Ayah Yang Tak Pernah Menua

Ayah Yang Tak Pernah Menua
Kenyataan Pahit atau Sebuah Kebohongan


__ADS_3

Pukul 19:00 Evan bersama dengan Sein menuju ke sebuah tempat, tempat dimana Evan akan bertemu dengan Rose disana.


Karena mereka berdua sudah sepakat untuk bertemu di Restoran Yama, dekat dengan panorama indah dan gemerlap lampu air mancur yang menghiasi kota.


Di sepanjang perjalanan Evan sedikit mengobrol dengan Sein.


"Apa kamu sudah siap dengan segala kemungkinannya Ev?" tanya Sein serta menyakinkan Evan kembali.


"Ya, aku sudah siap!" jawab Evan singkat dengan ekspresi tenang di wajahnya.


...****************...


Perjalanan tersebut membutuhkan waktu 12 menit lamanya.


Yang akhirnya mereka sampai di Restoran Yama, Restoran yang lumayan terkenal akan konsep Malamnya.


Stylenya baju Evan lumayan simple, yaitu


baju dengan kancing terbuka di padukan dengan kemeja putih di dalamnya. Menambah kesan elegan dan sederhana.


Evan pun langsung turun dari mobil dan mencari tempat untuk dirinya menunggu kedatangan Rose. Karena Evan sudah beranggapan jika Rose pasti akan datang terlambat, sebab perempuan membutuhkan waktu lama untuk berdandan.


Sementara Sein menunggunya di mobil.


Evan melihat sekitarannya, yang terlihat begitu indah. Malam semakin menyatu dengan tema Restoran tersebut.


Tak disangka Evan melihat seorang wanita cantik yang tengah menunggu seseorang disana, pikir Evan.


Evan mendekat ke arahnya, dan samar-samar terlihat mirip dengan orang yang dia kenal.


Evan terus melanjutkan langkahnya sampai ia melihat wanita cantik itu seperti menekan layar ponsel pintarnya.


Drt........


Di saat yang bersamaan terdengar suara handphone Evan yang berbunyi. Lalu Evan mencoba meraihnya dari saku celananya.


Terlihat panggilan tersebut dari Rose yang menelpon Evan.


Hendak mengucapkan sepatah kata Evan kaget, jika suara dan kehadiran Rose sudah ada di sampingnya.


Rose pun langsung menyambut Evan, sementara Evan terdiam mengingat anggapannya yang terlalu jauh.


...****************...


Mereka berdua pun mengobrol, setelah mencari tempat yang dikiranya nyaman.


Tempat mereka sangatlah mewah dan beda dengan yang lain atau bisa disebut sebagai tempat VIP. Karena Evan tidak ingin jika obrolannya terdengar oleh orang lain.


Sudah 12 menit berlalu, mereka membicarakan tentang masa lalu awal pertemuan mereka, hingga sampai pada topik inti pembicaraan yang membuat mereka berdua seperti sedang berkencan sekarang.

__ADS_1


"Kita kesini karena ingin membahas soal itu kan?" tanya Evan menatap Rose.


"Iya, serta aku meminta pertanggungjawaban darimu!" jawab Rose.


"Tunggu Rose, kamu serius kan tidak sedang bercanda?" tanya Evan yang tak percaya. matanya menatap tajam ke arah Rose.


"Aku serius, malam itu kamu memang melakukan sesuatu kepadaku. kamu pasti tau kan kenapa aku sampai meminta pertanggungjawaban."


"Berarti... aku sudah..., meniduri mu?" tanya Evan.


Sesaat setelah Evan berkata demikian, mata Rose pun terlihat berkaca-kaca sembari ia menundukkan kepalanya. Dan suasana seakan menjadi hening untuk sesaat meski ada suara pemain biola di sana.


"Begitulah," Rose masih menundukkan kepalanya.


Dalam hatinya Evan tidak menyangka jika dirinya melakukan hal tersebut kepada Rose, sedang dirinya saat itu tengah tertidur dan tidak terpengaruh oleh minuman yang memabukkan.


Meski setelah Evan bangun, ia melihat ada bercak darah dan juga air putih kental di kasurnya. Tapi saat itu Evan hanya berpikir jika itu hanya halusinasinya saja, dan tidak menyangka jika dia sudah berbuat yang tidak baik kepada Rose.


Dan sekarang mau tidak mau Evan harus menanggung akibatnya, akibat dari kecerobohannya tersebut.


"Jadi apa yang harus aku lakukan Rose?" Evan bertanya kepada Rose yang saat itu dia sendiri sedang berpikir.


"Kamu cukup menjadi ayah bagi anak kita ini!" ucap Rose berkata lembut, seraya menatap wajah Evan.


Perkataan Rose membuat Evan kaget.


"Apa!!, mana mungkin. kamu dengan mudahnya membicarakan hal tersebut, bukannya kau tau apa yang akan terjadi nantinya!" ucap Evan yang sedikit mengeraskan suaranya.


"Jadi begini saja!, izinkan aku menyelidikinya lebih lanjut agar aku mengetahui kebenarannya," tegas Evan.


"Tapi...," ucap Rose dengan suara pelan dan kecil.


"Rose kamu tenang saja, mungkin ini hanya kesalahpahaman!"


"Rose. percaya padaku, aku akan memastikannya sekali lagi!"


Entah kenapa mata Rose seakan mencirikan jika dirinya sedang berbohong.


...****************...


Lalu setelah itu Rose mengajak Evan untuk pergi ke hotel, tempat dimana kejadian itu terjadi.


Evan saat itu tidak sependapat dengan keputusan Rose, namun seusai Rose menjelaskan jika dirinya tidak ada waktu dan akan fokus dengan pekerjaannya. Maka Evan pun luluh dan mempercepat penyelidikannya.


Mereka berdua pun beranjak meninggalkan dari Restoran dan pergi menuju ke arah tempat parkiran mobil.


Singkatnya, mereka sudah sampai di hotel dan masuki kamar yang sama pada waktu itu.


Anehnya, kamar tersebut sudah di bersihkan. Dan Evan berpikir jika akan lumayan sulit baginya untuk menyelidikinya. Karena bekas atau bukti bisa saja hilang dan itu lumrah.

__ADS_1


Evan pun menyelidikinya, sedangkan Rose pergi menuju tempat lain di dalam kamar.


"Kalau deduksi ku tepat..., kupikir saat kejadian aku tidak dalam pengaruh minuman beralkohol, dan mengapa... aku secara tidak sadar melakukan hal itu? apa mungkin semua perkataan Rose tadi...,"


"Sepertinya aku terlalu terburu-buru dalam mengambil keputusan dan tidak mengambil kemungkinan yang satunya," ucap Evan dalam hatinya.


Seprai kasur yang Evan selidiki pun sudah tidak bisa ia selidiki. Namun bisa jadi bukti, jika ia membawanya.


Sedikit demi sedikit Evan mencari kebenaran, dan mencoba mengingat kembali ingatan sebelum kejadian tersebut terjadi.


Lalu setelah menyelam agak lumayan jauh dalam ingatannya, Evan ingat jika dirinya meminum sesuatu ketika akan tidur.


Segelas air putih yang ada di sana, di samping tempat tidurnya. Lebih tepatnya di atas meja kecil. Lalu Evan mengambil dan meminumnya, baru setelah itu ia tidur.


Ingatan tersebut membuatnya semakin curiga kepada Rose.


Sampai di titik Evan tahu persis seperti apakah sosok Rose yang sebenarnya, yang dia tahu Rose adalah perempuan yang baik. Meski pengetahuan tersebut Evan asumsikan ketika ia terakhir kali bertemu dengannya, dan tidak menyimpulkan di pertemuannya saat ini.


...****************...


Selang beberapa menit, Evan merasa jika ada sesuatu yang terjadi pada dirinya. Seolah-olah matanya mengantuk membuatnya ingin sekali berbaring di ranjang.


"Apa ini!, sepertinya ada sesuatu di kamar ini, yang dapat membuatku mengantuk," ucap Evan


"Apa mungkin ada semacam bunga yang baunya dapat membuat siapa saja yang menghirupnya menjadi pingsan!" pikir Evan.


Badan Evan kini hampir saja drop, namun Evan memaksanya untuk terjaga.


Dan di momen dirinya hampir saja terpengaruh oleh sesuatu yang membuatnya hampir terlelap, Evan ingat bahwa dirinya sedang bermimpi.


Hal yang mengejutkan adalah, dirinya kini kembali pulih seperti semula.


"Hehe, meski mustahil untuk aku coba, tetapi kebetulan ini ternyata manjur juga. sekaligus menjawab pertanyaan jika aku memang benar-benar sedang bermimpi!" ucap Evan dalam hatinya.


POV AUTHOR


Kamu taukan jika kamu dalam Lucy Dream dan kamu mengetahuinya, jika kamu sedang bermimpi. Maka alur dalam mimpimu itu bisa kamu kendalikan. Seperti halnya melawan garis takdir mimpi yang seharusnya.


Setelah itu.


Clak...clak..


Suara pintu kamar terdengar yang akan di buka dari luar.


Evan kini memainkan dramanya dan pura-pura tergeletak di lantai.


Tap....tap...


Suara langkah kaki.

__ADS_1


Tetapi mengapa, suaranya langkah kaki tersebut menandakan ada dua orang yang masuk ke dalam.


__ADS_2