
Sampai jam pulang Sekolah berakhir guru sama sekali tidak ada yang masuk di kelas.
Evan pun bisa menghabiskan waktunya dengan mengobrol bersama teman-temannya, serta Evan memanfaatkan untuk belajar Sains di laboratorium Sekolah.
Deduksi Evan mengatakan jika kepala Sekolah di ancam oleh seseorang. Pembunuhan terjadi di Malam harinya, maka dari itu kepala Sekolah bisa saja melakukan hal di luar perjanjian atau kesepakatan, sehingga pembunuhan tersebut terjadi.
Dari sikapnya pun terlihat jelas saat Evan di kantornya kemarin, dan jelas ada hal yang membuatnya cemas.
Evan sudah membicarakan informasi tersebut kepada pihak kepolisian. Sisanya biar polisi yang mengurus, Evan lebih memilih untuk tidak terlibat dalam kasus ini. Namun jika ada informasi penting ia pasti akan melaporkannya.
Pada jam 09:12 ada seorang detektif dan salah satu anggota polisi yang sedang mencari informasi terkait tidak kriminal. Mereka mencari informasi dengan bertanya pada orang yang melihat kepala Sekolah kemarin atau yang berhubungan dengannya.
Di tempat kediaman korban pun dilakukan olah TKP yang bertujuan untuk mencari dan mengumpulkan barang bukti yang akan menjadi titik terang atau petunjuk bagi penyidik. Dalam mengungkap dan menemukan pelaku tindak pidana yang di duga pembunuhan berencana.
...****************...
Evan berjalan menuju ke gerbang Sekolah, disana ada supir yang menunggunya.
Rencana Evan hari ini adalah berkunjung ke suatu tempat bersama Rahel. Saat di kelas Rahel sendiri meminta Evan untuk pergi bersamanya sepulang Sekolah, lalu Evan mengiyakannya. Dengan berjanji untuk bertemu di depan gerbang Sekolah.
Tak lama Evan melihat Rahel yang sedang berjalan bersama dengan temannya, dia asyik mengobrol dengan temannya sambil berjalan.
"Eh, bukannya itu Evan!, apa kamu janjian dengannya hel?" tanya Sisi teman sekelas Rahel.
"Itu..itu.. aku hanya mengajaknya saja!, uhm, sekadar pergi jalan-jalan kok.." jawab Rahel mukanya agak memerah.
"Heh, itu kan sama seperti sebuah kencan, ngomong-ngomong Evan juga sangat keren. liat itu dia di sapa oleh banyak gadis-gadis disana!" seru Sisi sambil melihat ke arah Evan yang agak jauh di depannya.
"Evan memang populer, dan aku tidak kencan dengannya kok.. cuma mau pergi bersamanya aja, walaupun hari ini berangin tapi cuacanya sangat cerah!" ucap Rahel.
"Rahel mengalihkan topik pembicaraan tadi, dia juga terlihat agak kesal," ucap Sisi dalam hatinya.
"Baiklah, semoga harimu menyenangkan hel, ingat kalian harus melakukan hal mesra ya?" saran Sisi kepada Rahel
"Iya makasih, eh..?? "
Mereka pun bertemu, ada rasa canggung di keduanya saat saling berhadapan di gerbang Sekolah.
Pada akhirnya mereka berdua masuk ke dalam mobil.
Di perjalanan Evan melihat Rahel dari samping, dia terlihat sangat cantik sampai Evan terpana untuk kedua kalinya.
Saat itu Evan membicarakan hal mengenai Perusahaan Ayahnya Rahel.
"Hel, aku dengar Perusahaan Ayahmu berkembang cepat setelah kejadian itu?" tanya Evan yang duduk di samping Rahel, sembari mencairkan suasana.
__ADS_1
"Iya, perusahaan ayah sudah kembali bangkit lagi setelah kejadian itu, bahkan Ayah dapat membuka lowongan pekerjaan di perusahaannya. aku bersyukur Ayah bisa menghadapi masa-masa tersebut!" ucap Rahel.
"Ya. mau bagaimana lagi, suatu masalah memang harus di hadapi, dan ayahmu berkembang karena ke gigihannya dalam menyelesaikan masalah serta hal yang dapat mengubah perusahaan. aku pernah bertemu dengan ayahmu hel, saat itu dia sedang ada di sebuah cafe!"
Saat itu.
Terlintas dalam pikiranku "bukanya itu Ayahnya Rahel?, bukannya perusahaannya sedang di ambang kebangkrutan. kenapa beliau bisa ada di sini? , di cafe sendirian!" ucap Evan.
"Benarkah, saat itu ayahku sedang ada di cafe?" tanya Rahel karena tidak tau sebelumnya.
"Memberitahukan kebenaran mungkin dapat memotivasinya," ucap Evan dalam hatinya.
"Iya, tepatnya jam 12:06 dimana waktu itu banyak wartawan di sekitaran perusahaan dan berlangsungnya penjelasan terkait adanya pembocoran data oleh seseorang, saat itu wakil presdir yang menjelaskannya!" jelas Evan.
"Lalu apa kamu membicarakan sesuatu kepada Ayahku?" Rahel bertanya kembali kepada Evan, dan dia terlalu dekat dengan Evan.
"Eh.., aku menyapanya!, dia pun menyapa balik, aku sempat bertanya-tanya kenapa ayahmu sampai ada di cafe padahal perusahaannya sedang krisis, saat itu ayahmu menjawab" meskipun begitu ini sudah menjadi kebiasaanku, ada waktunya untuk seseorang beristirahat dan bersantai walaupun ia dalam keadaan mendesak, ketika waktu dan keadaan memaksa kita untuk tak ke mana-mana, tidak ada salahnya untuk menenangkan pikiran untuk menyelesaikan masalah setelahnya!"
"Menurutku ayahmu sangat luar biasa hel, dia tetap tenang dalam keadaan apapun. aku sendiri faham akan maksudnya itu!" ucap Evan.
Rahel melihat ke arah luar kaca mobil sambil membayangkan gambaran perjuangan Ayahnya selama ini.
...****************...
Sampai di tempat, Evan dan Rahel pun turun, sedangkan sopirnya menunggu di tempat yang di janjikan.
Banyak sekali siswa dari Sekolah lain yang mengunjunginya sampai-sampai tempat ini selalu ramai setiap harinya.
Banyak pedagang yang menjual dagangannya dengan harga murah, yang pas di kantong remaja.
...****************...
"Huh, hari ini sangat lelah. bagaimana hel apa kamu menikmatinya?" ucap Evan yang agak kecapean.
"Iya, makasih ya Evan sudah mau menemaniku ke sini aku sangat senang sekali tadi, bisa mencoba banyak hal baru. uhm, lalu apa kamu menikmatinya juga?" tanya Rahel yang tersenyum ke arahnya.
"Ya, aku menikmati sekali hari ini, banyak suvenir yang kita dapatkan dari games-games yang kita coba mainkan, aku juga ucapkan terimakasih kepadamu hel!, berkatmu aku jadi merasakan hal baru!" ucap Evan.
"Eh, hmm syukurlah aku senang mendengarkannya Evan, kamu tadi sangat hebat bisa memenangkan games-gamesnya sampai ada pedagang yang mengatakan "Ini aku beri kamu uang nak!, tapi kamu harus pergi ya.." saat mendengarnya entah kenapa aku sangat senang dan tersenyum saat itu!" ucap Rahel. menjelaskan momen tadi.
"Mungkin itu hanya kebetulan hel, meski aku juga tertawa sedikit dalam hatiku karena pedagang tadi!" balas Evan.
"Mana mungkin kebetulan bisa terjadi berkali-kali?" ucap Rahel.
"Ada pepatah mengatakan "Percayalah pada keajaiban, tapi jangan tergantung padanya!" Evan.
__ADS_1
...****************...
Evan dan Rahel pun melanjutkan perjalanan setelah menunggu sopir untuk membawa banyak suvenir.
Rahel saat itu membeli cemilan yang di dagangkan di sebuah mobil. Saat itu ia juga bertemu dengan kenalannya yang beda Sekolah, namanya Miyuki dari SMA Katsu Khan salah satu SMA terfavorit kedua.
Rahel keliatan asyik mengobrol dengannya, Evan hanya melihatnya dari tempat ia membeli minuman.
Saat membeli minuman Evan mendapatkan sebuah panggilan dari nomor yang tidak di kenalnya.
Tut...tut...
Evan mencoba untuk mengingat nomor tersebut, lalu ia pun mengingatnya dan langsung mengangkatnya.
Di sambungan lewat handphone.
"Hai, Evan apa kabar?" ucap Sheila.
"Hai juga Sheila, aku baik-baik saja kok!"
"Eh, kamu tau kalau ini aku?"
"Justru karena kamu yang memberikannya waktu itu!"
"Tapi aku hanya memberikan informasi nomor baruku lewat omongan saja, tapi aku tidak menyangka kamu masih ingat, btw kamu sedang apa Evan?"
"Entahlah, aku masih mengingatnya, aku saat ini sedang ada di pasar raya, kalau kamu bagaimana disana, apa kamu bersekolah kembali?" lanjut Evan.
"Hmm, untuk itu aku tidak Sekolah tapi Kakakku
mengurus guru les pribadi untuk datang kesini, di rumah!"
"Ouh, tapi apa kamu senang dengan apa yang kamu rasakan sekarang?"
"Aku sangat senang dan bersyukur Evan bisa menjalani kehidupan normal ku, apalagi impianku bisa tercapai bersama seseorang yang aku cintai, btw kamu di pasar raya dengan siapa?"
"Aku juga senang mendengarnya, kamu sudah memiliki kekasih Sheila?, ya... aku bersama temanku!"
"Eh, belum kok!, aku belum punya kekasih maupun pacar!"
"Ouh, berarti tadi kamu hanya ungkapan impian mu bersama seorang kekasih saja, aku kira kamu memiliki seorang pacar!"
"Iya itu maksudku, lalu kalau kamu Evan?, terus kamu disana sama cewe apa cowok?"
__ADS_1
"Kenapa kamu jadi menanyakan itu kepadaku, mana mungkin orang seperti ku mempunyai pacar, aku disini bersama seorang cewek!"
Sheila pun terdiam sesaat, lalu ia kembali berbicara lagi kepada Evan.