
Perempuan cantik itu pun menghampiri Evan, selagi Evan berpura-pura tidak memperhatikannya.
Ketika ia dekat dengan Evan ia lalu...
Dia memegang baju Evan yang keliatannya akan mengatakan sesuatu kepadanya. Kebetulan sekali Evan sudah memakai baju sewaktu berada tempat di pemandian.
Evan menghela nafas lalu berkata.
"Baik.., aku minta maaf. karena tidak mengenalimu, sungguh aku memang tidak mengingat apa-apa tentangmu," Evan langsung terus terang saja kepadanya.
Ucapan Evan membuatnya agak kaget. Sampai-sampai perempuan itu menundukkan kepalanya.
Hati Evan merasakan sakit sesaat setelah ia sadar dengan kata-katanya barusan. Yang mungkin saja perkataannya barusan kurang enak di dengar olehnya.
"Begini saja!, bagaimana kalau kamu menceritakan kisah singkat tentangmu. bila perlu masa-masa kecil yang berhubungan langsung denganku," ujar Evan.
Seperti bangkit dari keterpurukan, perempuan itu pun berganti ekspresi di wajahnya. Dia rupanya sangat senang ketika Evan memberinya sebuah kesempatan.
Bahkan memberi Evan sebuah senyuman manis darinya.
"Sebaiknya kita berbicara sambil duduk?" ujar Evan.
Jawab perempuan itu dengan anggukan.
Evan duduk di kursi sementara perempuan itu duduk di kasur.
Merasa agak canggung Evan lalu berpura-pura batuk untuk mencairkan suasana.
"Uhuk..uhuk..," tangannya menyentuh bagian bibir.
Seperti halnya pertanda untuk perempuan itu memulai percakapan, ia pun akhirnya berkata kepada Evan.
"Uhm, aku akan menceritakan kenangan masa kecil ku dulu, sewaktu bersama mu," sambil melihat ke arah Evan.
"Oh, baiklah. aku akan senang mendengarkannya," ucap Evan tanpa ekspresi.
"Tapi pertama-tama kita berkenalan dulu, ehm siapa namamu?" Evan bertanya seperti ia baru saja bertemu dengannya.
"Kamu tidak mengingat namaku,"
"Ya begitulah, aku mungkin melupakan sesuatu,"
"Nggak mungkin kamu bisa melupakan aku, kamu sendiri pernah berkata kalau kita akan bertemu lagi dan kamu tidak akan lupa kepadaku,"
"Eh!"
Evan kembali di buat bingung oleh setiap perkataan perempuan cantik itu. Yang kini perempuan itu membuang muka dengan ekspresi cemberut.
"Aku tidak tahu, tentang siapa atau apa perempuan ini. tapi satu hal yang aku tahu dia adalah perempuan yang sangat cantik, dengan rambut panjangnya yang menjuntai. bak seorang Dewi,"
"Tapi kenapa, kenapa wajahnya terlihat sedih.., ketika aku berkata tidak mengenalnya,"
Ucapan minta maaf pun kembali Evan lontarkan, berharap dapat menebus kesalahannya.
Perempuan itu pun tersenyum simpul melihat cara Evan meminta maaf kepadanya.
Kini Evan fokus mendengarkan sebuah kisah riwayat hidup.
Perempuan itu lalu menceritakan kisahnya, sewaktu bersama dengan Evan.
__ADS_1
Di dalam kisahnya, Evan adalah orang yang berarti baginya. Bahkan pertemuan pertamanya yang sangat berkesan berlangsung di sebuah Perpustakaan.
Begitulah yang di katakan oleh perempuan itu kepada Evan.
Saat itu Evan secara tak sengaja bertemu dengannya. Di kala perempuan itu sedang mencoba mengambil buku, dan karena lengannya tak sampai, ia pun terpeleset karena memaksa untuk mengambilnya.
Evan yang sedang mencari buku untuk dibacanya, secara kebetulan berada disana. Ketika matanya terbelalak melihat perempuan di momen jatuh. Ia pun dengan cepat mencoba untuk meraihnya.
Seketika kedua tangannya Evan menangkap perempuan itu. Dan terjadilah saling tatap diantara keduanya.
Bukannya berterima kasih kepada Evan yang telah menolongnya, perempuan itu mala kesal kepada Evan.
Evan yang tidak tahu di mana letak kesalahannya pun meminta maaf kepadanya.
Singkat cerita, setelah awal pertemuannya dengan perempuan itu. Beberapa hari pun berlalu.
Hingga Evan bertemu untuk yang kedua kalinya dengan perempuan itu. Namun berbeda dengan waktu yang lalu, sekarang ini ia bertemu dengannya di sebuah pusat pembelanjaan.
Ceritanya perempuan itu hendak membayar tagihan dari belanjanya di kasir. Tapi sewaktu ia mengecek kedalam tas untuk mengambil dompet, dompetnya tidak ada di dalam.
Beberapa menit ia mengeledah namun tak kunjung ketemu. Pada akhirnya ia ingat jika ia lupa untuk membawa dompetnya.
Dengan ekspresi cemas ia pun berusaha untuk mengatakannya kepada kasir di depannya. Yang terlihat sedang mengamatinya.
"Maaf pak aku lupa membawa dompet!" dengan berat hati ia berkata.
"Gimana ya, uhm..apa kamu punya uang elektronik, yang mengunakan ponsel itu. ada nggak?" ucap Pak kasir.
Dalam hati perempuan itu berkata.
"Duh..., ternyata ini alasan ayah menyuruhku untuk belajar mengunakan uang elektronik,"
"Bahkan waktu itu aku mala malas membuatnya,"
"Hah, ada pelanggan rupanya,"
Evan menaruh keranjang berwarna merah di bagian kasir. Sambil ia melihat jajanan di sana.
"Begini saja, kamu sebaiknya pulang dulu mengambil uangmu. nanti kesini lagi buat ambil barang belanjaan mu,"
Evan termenung melihat kasir berkata demikian.
"Tapi...aku sedang di suruh oleh ibu, untuk segera pulang membawa belanjaan ini,"
"Maaf ya ini sudah..."
Evan memotong perkataan si kasir dan berkata.
"Memangnya beberapa total tagihannya pak?"
"Eh, kamu mau membantunya?"
"Iyaa, aku mau membantunya!"
Rasa gundah di hati perempuan itu pun perlahan menghilang. Dan kini teralihkan perhatiannya kepada Evan, yang sedang menyodorkan uang untuk membayar barang belanjaan.
"Kamu sangat baik nak, rela membantu sesama!" ujar kasir kepada Evan.
"Yap, pak kasir juga baik yaa," ucap Evan dalam hatinya.
__ADS_1
Tak lupa ia pun berterima kasih kepada Evan.
"Makasih yaa, udah tolong aku. btw.. sebelumnya kita kaya pernah bertemu," sembari mengingat momen flashback.
"Iya-iya, sama-sama. bertemu?, kayaknya belum deh,"
"Ouh iya, kamu kan yang waktu itu nolongin aku di Perpustakaan!"
"Dia masih ingat rupanya," ucap Evan dalam hatinya.
"Kita kesampingkan dulu pembicaraan ini, kamu kan sedang terburu-buru!"
Perkataan Evan membuatnya sadar, jika ia sedang terburu-buru membawa barang belanjaan ke rumah.
"Ya udah aku pulang dulu yaa," ia seakan menatap Evan dengan senyum tawa nya.
"Oke, hati-hati di jalan,"
Perempuan itu pun pergi meninggalkan Evan. Dari kejauhan Evan masih melihatnya, yang kemudian dia menaiki sebuah taksi.
"Dia naik taksi rupanya!"
Di rumah tempat perempuan itu tinggal.
"Kamu agak telat!, ibu jadi memasak dulu ayamnya,"
"Maaf ya Bu, aku tadi lupa membawa dompet,"
"Kok bisa!, terus kamu bayarnya gimana?"
"Kebetulan tadi ada orang baik yang mau membantuku Bu,"
"Sungguh!,"
"beneran Bu,"
"Beruntungnya.., kamu enggak lupa kan minta nomor telepon nya?"
"Aah.., aku mala tidak memintanya Bu!!"
...****************...
"Hah, apa hanya karena hal itu kamu mencari ku?"
"Iya, dan sekarang upayaku membuahkan hasil!"
Dan di saat yang tak terduga ada seseorang yang mengetuk pintu kamar Evan.
Tok...tok..tok..
"Gawat ada seseorang," ucap Evan dalam hatinya.
Dengan berbisik Evan berkata.
"Hey, kamu sebaiknya ngumpet dulu?, ada seseorang yang datang. aku tidak mau dia jadi salah faham,"
Perempuan itu menuruti perkataan Evan.
Dan Evan langsung saja menuju ke arah pintu.
__ADS_1
"Pagi.." sambil menunjukkan senyumannya.
Dia ternyata adalah Rahel.