
Terik matahari masih belum terpancar sejak jam 06:00 pagi. Terlihat awan yang tebal menutupi segala celah untuk dapat sinar matahari menembusnya.
Atap Sekolah sekarang ini menjadi tempat yang pas untuk seseorang dapat menyendiri karena di padukan dengan kondisi sejuk dan sedikit berangin.
"Uhm?, apa hujan akan turun?" tanya Rahel.
Evan melihat dan menengadah ke arah langit setelah Rahel berucap.
"Sepertinya akan turun hujan, bisa di rasakan dari kelembaban udara saat ini!" Evan membalas dan menerangkan jawabnya.
Semilir angin berhembus ke arah mereka, dimana saat itu ada momen yang membuat Rahel berteriak karena angin nakal yang hampir saja menyingkap roknya.
Untung saja ia replek dan langsung saja menekankan- nya supaya angin tidak melakukan untuk yang kedua kalinya.
"Hmm, ramalan cuaca hari ini kayaknya berangin," ucap Evan seraya berbalik badan selesai melihat langit.
"Hel?, bagaimana kalau kita kembali saja, disini anginnya mulai kencang!"
"Iya..., tadi hampir aja angin..."
Wosh...
Tiba-tiba angin bertiup cukup kencan dan memperlihatkan sesuatu yang seharusnya tetap tersembunyi.
"Kyaa!!!"
Kejadian itu berlangsung cepat sehingga Rahel tidak mencegahnya apalagi Evan yang tidak sengaja melihat sesuatu. Di detik itupun ia langsung membuang muka karena tersipu malu.
...****************...
__ADS_1
Di waktu yang sama, Ken mengajak yang lain untuk masuk ke kelas masing-masing karena di rasa anginnya mulai kencang.
"Ya ampun..., kalau aku disini terus bisa kacau style rambutku!" ucap Ken dalam hatinya, serta berhati-hati dalam menjaga style rambutnya.
Mereka semua pun beranjak pergi meninggalkan Kantin, setelah membayar sejumlah tagihan dari pesanan mereka.
Di waktu mereka berjalan menuju kelas, terutama Ken. Selalu saja melihat murid yang sedang berbisik.
Ya. Ken sendiri tau apa yang mereka bisikan, mereka sedang membicarakan Evan dan Rahel. Setidaknya itulah yang Ken pikirkan.
...****************...
Sementara di Perpustakaan, kondisinya untuk saat tidak terlalu padat seperti biasa. Di sana cuma ada murid gemar membaca dan yang hanya sekadar berkunjung, kurang lebih ada 6 orang di sana.
Sherly yang mengaktifkan dan melihat ponselnya terkejut, karena pesan masuk dari temannya tersebut, membuatnya berganti ekspresi.
Bahkan di sela-sela merapikan buku Sherly terlihat menangis dalam diam.
Melihat Sherly yang berdiam diri cukup lama membuat temannya yang di sana menghampiri.
"Kamu baik-baik aja Sher...?"
"Eh?, aku baik-baik aja kok..., cuma kepikiran sama kelulusan aja!"
"Gitu ya..., tapi kamu ga usah di pikirin. aku nyakin kamu pasti lulus. apalagi nilai ujian kamu kan memuaskan!"
Temannya yang lain saat itu juga turut menyemangati Sherly.
Beberapa jam kedepan hujan baru turun disertai petir yang bergemuruh.
__ADS_1
Kepulangan murid-murid pun menjadi terganggu karena hujan yang semakin deras.
Evan dan Rahel sekarang menunggu, di depan Sekolah yang terdapat teras di atasnya.
"Musim pancaroba ya ternyata..." ujar Evan.
Puk.
Rahel mendekat dan menyandarkan kepalanya pada bahu Evan.
Dari pandangan Evan hari ini, sikap Rahel terlihat ceria dan sumringah. Apalagi saat di dalam kelas tadi, Evan yang sedang membaca buku jadi tak fokus hanya karena Rahel berada di dekatnya. Padahal sebelumnya ia biasa-biasa saja.
"Mmm..." Rahel menutup matanya.
Di belakang mereka ada dua laki-laki kutu buku yang melihatnya.
"Bung!, bangunkan aku kalau dunia sudah membaik," gumam sahabatnya.
"Sabar bung, sabar..., mereka cuma pamer!"
"Gini amat singgah bumi ya," gumamnya.
"Hadeh..., dasar jomblo!"
"Kau kan juga!"
"Lah?, kita kan berdua, emang jomblo?" menghadap ke arah temannya.
"????" temannya berusaha berpikir dan mencerna maksud perkataannya.
__ADS_1
Sekumpulan cewe yang dekat dengan mereka yang sedang berdebat terlihat perlahan menghindari. Karena mereka melihat ada aura aneh yang menyelimuti kedua laki-laki itu.