Ayah Yang Tak Pernah Menua

Ayah Yang Tak Pernah Menua
Terakhir Kali Evan Melihat Syria


__ADS_3

Saat ini Evan memenuhi panggilan dari orang yang memanggilnya. Suster sebelumnya sudah memberitahu Evan kalau orang yang menyuruhnya sedang menunggu di lantai 2.


Evan berjalan menuju ke arah lift dan menuju ke lantai 2, tempatnya untuk bertemu dengan orang itu. Dengan langkah cepat Evan seakan bergegas menuju ke ruang tempat pertemuan. Setelah ia keluar dari dalam Lift.


Ekspresinya hari nampak biasa saja namun hatinya agak bimbang karena harus menentukan akhir alur dari mimpinya.


Ruangan tersebut adalah Tempat yang di khususkan rumah sakit sebagai keperluan pribadi pasiennya. Hanya saja ruangan yang Evan datangi adalah ruang VIP.


Ada seorang wanita cantik yang tengah menunggunya di ruangan tersebut. Pakaian yang dikenakannya terlihat kasual dan tidak berlebih.


"Di sini tuan muda...!" ucap seorang wanita yang memberitahu Evan dan menyuruhnya masuk.


Evan hanya mengangguk.


Langkah Evan terhenti untuk lebih masuk kedalam, karena ia melihat Syria. Orang yang ingin bertemu dengannya.


"Ada apalagi ini!, bukannya dia kemarin sudah aku suruh untuk tidak menemui ku lagi," ucap Evan dalam hatinya, yang masih menyimpan kekesalan kepada Syria.


Terpaksa Evan masuk daripada hanya menatap Syria.


Evan lalu mendudukkan bokongnya di sofa dan mengepal kedua lengannya.


"Bukannya aku sudah menyuruh mu untuk pergi dan tidak menemui ku lagi!" ucap Evan dengan nada penuh penekanan kepada Syria.


Syria terlihat tertunduk malu dan mengingat-ingat lagi kejadian kemarin. Memang Evan sudah tegas menyuruhnya untuk tidak menemuinya lagi. Evan saat itu memang tidak memberikan alasan pasti, tapi Syria semestinya juga sadar apa yang telah ia perbuat sebelumnya.


Evan ini seakan membantunya lolos dari jeratan hukum, pasalnya Syria selama ini telah di ketahui kebenarannya oleh Evan bahwa ia memang salah satu anggota organisasi misterius yang kini semua anggotanya sudah di tangkap dan di berantas tuntas.


"Baik-baik! aku memang salah tapi... aku bukan orang yang mengambil suatu jalan tanpa keputusan!" Syria mencoba menyakinkan Evan kembali agar dia tidak mengusirnya.


"Sudah!, kali ini adalah yang terakhir kita bertemu! dan suatu hari nanti kamu jangan muncul lagi di depanku, kalau tidak. aku tidak segan-segan memasukkan mu ke dalam penjara!"


Ucapan Evan tadi membuat badan Syria gemetaran dan membuatnya sepenuhnya terdiam.


"Untuk informasi yang aku dapat dari orang suruhan ku, Syria memang benar masuk kedalam organisasi itu, semenjak meninggalnya adik dan orang tuanya!" ucap Evan dalam hatinya.


"Namun, dia memutuskan untuk berhubungan dengan organisasi misterius itu karena dia sudah tahu!, organisasi itu memiliki ketua yang dendam dengan orang di balik tewasnya adik kesayangan satu-satunya!"

__ADS_1


Sebenarnya Evan kesal karena Syria selama ini tidak mengabarinya untuk meminta bantuan.


Dan apa yang Evan lakukan sekarang ini hanyalah kedok supaya Syria mengakui semua rahasianya, sampai ke akar-akarnya.


Evan sebelumnya juga sudah memprediksi bahwa Syria tidak segampang itu pergi dari kehidupannya.


...****************...


Setelah beberapa saat bungkam Syria akhirnya membuka mulutnya.


"Maaf..., aku selama ini tidak mengabari mu sama sekali... aku minta maaf..."


"Aku selama ini banyak mengalami hal buruk!"


Mata Evan terbuka lebar mendengarnya.


"Aku mendapati keluargaku yang di sekap oleh ketua mafia, dia memaksa agar aku di tukar dengan seluruh keluarga ku!"


"Masalahnya, dulu aku pernah melakukan misi untuk melakukan penangkapan kepada salah satu orang yang di duga sebagai otak kejahatan penimbunan dana negara. tidak di sangka orang yang aku tangkap adalah adik dari ketua mafia bawah tanah yang kejam!"


"Hmm, sepertinya karena dia telah menyinggung ketua mafia itu, dia pasti di incar olehnya. bahkan mungkin saja mafia itu menyuruh anak buahnya untuk menyelidiki semua hal tentang Syria. alih-alih menangkap, mereka mala mengambil jalur kekerasan paksa dengan menangkap keluarga Syria!"


Evan terkaget dalam batinnya mendengar apa yang di katakan Syria kepadanya.


"Lalu..., berapa lama kamu bisa lolos dari cengkraman mereka?" Evan akhirnya menyahut perkataan Syria.


"Aku... sudah lumayan lama, sampai akhirnya ada kesempatan buatku istirahat!, untungnya aku bertemu dengan seorang di gedung terbengkalai. dia menceritakan kisahnya yang menarik dan membuatku tertarik untuk bergabung dengan mereka!,"


Sepertinya saat ini Syria ingin menjelaskan semuanya kepada Evan, dia tidak memberi waktu bagi Evan untuk berbicara.


"Singkatnya aku bergabung dengan mereka secara rahasia!, dan ketika hari yang ku nanti-nanti datang. mereka semua menyerbu dan memborbardir penjagaan wilayah para mafia, dengan serangan yang sangat!, sangat! mengerikan! mereka meledakan dirinya sendiri mengunakan bom yang mereka bawa!"


"Dendam ku terbalaskan namun hati ini masih terasa sakit entah mengapa?"


"Ya. berita itu memang pernah aku dengar!, tapi sepertinya ada pihak yang sengaja menutup-nutupi keberadaan berita itu?" ucap Evan dalam hatinya.


"Maaf karena selama ini aku tidak memberitahu mu Ev!, aku minta maaf sekali. seandainya aku masih suci aku pasti akan mengatakan yang sejujurnya tentang perasaanku..."

__ADS_1


"Apa..., kamu menyukaiku?" Evan langsung to the point saja.


Detik ini, menit ini, Syria menangis bahagia dengan senyuman manisnya.


"Mmm, aku sebenarnya sudah menyukaimu sejak lama, semenjak kita menjalankan misi di hutan Dark forest, tapi... sekarang ini aku kelihatannya tidak pantas mengatakannya, karena aku sudah tidak seperti dulu lagi. kehidupanku sudah sepenuhnya hancur semua keluargaku telah tiada, apalagi kesucian ku! aku sebenarnya sudah... be...kas banyak orang!"


Hati Evan terasa sakit melihat Syria berkata demikian namun Syria tetap menunjukkan senyumanya.


Akhirnya setelah semua yang di katakan Syria selesai, Evan saat itu juga memaafkan Syria.


Lalu menyuruh Syria untuk minum dulu segelas air putih agar dirinya tenang.


...****************...


Tiba-tiba terdengar suara handphone Evan yang berdering, membuat Evan langsung mengambil handphonenya dan menerima panggilan itu segera.


"Hallo Ma ada apa?"


"Evan!, sekarang kamu kesini temui Mama segera, Mama mau bicara denganmu!"


"Emang Mama lagi di mana?"


"Disini di kamar Rose!, kamu cepetan kesini ini penting lho...!"


"Iyaa, aku akan segera kesana!"


Evan mematikan panggilan dari Ibunya.


"Syria kamu tunggu di sini dulu ya!, ada urusan yang harus aku selesaikan!"


"Oke, aku menunggumu," jawab Syria menunjukkan senyum yang sama persis saat dia meninggalkan Evan dulu.


Ada perasaan tidak enak ketika Evan beranjak akan pergi meninggalkan Syria.


Namun dengan berat hati ia terpaksa, karena Syria sudah berkata demikian.


Hari ini adalah waktunya Rose kontrol atau cek kondisinya di rumah sakit oleh dokter, seperti memantau kesehatan Rose dan lain-lain.

__ADS_1


Hari ini Ibu Evan datang ke rumah sakit untuk mengunjungi Rose sekaligus ingin mengobrol dengannya lagi.


Mereka berdua sudah akrab, setelah ngobrol berduaan bersama beberapa hari yang lalu.


__ADS_2