
Mereka berdua berselisih akan pernyataannya sendiri. Sampai anggapan mereka semakin mengarah kepada kemungkinan terbesarnya.
"Sebaiknya kita buktikan lagi dengan seksama!, dan kamu sebaiknya melakukan hal yang sama sepertiku juga Hyouga," ucap Evan yang menyuruh Hyouga untuk melakukan hal yang sama persis seperti dirinya.
"Baik-baik akan kulakukan!" ucap Hyouga menyanggupinya.
Sret...
Hyouga menyilet lengan kirinya dengan silet tajam. Sehingga lengannya mengeluarkan darah segar. Namun setelah Hyouga menyilet lengannya, Hyouga merasakan rasa sakit setelahnya.
"Apa ini sebuah kebetulan atau hanya apa huh?"
Hyouga merasa sedikit aneh memikirkannya.
Evan pun sampai mencoba menenangkan Hyouga. Seharusnya Evan lah yang seperti itu karena dia juga memikirkan hal yang sama.
"Tenangkan dirimu Hyouga!, apa kau tidak
memikirkan sekeliling mu."
Hyouga terdiam dan melamun.
"Jika ini mimpi kenapa bisa orang sepertiku
bisa berada disini!, kau tahu semua ini terlihat
nyata untuk kau anggap sebuah mimpi," ucap Evan sembari menyakinkan Hyouga untuk menenangkannya, dan sambil menepuk pundaknya.
"Ya, kau benar. semua ini terlalu nyata untuk aku anggap diriku sebagai karakter sampingan
di dalam mimpimu," ucap Hyouga sesaat setelah dirinya kembali tenang.
Tak lama Hyouga izin pamit untuk pulang ke rumahnya, karena ada banyak pekerjaan yang menunggunya.
Evan yang sedang berada di laboratorium pun memikirkan sesuatu, tentang teori-teori mimpi.
Dia seakan penasaran dengan misteri di balik
mimpi itu sendiri.
Yang setelahnya Evan mencari buku yang menjelaskan tentang mimpi, serta Evan mencari buku lainnya sebagai tambahan.
Mimpi adalah cerita dan gambaran dalam benak yang tercipta sewaktu tidur. Mimpi bisa terasa sangat nyata dan membuat kita merasa senang, sedih, atau takut. Mimpi juga bisa terasa membingungkan atau sebaliknya, sangat logis.
Kalimat tersebut lah yang tertulis didalam buku yang Evan baca.
__ADS_1
Di katakan juga dalam buku, bermimpi pada saat tidur ternyata memiliki banyak arti, seperti halnya menyimpan banyak pertanyaan yang belum terjawab.
"Hmm, menurutku sih..., mimpi bisa sangat menghibur, mengganggu, hingga terasa luar biasa aneh. dan manusia semuanya bermimpi, walaupun sebagian orang tidak selalu bisa mengingatnya," ucap Evan bermonolog sendiri
sambil duduk manis membaca buku, dam lengannya satunya menyentuh dagu.
Evan terus membaca tiap bab buku tersebut dengan serius dan fokus. Meski terlihat ada bekas luka silet yang sudah di tutup plester
di lengannya.
Mimpi bisa terjadi kapanpun sewaktu tidur, tetapi mimpi yang paling nyata terjadi pada fase REM (Rapid Eye Movement), di mana otak paling aktif.
"Ini dia yang berhubungan denganku. dan kalau tidak salah...ada istilah lain untuk menggambarkannya!" ucap Evan yang berusaha mengingat sesuatu di pikirannya.
"Ah iya, istilah itu namanya lucid dream. di mana seseorang bermimpi namun dalam keadaan sadar jika dirinya sedang bermimpi!"
Riset menunjukkan bahwa lucid ream terjadi dibarengi dengan meningkatnya aktivitas dari beberapa bagian otak yang biasanya diam saat tidur. Lucid dream menunjukkan kondisi otak yang terjadi pada fase rem dan tersadar.
Beberapa orang yang disebut sebagai lucid dream mampu mengontrol arah dari mimpi mereka, seperti mengubah alur cerita dalam mimpi.
"Serius nih?, kalau iya ini akan sangat luar biasa jika aku mengalaminya sendiri. ya meskipun saat ini aku masih ragu dan bimbang."
...****************...
Sampai dirumahnya Hyouga langsung masuk ke kamarnya. Ibunya pun melihat Hyouga
"Kenapa ya Hyouga?? ucap Ibu Hyouga penasaran terhadap anaknya, sambil mengamati gerak-gerik Hyouga dan menatap ke depan arah anaknya.
Diikuti dengan terdengarnya suara pintu kamar Hyouga yang di tutup.
Di dalam kamarnya, Hyouga melamun sambil memikirkan hal yang baru saja ia lihat, sewaktu
berada di dalam laboratorium.
Hyouga mengingat di momen ketika Evan mencubit lengannya sendiri dengan sekuat tenaga, namun dia sendiri tidak merasakan rasa sakit sama sekali. Bahkan Hyouga melihat lengah kiri Evan yang memerah dan lecet berbekas, meski hanya seperti luka kecil.
Saat itu Evan mengaku jika dirinya tidak sedang
mengunakan ramuan atau cairan sains.
"Kau tahu Hyouga!, aku hari ini tidak mengunakan ramuan Sains penghilang rasa sakit!" begitulah yang Evan ucapkan.
...****************...
Penasaran dengan anaknya, Ibu Hyouga pun berniat menghampiri Hyouga di kamarnya.
__ADS_1
Tok...tok...tok...
Suara ketukan pintu dari luar kamar Hyouga, namun Hyouga sendiri tidak menggubrisnya.
Hingga terpaksa Ibu Hyouga membukanya. Dan alangkah terkejutnya ia, melihat anaknya yang tidak sadarkan diri dan pingsan di kamarnya. Padahal beberapa menit lalu dia melihat anaknya masih baik-baik saja.
...****************...
Siang hari yang cerah Evan bersama dengan Lili pergi berdua untuk berbelanja.
Mereka berdua menaiki taksi agar tidak terlalu mencolok, namun dalam penjagaan mereka sangatlah ketat dan dilakukan secara sembunyi-sembunyi.
Sekalian juga Evan menguji realitas, termasuk
melakukan pemeriksaan berkali–kali terhadap lingkungan sekitar untuk melihat kondisi dan memastikan dirinya sedang bermimpi atau tidak.
Pertama-tama Lili mengajak Evan untuk berfoto di tempat yang sudah di sediakan. Beragam pose mereka tujukan di depan kamera. Lili bahkan memaksa kakaknya untuk berpose berpandangan. Lalu berpose seperti tersenyum, cemberut, bahkan pose romantis.
Evan tidak terlalu mempermasalahkannya, mala ia berpura-pura mengikuti apa kata Lili dan juga alurnya.
Selesai berfoto dan keluar dari tempat. Evan melihat Lili dengan ekspresi senang di wajahnya, serta senyum manisnya yang dapat
menghipnotis bagi mereka yang melihatnya.
Evan baru saja menyadari jika sekarang Lili terlihat berbeda sekarang, karena sebelum berangkat Evan tidak terlalu sepenuhnya
memperhatikannya. Meski saat itu Lili
menatap Evan dengan wajah yang menggambarkan sedang menunggu komentar darinya.
"Kak..., udah dong menatapnya."
"Kakak boleh kok menatap aku sepuas yang kakak mau!, asal kakak nik..."
Evan sadar dari lamunannya saat itu juga.
"Eh, maaf-maaf!, kakak tadi melamun. hmm, apa yang akan kamu bicarakan tadi?"
Lili melihat wajah Evan yang terlihat jujur mengatakannya, sehingga Lili memalingkan mukanya di barengi dengan wajah cemberutnya
"Hupm!"
"Kenapa dengan Lili?" ucap Evan bingung dalam hatinya.
...****************...
__ADS_1
Pertanyaan ini Evan tanyakan dalam pikirannya. Sewaktu melanjutkan perjalanan ke tempat selanjutnya bersama Lili.
"Mengapa mimpi sangat mudah dilupakan?. apa mungkin manusia memang dirancang untuk tidak mengingat mimpi, karena dikhawatirkan manusia akan sulit membedakan antara mimpi atau kenyataan."