
Malam hari, para anak buahnya karena merasa kelelahan jadi dia mulai tertidur lelap. Beda dengan paman reiko, dia sengaja akan menelpon pengacara pada malam hari.
Jadi, di sebuah ruangan kecil Paman Riko menggunakan suara buatan agar tidak terdeteksi kalau itu suaranya untuk menelpon pengacara.
Azka dia sudah tertidur juga tetapi dia mulai terbangun di tengah malam dan terdengar perkataan dari pamannya untuk berniat untuk menelpon pengacara saat itu juga.
Dia mencoba untuk melihat kesekitar karena dia ingin segera terbebas dari penculikan tersebut. Azka dengan menggunakan kecerdikannya dia melihat sebuah batu kecil, memang batu tersebut tidak ada gunanya bagi dia sekarang tetapi dia menggunakan batu tersebut untuk mencoba melepas tali yang mengikat pada dirinya.
Di sana dia dikurung di ruangan kecil yang dimana ruangan tersebut sudah dibersihkan dari senjata-senjata yang lainnya atau barang-barang yang tajam seperti pisau atau cermin atau pecahan kaca.
Ya, intinya adalah barang-barang yang tajam yang bisa melepaskan ikatan Azka.
Azka mencoba mengambil batu yang ada di sebelahnya itu kemudian dia berusaha keras untuk menggesek tali tersebut dengan batu yang ada, dia berusaha keras hingga beberapa menit sudah berlalu dan kemudian ukuran tali yang besar mengikatnya kini lumayan kecil.
Azka dengan sekuat tenaga hampir saja memutuskan hal itu dan dia langsung melepasnya membuat tali itu langsung putus.
Tap... tap.... tap....
Azka sama sekali tidak bisa melihat kemana-mana apalagi di luar dia tidak tahu bagaimana keadaannya.
Yang jelas di ruangan yang dia tempati sama sekali tidak ada jendela kaca untuk kabur.
Azka kemudian dengan perlahan melangkahkan kakinya menuju ke depan pintu yang di mana pintu tersebut dijaga oleh kedua bawahan sang paman.
Karena pintu tersebut adalah pintu kayu maka kuncinya juga menggunakan sebuah kayu, Azka merasa ini tidak terlalu sulit jadi dia mengambil kayu kecil yang ada di ruangan itu setelah itu dia menyodorkannya dan membuat pengunci pintu itu langsung memutar.
Kini Azka dengan sangat mudah sekali dia bisa melewati pintu tersebut dan dia tidak ingin membangunkan kedua anak buah dari sang paman, makanya dia melangkahkan kaki dengan sangat perlahan sekali kemudian dengan teliti untuk mencoba cari jalan yang lain agar bisa keluar dari tempat ini.
Tap.... tap... tap....
Hoshhh.... hoshhh.... hosh......
"Hahahahha, aku akan mencobanya sekarang, " ucap sang paman.
__ADS_1
Lalu sang paman menggunakan telepon yang lainnya dan menelpon seorang pengacara yang di mana pengacara ini mengatur keuangan milik Azka.
Kring.... kring.... kring.....
Pada tengah malam pengacara tersebut sedang tertidur dan tiba-tiba dia mendapatkan telepon yang di mana telepon ini dari Paman Reiko.
Tentu saja pengacara tersebut walau tertidur dia masih harus melaksanakan tugasnya dan ia segera mengangkat telepon tersebut.
"Halo? ".
" Halo.... hahaha.... aku adalah seorang penculik dan aku sedang menculik Azka, kalau kamu ingin dia selamat maka serahkan satu triliun uang sebagai tebusannya, jika tidak akan kupastikan dia tidak akan selamat, "ucap paman dengan suara yang berbeda agar tidak ketahuan.
" Siapa? siapa ini? ".
" Hahaha..... jangan bertanya kepadaku siapa diriku yang jelas serahkan satu triliun uanguang untuk tebusan".
"Baik,aku akan mengirimkan uang satu triliun itu sekarang juga yang jelas kamu serahkan dia kepada saya".
" Hahahah.... Kamu pikir aku adalah orang yang bodoh? Aku sama sekali tidak ingin uang satu triliun itu ditransfer, aku memintamu uang satu triliun itu dalam keadaan uang yang nyata yang sudah diambil dari bank, kemudian uang itu kamu masukkan ke dalam truk sesuai instruksiku dan letakkan uang tersebut kemudian akan dibawa oleh seseorang, "sang paman sendiri dia melakukan rencananya agar tidak ketahuan.
"Tenang saja, kamu tidak perlu khawatir soal dia aku jelas akan menjaganya".
Lalu telepon tersebut dimatikan dan sebuah rencana tersebut diberikan kepada pengacara itu agar pengacara tersebut membawa uang satu triliun di dalam mobil yang harus disiapkan.
Bahkan, pengacara juga tidak bodoh dia tidak akan memberikan uang satu triliun tersebut dengan cuma-cuma dia akan mencoba meminta bantuan yang lainnya untuk mencari keberadaan dari sang penculik.
Sang pengacara langsung menelpon ke pihak kepolisian untuk mengatur strategi dan rencana yang akan dia buat, tetapi baru saja dia menelepon pihak polisi tiba-tiba ternyata paman langsung memberi ancaman jangan memberitahu polisi kalau tidak maka Azka dalam bahaya.
"Sial.... kalau tidak boleh seperti itu apa yang harus aku lakukan apakah aku harus memberikan uang satu triliun itu? "kata Pengacara itu bingung.
Dan pengacara itu mau tidak mau dia harus memberikan uang sebagai tebusannya karena dia bertugas untuk merawat dan menjaga Azka baik-baik saja.
Di sisi lain, calon suami bibi sarah sedang melakukan pemakaman dengan yang lainnya, Sebenarnya dia juga adalah seorang duda yang di mana Dia baru saja mendapatkan kebahagiaan barunya dan ingin memiliki anak seperti Azka, tetapi baru saja pernikahan akan dilangsungkan dan baru saja disiapkan semuanya malah hancur berantakan.
__ADS_1
Dia hanya bisa menangis dan melupakan masa lalunya untuk memulai kehidupan yang baru, padahal dia sudah berumur cukup tua jadi dia sangat malas mencari wanita yang lain untuk mengisi kekosongan hatinya.
Kembali pada Azka, dia yang sudah melepaskan diri dari ikatannya mencoba untuk kabur dari rumah yang sudah kosong ini.
Azka mencoba mencari jalan yang lainnya tetapi pintu-pintu banyak sekali ditutup dengan begitu rapat, Azka yang masih kecil tidak tahu harus pergi ke mana karena di tempat ini yang dia lihat hanya satu pintu saja bahkan pintu itu sangat besar dan sangat sulit untuk dibuka.
Kini Azka mulai melangkahkan kakinya dan tidak sengaja tangannya menyentuh dinding-dinding yang terbuat dari kayu yang hampir Rapuh.
Azka baru memiliki ide, ternyata bangunan ini terbuat dari kayu Jadi dia yang memiliki kecerdasan tidak akan melewati pintu karena jika ketahuan tentu saja para penculik akan segera mengajarnya.
Dengan cermat, dia dengan perlahan mencari dinding yang terbuat dari kayu yang hampir rapuh tersebut, dia kemudian menarik kayu tersebut yang di mana sangat mudah sekali karena pakumnya menancap tidak terlalu kuat.
Azka melakukan tersebut dan mencoba menarik kayu-kayu yang sudah rapuh dengan secara perlahan, dia melakukan tersebut dengan peran agar tidak membuat keributan dan tidak diketahui oleh para penculik.
"Hhmmmttt..... huft..... " Satu kayu sudah dia lepas dengan perlahan kini dia ingin keluar tetapi badannya cukup besar.
__ADS_1
Jadi Azka langsung membuka kayu yang ada di bawah satu lagi agar bisa keluar, tetapi di saat itu dia mendengar langkah kaki pamannya untuk mengecek keberadaan Azka.