Ayah Yang Tak Pernah Menua

Ayah Yang Tak Pernah Menua
Menempati Janjinya


__ADS_3

Evan lupa jika hari ini ia ada janji untuk menjadi pelatih sementara klub di klub basket. Karena urusanya barusan membuat dirinya jadi lupa jika ia sudah berjanji kepada Erik lewat sambungan telepon waktu itu. Maka setelah mengingatnya ia pun langsung bergegas menuju ke Sekolah.


Evan melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul 14:45 dan rupanya Evan terlambat sekitar lima belas menitan. Tapi untungnya Evan masih bisa ingat dengan janjinya.


Sementara di lapangan basket.


"Gimana sih, katanya ada pelatih baru kok nggak datang-datang, mala pake acara telat lagi?" ujar Ryo yang kesal menunggu kedatangan Evan karena tak kunjung datang.


"Mana aku tahu, yang aku ingat jika pelatih baru akan melatih kita sementara" jawab Felix menjawab ucapan Ryo yang kesal tadi.


"Kita mesti sabar, sepertinya pelatih ini sangat sibuk sehingga ia datang terlambat!" ucap ketua basket Xiang Wo yang membantu mencairkan suasana.


"Aah.. ada benarnya juga kapten mungkin dia di sibukkan dengan urusan lain. kemungkinan dia adalah seorang guru olahraga," ujar Liam.


Ada 6 orang yang hadir di lapangan dan sisanya keluar sambil menunggu. Sementara keenam anak ini lumayan sabar dalam menunggu kedatangan pelatih di dalam, sembari berlatih bersama dengan temannya.


Evan yang sudah memasuki area Sekolah. Berusaha mempercepat langkahnya, agar cepat sampai. Namun di dekat gerbang Sekolah tadi ia melihat ada dua orang yang berpakaian olahraga. Sehingga saat itu juga ia langsung menyuruhnya untuk masuk kedalam dan mengikutinya, akan tetapi mereka yang tidak mengerti kenapa Evan menyuruhnya masuk, mereka pun hanya diam di tempat dan enggan mengikuti Evan.


Dan karena buru-buru Evan sampai lupa untuk menjelaskan maksudnya kepada mereka, dan lupa untuk menoleh kebelakang, apakah mereka berdua mengikutinya atau tidak.


Sampai di sana, Evan pun datang menghampiri mereka yang terlihat sedang menunggunya sampai ada yang berlatih duluan.


"Mari kita berlatih," ucap Evan yang membuat mereka berenam kaget.


"Hah, kau kan Evan kenapa kau ada disini?" tanya Ryo yang merasa bingung.


"Hey.. dia itu Kakak kelas kita. kita harus memanggilnya dengan sopan," ucap kapten yang menceramahi Ryo.


"Tidak apa-apa, kalian bebas memanggil ku karena hari aku yang akan melatih kalian!" ujar Evan.


"Hah," tatap mereka kaget.


Mereka yang tak menyangka jika Evan adalah pelatih baru itu. Padahal sebelum Evan datang, diantara dari mereka ada yang bilang jika pelatihnya adalah seorang atlet dan guru olahraga.


Evan memulainya dengan sesi pemanasan, sambil menunggu yang lain datang.


Dengan baiknya Evan mencontohkan pemanasan yang tak biasa kepada mereka. Di tambah beberapa teknik mirip seperti gerakan kungfu yang membuat Ryo agak kesulitan untuk menirunya, namun dia tetap semangat dalam pemanasannya.


Beberapa menit Evan memulai pemanasan, akhirnya yang lain datang juga sehingga total mereka sebelas orang.


Selesai melakukan pemanasan Evan melanjutkannya dengan lari kecil memutari lapangan. Lalu ia baru mulai untuk melatih mereka.

__ADS_1


"Baik kita hari ini akan berlatih melempar bola basket, ada empat teknik melempar bola atau mengumpan kepada rekan setim dalam bola basket yaitu chest pass, bounce pass, overhead pass, dan wrap around pass. Ketiga teknik tersebut merupakan cara mengumpan variasi dasar dalam bola basket. pertama kita akan mengawalinya dengan lemparan chest pass," ujar Evan sembari mengambil bola basket.


"Tapi kenapa kita mengulanginya?"


"Iya, kita kan udah pernah berlatih teknik itu?"


Beberapa dari mereka tak setuju Evan melatih ulang teknik yang pernah mereka pelajari.


"Iya..kalian memang sudah pernah melakukan latihan teknik itu, tapi apa kalian sangat ahli di setiap tekniknya?" tanya balik Evan, melihat ke arah mereka yang tadi tak setuju.


"Aku menguasainya..," ucap Ryo dengan percaya dirinya.


Yang lain pun menyorotinya.


"Oh, baliklah teknik apa yang kamu kuasai?"


"Ya.. pasti ketiganya-lah!"


"Baik, mari kita liat nanti dan berhubungan ada yang tidak setuju maka aku akan mengambil suara yang terbanyak dari kalian, jika kalian setuju angkat tangan?. jika tidak maka sebaliknya," jelas Evan kepada mereka.


Namun mereka tidak mengangkat tangannya, kecuali Baymu murid yang mengenakan kacamata di setiap kesehariannya, dan hanya dia yang angkat tangan.


"Mereka tidak tahu betapa pentingnya teknik melempar, ya biarkan sajalah," dalam hati Evan berkata.


Prit...


Latihan di mulai, salah satu anggota berusaha melempar bola basket ke dalam ring. Setelah Evan mencontohkannya kepada mereka.


"Bagus-bagus, selanjutnya..," ujar Evan yang sedang mengkoordinir mereka.


Tak terasa sudah 4 kali mereka mencoba semua teknik shooting ke arah ring. Sehingga Evan pun menyuruh mereka untuk beristirahat sejenak, yang setelahnya mereka bebas bermain basket.


"Melatih mereka tidak sesulit yang aku duga, tapi aku menemukan beberapa anggota yang unik. salah satunya adalah sang kapten Xiang Wo di sangat hebat pada teknik shooting sampai-sampai membuat anggota lain terpukau, huh.. memang tidak salah Erik memilihnya sebagai seorang kapten," ucap Evan dalam hatinya sambil mengamati mereka.


Evan lalu bersandar di sebuah kursi yang ada disana.


"Hah.. enaknya..," ucap Evan menyandarkan tubuhnya.


Tak lama ia bersandar sambil melihat para anggota beristirahat dan bermain. Terdengar suara ponsel dari saku celananya.


Drrtttt

__ADS_1


Evan lalu mengambil ponselnya dan melihat handphonenya. Barusan Erik mengirimkannya pesan chat yang berisi " Apa kabar Ev, bagaimana dengan melatih mereka, apa kau sudah melatihnya," Evan menjawabnya dengan " Kau ini, jam segini baru mengingatkan ku, harusnya dari tadi kek. aku mala hampir melupakannya," sambil menunggu balasan dari Erik.


Lalu sang kapten menghampirinya dengan berkata.


"Maaf menganggu waktunya senior, aku ingin mengajakmu bermain basket. apa senior bersedia?" ujar kapten kepada Evan.


"Hmm kebetulan sekali, baiklah aku ikut," ucap Evan yang langsung setuju ikut bermain.


Jam menunjuk pukul 15:57 Evan pun langsung memulai permainan.


pritt..


Evan meniup peluit yang menandakan ia menjadi pemain sekaligus wasit.


Bola di dapatkan oleh Tian yang Evan sebut tim musuh. Dengan gerakan atletik kapten bergerak untuk menyusulnya, namun gagal karena Tian mengoper ke arah rekannya.


"Dia hebat juga rupanya, ini akan sangat menarik," gumam salah satu tim Evan yang diam dalam berkata.


Evan lalu menegurnya dengan berusaha menepuknya dari belakang. Ia juga berkata.


Puk


"Hey, kau ini sedang apa cepat ambil alih bolanya?" tegas Evan kepadanya.


"Eh.. iya-iya senior ," langsung saja ia lari mengejar bola.


Rekan Tian pun berhasil memasuki wilayah tim Evan. Suara sepatu yang berderit menggambarkan suasana seru terjadinya perebutan bola.


Bola akhirnya berhasil di amankan oleh tim Evan. Hingga operan demi operan dan beberapa taktik yang tadi Evan ajarkan, mereka coba pada saat ini juga.


"Oper ke kapten Ryo?" perintah Evan kepadanya.


Tapi Ryo mala mengabaikannya, sambil terus mempercepat langkahnya maju ke depan wilayah musuh.


Di sana ada tiga orang yang menghadangnya. Mengetahui itu Evan menyuruh Ryo untuk mengoper bolanya. Namun sekali lagi ia mengabaikannya.


Ketika hendak melempar, Ryo ternyata kecolongan yang membuatnya lepas kontrol. Sehingga bola diambil alih oleh lawan dan selepas itu ia pun agak kaget.


Evan menghampirinya sambil berkata.


"Kamu harusnya bekerja sama dengan timmu dan jangan gegabah!" tegas Evan.

__ADS_1


"Iya.., aku mengerti," dengan ekspresi acuhnya.


Evan pun berusaha menyemangati timnya.


__ADS_2