
Kak Wichen yang sudah diberitahu informasinya oleh anak-anak yang lain segera bergegas untuk mengganti pakaian dengan ketebalan yang cukup,dan pergi keluar untuk mencari mereka berdua karena mereka juga khawatir takut terjadi apa-apa.
Mereka mulai mencarinya tetapi mereka tidak berteriak memanggil namanya karena takut mengganggu warga-warga lainnya yang ada di daerah tersebut,jadi mereka hanya mencari ke beberapa jalannya juga tempat yang sering mereka kunjungi.
"Kak, jangan-jangan mereka berdua itu diculik oleh orang penjahat? " pikir Zhao.
"Gak, menurut aku tidak mungkin kalau mereka, " ucap she fung yen.
"Lah, Kenapa kamu tidak percaya kalau mereka berdua diculik"balas Zhao.
" Ya.... Karena kalau mereka diculik pasti mereka akan melawan dan juga penculikan sekarang itu hanya bermodus melalui iming-iming uang ataupun makanan, jadi sangat mustahil kalau mereka berdua itu terpancing, apalagi laila sudah di ajarkan kak wichen"She Fung Yen memberikan pendapat seperti itu kepada yang lainnya.
"Hahahah.... jangan-jangan mereka berdua sudah meninggal dan juga jangan-jangan mereka berdua dilindas oleh kendaraan atau jangan-jangan mereka itu dibunuh oleh psikopat atau jangan-jangan. ... " Lau wong terus saja berbicara dan pembicaraan itu tiba-tiba dihentikan oleh Jing Ming.
"Kau ini, dari tadi pakai jangan-jangan mulu dan juga Kalau pendapat itu harus satu Jangan banyak-banyak nanti kita bingung jadinya jangan membuat kakak wichen kwahatir, " jing ming membalas pendapat dari lau wong.
Mereka akhirnya berhenti berbicara dan terus fokus untuk mencari keberadaan Laila dan juga Azka.
Di rumah Laila....
Azka yang sudah pergi ke toilet dia keluar dan merasa lega sekali dia yang berpura-pura tidak tahu langsung duduk kembali di samping Laila.
Sang ibu dan sang ayah tirinya juga sudah ada di sana sedang berbincang-bincang satu sama lain seolah-olah mereka adalah keluarga yang sangat harmonis.
__ADS_1
"Ehh.... oh iya aku baru ingat kalau aku ada urusan Kalau tidak aku beritahu kepada mereka pasti mereka semua akan khawatir kepadaku, " Azka yang baru saja duduk di tempat kursinya tiba-tiba dia berdiri dan mengungkapkan apa yang dia ingin katakan kepada mereka.
Sang ibu bertanya apa yang dimaksud oleh Azka.
Azka menjelaskan kalau dirinya ada janji kepada kakak terbesar kalau dia harus pulang tepat waktu dan dia sekarang meminta izin kepada mereka berdua untuk pulang.
"Lah, kamu tidak perlu khawatir biar nanti kamu pulang ibu akan menjelaskan kepada dirinya jadi kamu tidak akan dimarahi oleh dia, " ucap sang ibu tiri dengan senyuman lebar mencoba untuk menghentikan Azka.
"Iya Azka, nanti kita sama-sama pergi ke tempatmu dan juga kami berdua akan berterima kasih kepada orang yang telah merawat dan menyelamatkan hidup putri kami tercinta, " ujar sang ayah membuat drama yang membuat Laila itu semakin menyukai dirinya.
"Cuih, kalian terlalu munafik sekali kalian bilang dia adalah putri tercinta kalian tetapi aku tahu niat busuk dari kalian, " gumam Azka yang sangat kesal kepada mereka berdua karena dirinya selalu saja bertemu dengan orang-orang yang tidak memiliki perasaan yang baik.
Azka yang hendak pergi dari rumah itu tentu saja mendapatkan tawaran dari ayah tirinya untuk mengantarkannya pulang agar bisa sampai ke rumah yang diinginkannya secepat mungkin.
"Ehh.... kalian tidak perlu repot-repot aku sudah terbiasa seperti ini dan juga ketika sudah sampai Jalan Raya,aku sudah terbiasa menggunakan kendaraan lain dan aku sudah pandai menumpang dengan kendaraan-kendaraan lainnya" Azka yang sudah mengetahui niat buruk dari mereka berdua tentu saja menolak tawaran tersebut karena dia takut terjadi apa-apa kepada dirinya sendiri.
Azka seketika dia membeku tidak tahu harus berbicara apalagi dan menolak ajakan tersebut.
"Eh..... jangan-jangan lagi pula kalau aku jalan kaki aku pasti akan mendapatkan rongsokan yang aku dapatkan, jadi ayah yang baik tidak perlu khawatir kepadaku karena aku sudah terbiasa lagi pula hari ini aku belum mencapai target jika tidak Kakak terbesar yang mengurus kami akan memarahiku, "Azka akhirnya dengan kata-kata ini membuat mereka terdiam dan dia bergegas keluar langsung melambaikan tangan.
Azka menitipkan kepada mereka berdua Laila untuk merawatnya dengan baik.
Azka bergegas keluar dari rumah itu dan berjalan menuju ke arah jalan raya untuk pulang, tetapi ini adalah bagian dari rencananya untuk bisa kabur dari rumah ini dan menyelamatkan Laila.
__ADS_1
Setelah melihat suasana aman dia pun tidak pulang ke rumahnya melainkan dia berdiri dan bersembunyi di samping rumah Ibu Laila.
Azka bersembunyi di balik pepohonan dan juga rumput-rumput yang rimbun sehingga dirinya tidak diketahui oleh siapapun.
Setelah itu, Laila yang baru saja memakan es krim yang telah diberikan ibunya akhirnya dia merasa pusing sekali dan tidak beberapa lama Laila langsung pingsan tergeletak di atas sofa.
Sang ayah dan juga sang Ibu langsung bertepuk tangan memberikan selama satu sama lain.
"Yaudah, nggak apa-apa kalau Azka pulang, lagi pula kita sudah mendapatkan anak ini dan juga anak ini kalau dijual pasti sangat mahal apalagi dari tubuhnya dia masih sangat bagus tidak ada cacat, "ujar ayah tirinya.
Dan ibu kandungnya tersebut juga hanya mengangguk dan yang sangat kejam sekali, padahal itu adalah anak kandungnya dia merelakan anak kandungnya untuk dijual demi mempertahankan ayah tirinya atau ayah barunya.
Azka melihat dari luar, dan ternyata benar Laila sudah pingsan dan mereka bersiap-siap untuk pergi membawa Laila ke suatu tempat.
Di saat mereka bersiap-siap Azka diam-diam masuk ke bagian mobil belakangnya.Dia langsung menundukkan kepala dan seolah-olah di dalam mobil itu tidak ada siapa-siapa.
Sang ayah tiri langsung membawa Laila yang sedang pingsan itu masuk ke dalam mobil agar ketika ciuman itu tidak rewel dan tidak kabur maka sang ayah tiri langsung mengikat kedua lengannya.
Mereka tidak menyadari kalau Azka ada di dalam mobil tersebut.
Bremmm.... bremmmmm....
Mobil tersebut akhirnya dinyalakan mereka berdua sudah duduk dengan nyaman di kursi masing-masing dan bergegas menuju ke suatu tempat.
__ADS_1
"Yapss.... dengan begini kita bisa mendapatkan uang yang banyak dan tidak perlu susah-susah bekerja, " ujar sang ayah yang sedang mengemudikan mobil itu untuk bersiap-siap pergi.
Azka hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat niat yang begitu jahat.