirimkannya, atau karena hal lain,"


Karena udara dingin mulai membuatnya bersin, Evan pun menutup jendela dan langsung menuju ke tempat tidur.


Evan berbaring di tempat tidurnya dengan kedua tangannya menyangga di kepala.


"Ramuan Sains yang aku buat waktu itu ternyata ada gunanya juga. awalnya aku hanya coba-coba saja, tapi aku tidak menduga bisa berguna pada kondisi mendesak," Evan membicarakan hal yang dialaminya di posisinya sekarang.


Kilas balik ingatan Evan sewaktu berada di lantai 2 .


"Tempat ini kelihatannya masih belum jadi, bahkan bagian langit-langit saja masih ada yang bolong," ucap Evan melihat ke arah langit-langit.

__ADS_1


Beberapa saat.


Lalu Evan merasakan hawa kehadiran seseorang.


Tiba-tiba dari arah belakang, ada yang mencoba untuk memukul Evan dengan mengunakan besi panjang. Dan mengarah ke bagian belakang kepala Evan.


Karena reflek Evan pun menghindari serangannya.


Dan di saat itu pula Evan melemparkan serbuk ke arah orang yang hendak memukulnya. Atau bersamaan saat orang tersebut melesatkan besi panjang.


Secepat mungkin setelah melakukannya, Evan membalikkan badannya dan melihat ke arah orang yang berusaha untuk memukulnya.


Serbuk yang Evan lempar tadi adalah serbuk yang dapat mematikan gerak pada tubuh.


Walaupun demikian, ada waktu khusus supaya serbuk tersebut dapat berfungsi.


Itulah mengapa Evan mencoba memainkan sebuah drama agar rencana awalnya dapat berjalan mulus.


...****************...


Pagi buta Evan terbangun dari tidurnya.


Setengah badannya pun bangun, sambil ia mencoba menahan menguap dengan menutup mulutnya dengan tangan.


Tidurnya sangat nyenyak sampai ia merasakan sendiri nikmatnya bangun pagi.


Meskipun tidurnya nyenyak tetapi di bawah matanya agak menghitam. Sontak membuat Evan merasa keheranan.


"Agrh.." sambil melemaskan badannya.


"Ini aneh sekali, padahal aku tertidur pulas. tapi kenapa bagian bawah mataku mala menghitam," sambil menyentuh bagian bawah matanya.


Tangan Evan meraih ponsel yang ada di dekat lampu, bersebelahan dengan pesan yang Evan temukan di bawah pintu.


Di kala membuka ponselnya ada banyak sekali pesan chat yang masuk, baik itu grup melalui aplikasi chatting atau pesan dari aplikasi chatting lain.


Karena sudah terbiasa Evan jadi biasa-biasa saja ketika melihatnya.


Tapi yang bikin ia kesal saat ini adalah jumlah pesan yang ada di grup chatting kelas. Yang sudah hampir ribuan.


"Aku ingat jika sebelumnya aku lupa untuk mengaktifkan mode diam dan tak terlihat,"


Evan penasaran dengan apa yang tengah di bicarakan oleh teman sekelasnya semalam.


Membuatnya mengklik grup dan membaca pesan-pesan secara cepat.


"Seharusnya ada topik hangat yang mereka perbincangkan semalam. sampai bisa jumlah pesannya mencapai ribuan," pikir Evan.

__ADS_1


__ADS_2