Ayah Yang Tak Pernah Menua

Ayah Yang Tak Pernah Menua
Kecurigaan


__ADS_3

Hembusan angin yang kencang menimbulkan kerepotan tersendiri bagi para pengunjung pantai. Apalagi angin tersebut mencapai 10 Knot.


Penjaga pantai lalu mengamati pergerakan angin tersebut, yang bergerak secara horizontal. Dengan menyuruh pengunjung agar tidak mendekat supaya tetap berada di tempat aman.


Karena hembusan angin yang begitu kencang. Membuat fasilitas dan sebagian tenda dekat Taman jadi terbang terbawa kencangnya angin.


Penjaga pantai pun ikut turut membantu pada saat kondisi tersebut dinilai cukup membahayakan bagi para pengunjung, dan bukan cuma membantu saja, ia juga memberi instruksi kepada para pengunjung agar tidak mendekati area rawan tersebut. Penjaga pantai memberi instruksi menggunakan sebuah toa yang di pegang olehnya.


Angin kencang yang menerpa membuat para pengunjung enggan keluar. Seperti halnya melarang mereka.


Di dalam Resto.


Ada seorang pengamat yang mengatakan, jika saat ini adalah awal mula proses terjadinya badai. Bukan cuma asal bicara saja, ia bahkan berani menjelaskan dan menuturkan penjelasan logis mengenai proses terjadinya badai. Kepada orang sekitar yang dekat dengan tempat ia makan. Orang tersebut diduga adalah orang yang ahli dalam bidang Meteorologi dan klimatologi, dan pantas saja ia berkata demikian beserta penjelasan logis.


Beruntung Evan ada disana, Evan saat ini berada di sebelah barat orang tersebut. Dia terlihat sedang menjelaskan proses terjadinya badai kepada orang berjas mewah sekarang, dan Evan mendengarnya.


"Ah, gitu yah. berarti perubahan di dalam energi atmosfer lah yang mengakibatkan petir dan badai terjadi," ucap Evan dalam pikirannya.


Hanya beberapa menit kedepan saja, hembusan angin dan curah hujan semakin meningkat. Namun peningkatannya menghilangkan hujan es yang terjadi barusan, hujan es hanya terjadi sekitar 6 menitan.


"Lalu, apakah badai ini dapat di kategorikan sebagai jenis badai yang berbahaya?" tanya seorang pengurus resto kepada meteorolog.


"Kemungkinan besarnya kali ini akan terjadi badai dengan intensitas curah hujan yang lebat, namun masih dalam level aman. lalu angin kencang kembali menerpa, hanya saja dapat bertahan hingga 10 menit kedepan, setelahnya hembusannya akan menurun," jelasnya.


Evan menaruh kecurigaan terhadap orang yang mengaku sebagai Meteorolog itu, pasalnya ada beberapa katanya yang tidak sinkron dengan penjelasannya barusan.


Evan saat ini berdiri melihat ke arah luar, ia melihat beberapa orang di luar yang seakan berlalu lalang.


"Harusnya ini menjadi PR bagi manajer resto, terutama untuk orang yang menginvestasikan sahamnya kepada bisnis ini," ucap Evan dalam hatinya.


Bas dan Hyouga pun sampai, dengan membawa minuman yang sudah mereka berdua janjikan kepada Evan dan yang lain.


Agak bersamaan, Erik pun juga sampai.


Mereka lalu melanjutkan lagi menyantap hidangan tanpa khawatir mengenai badai di luar. Karena Evan sudah memberitahukan hal tersebut kepada mereka.


"Btw para cewe tidak takut sama sekali dengan suara petir, padahal tadi ada suara petir yang lumayan dahsyat," ujar Erik.

__ADS_1


"Kata siapa!, mereka tadi kesini untuk membicarakan suatu," Evan langsung saja membalas perkataan Erik.


"Lalu apa yang mereka bicarakan?" Erik pun bertanya kepada Evan dengan tampang penasaran.


"Tentunya seputar badai yang akan terjadi!" terang Evan.


Padangan mereka lalu tertuju kepada Evan.


"Serius, bagaimana kamu tau Ev? ucap Rafael yang seakan mewakili yang lain.


"Jadi, tadi orang yang mengaku sebagai Meteorolog dan menjelaskan secara ilmiah proses terjadinya badai. seperti yang terjadi saat ini," ucap Evan seraya melirik ke arah luar.


"Satu lagi, dan ia mengatakan jika badai yang akan terjadi beberapa waktu dari sekarang adalah badai yang ia nilai sebagai badai dengan level aman," imbuhnya.


Hyouga dan Bas terlihat terdiam setelah mendengarnya.


Evan lalu berusaha mengatakan apa yang ia curigai, yaitu kepada orang yang mengaku sebagai Meteorolog tersebut.


Beberapa saat kemudian.


Ken akhirnya kembali, sambil menyuruh teman-teman untuk ikut dengannya menuju hotel yang berada tak jauh dari area pantai.


Dan memberikan buah tangan khusus sebagai kenang-kenangan.


Kemudian mereka mengikuti Ken menuju ke hotel yang ia sebut tadi.


Terkait kecurigaan Evan terhadap Meteorolog tadi, membuatnya jadi terpikir untuk membuat sebuah rencana khusus demi memastikan lagi kecurigaannya.


Di bantu oleh Hyouga dan Bas.


Sebelumnya Hyouga dan Bas menyadari jika Evan sedang menyampaikan sesuatu kepada mereka, namun Hyouga agak bingung saat itu, begitu juga dengan Bas. Penyampaian tersebut melalui pesan morse dari pengerakan jari Evan yang seolah sedang kram.


Hyouga dan Bas pun memahami pesan Evan tersebut, namun Erik dan Rafael kurang memahaminya.


Kini mereka berjalan menuju ke hotel, sebuah penginapan yang Ken pesan untuk semua temannya yang ikut berlibur.


Sampailah mereka di depan hotel, yang bertuliskan bintang 5 di bagian atasnya.

__ADS_1


Yuki yang belum pernah melihat hotel dari dekat pun takjub ketika melihatnya.


Mereka semua terkesiap sewaktu melihat bangunan hotel nan megah menjulang tinggi. Padahal berdekatan dengan area pantai serta hotel tersebut baru beberapa hari resmi di buka, sebagai bangunan hotel yang kedua.


Memasukinya pun seakan berada di tempat berbeda yang kental akan seni. Dari langit-langit saja terlihat sebuah lukisan panorama yang indah dan memiliki nilai seni tinggi. Yang membuat sebagian dari mereka menatap langit-langit disetiap langkahnya.


Airi bahkan sempat mempoto lukisan yang ia lihat.


"Apa boleh!, lukisan-lukisan ini di poto," ucap Erik dalam hatinya.


Setelah meninggalkan lobby.


Untuk sampai di tempat lift saja membutuhkan waktu yang cukup lama, apalagi dengan jalan kaki. Bisa jadi karena luasnya hotel atau mungkin langkah mereka yang melambat karena menikmati sajian hotel, di setiap langkah-langkahnya.


"Kita seperti berada di museum seni plus hotel saja ya," ujar Sherly.


"Iyaa," Yuki menunjukkan senyumanya.


"kita juga di buat terpaku dengan beberapa lukisan yang disajikan. Hmm seperti yang aku liat tadi, aku mala mempotonya!" ucap Airi.


"Coba mana hasilnya, aku pengen liat," ucap Rahel seperti halnya ingin buru-buru melihatnya.


"Iya-iya, sabar nanti aku tunjukkin," seraya menghidupkan ponselnya.


"Uhm.. nih poto hasil jepretan tadi, gimana cantik kan?" ucap Airi menunjukkan poto lukisan tadi di ponsel miliknya.


Para perempuan pun mengerumuni Airi untuk melihatnya, kecuali Rahel.


Rafael yang penasaran hendak ikut menyerobot masuk, namun Erik berhasil menggagalkannya.


Di samping Evan, Rahel pun menunjukkan salah satu poto lukisan tadi kepadanya. Dari poto kiriman Airi.


"Menurut kamu, bagaimana dengan lukisan yang satu ini," suruh Rahel untuk melihatnya.


"Hah pendapatku, hm menurutku ini adalah lukisan yang bagus," kata Evan.


"Eh, apa itu saja yang kamu tangkap," Rahel mengingat lagi kepada Evan.

__ADS_1


Evan pun bingung.


__ADS_2