
Karena disaat itu sudah malam, mereka semua memutuskan untuk tidur di tempat sebuah pengurus pemakaman tetapi karena diusir oleh para petugas jadinya mereka hanya bisa tidur di sebuah mobil milik mereka.
Mereka tentu saja Langsung tertidur dengan posisi yang berbeda-beda,berbeda dengan Azka, Iya terus memikirkan dengan Abang Tito yang baru saja meninggal, yang dia tidak percaya adalah orang yang membunuhnya adalah orang kepercayaan dia.
Azka memang merasa tidak heran bahkan dulunya orang yang terdekat sama dia juga seperti itu.
"Ahhh...... sudahlah daripada aku malah menjadi jelas mendingan aku tidur seperti yang lainnya, "ucap Azka merentangkan kedua tangannya untuk meregangkan tubuhnya agar tidak terlalu lelah.
Sungguh, mereka berempat rela tidur di dalam mobil menunggu tempat pemakaman tersebut dibuka besok pagi.
Soal ketua,dia memang terkenal peluru di bagian bahunya bahkan di beberapa kaki dengan tangannya, tetapi orang jahat seperti dia tentu saja tidak akan meninggal seperti itu dengan sangat mudahnya, dia sangat beruntung sekali tertembak hanya terkena di beberapa bagian saja yang tidak membuat dia meninggal dunia.
Setelah terkena peluru dia dibawa oleh beberapa anak buahnya ke rumah sakit secara langsung, tidak lupa ditemani oleh para prajurit agar tidak ada orang yang datang secara tiba-tiba ingin membunuh sang ketua.
Sang ketua kini sudah berada di rumah sakit dia dengan enak sekali diobati oleh beberapa dokter kemudian luka-luka yang ada di tubuhnya mulai diobati oleh mereka.
Memang uang dapat meraih segalanya tetapi uang tidak bisa membeli kesehatan bahkan nyawa.
Setelah sang ketua dibawa ke rumah sakit dan diobati beberapa luka dia masih bisa berbicara dengan cukup mudah walau merasa kesakitan di beberapa bagian.
"Sial!!! Kenapa dia malah menembakiku seperti itu? bukankah dia sendiri adalah anak buahku? "sang ketua bertanya kepada anak buahnya yang sangat terpercaya itu yang selalu ada di sisinya.
" Ketua, kurasa mereka seperti itu karena ketua membunuh anggota mereka".
"Hah? siapa memang? ".
"Tito Ketua".
" Ouh...... baguslah kalau begitu anggota mereka ada berapa? ".
" 5 Ketua ".
" Okeh lah, mereka hanyalah anak-anak biasa saja aku minta bunuh mereka semua jangan sampai ada yang tersisa satu orang pun, "Sang ketua memerintahkan kepada bawahannya untuk segera membunuh Azka dan teman-temannya,karena jika mereka membocorkan beberapa rahasia yang sangat penting tentu saja sang ketua akan dipenjara bahkan lebih parah lagi dia akan diburu oleh beberapa orang.
" Baik, kini tinggal Dino, Azka, rehan, dan Jak, Saya rasa mereka adalah anak yang muda dan keahlian dalam pertempuran belum tentu cukup jadi hal ini ketua tidak perlu khawatir lagi"ujar anak bawahannya.
"Oke, sekarang tubuhku sangat sakit sekali jangan pernah kecewakan aku, aku akan beristirahat segera mungkin sekarang"Sang ketua langsung menutup kedua matanya untuk beristirahat.
Anak-anak yang memegang beberapa senjata juga berjejer menjaga tempat ruangan peristirahatan sang ketua di rumah sakit. Tentu saja karena ketua adalah ketua mafia yang sangat besar dan juga hebat.
Tok.. tokk.... tok......
Beberapa ketukan terdengar dari samping telinga Jak, ternyata itu adalah seorang petugas yang membangunkan mereka. Petuga itu ternyata sedang bersih-bersih di area parkir mobil.
"Tuan? sudah pagi tuan" ujar petugas tersebut karena takut kalau mereka yang ada di dalam mobil itu sudah tidak bernyawa.
__ADS_1
Karena mereka sudah mendapatkan beberapa ketuhanan dari petugas akhirnya mereka bangun.
"Eh di mana aku? "rehan baru bangun langsung bertanya tentang keberadaannya.
" Heh..... jangan nginggau, ingat kejadian kemarin, "kata Dino.
Rehan terdiam sejenak mencoba mengumpulkan nyawanya, dia kemudian baru mengingat kejadian kemaren.
" Bang Tito meninggal! weh! kalian? "rehan yang baru bangun tidur dari dalam mobil seketika sangat heboh memberitahu teman-teman yang lainnya bahwa Abang Tito sudah meninggal dunia.
Jak melihat tingkah laku dari Rehan hanya menggilingkan kepalanya.
" WTF! "Jak langsung menepuk pundak Rehan untuk tenang dan mengingat cerita-cerita kemarin yang baru saja dialami.
Rehan langsung sadar dan sekarang dia melihat tempat sebuah pemakaman(reklamasi).
"Azka..... Kapan kita akan membawanya ke tempat dia? " tanya Dino yang masih di dalam mobil bertanya melalui jendela kaca.
"Dia? ".
" Iya, pacarnya bang Tito".
"Emmm...... Ya udah lebih baik lebih cepat lebih bagus, " balas Azka.
"Salah woe, lebih cepat lebih bagus, nggak usah kata-kata itu diperpanjang lagi makin ribet, "kata Dino jengkel.
" Heheheh"Tawa Azka.
__ADS_1
Mereka menggunakan pakaian hitam untuk menghormati kematian dari Abang Tito, setelah jasad dari Tito mereka mengambil Abu tersebut yang sudah dibakar.
Dan mereka membawa Abu Bang Tito untuk pergi menemui pacarnya yang akan dinikahinya itu, dari sepanjang jalan mereka awalnya bercanda satu sama lain tetapi lama-lama mereka semua langsung terdiam karena merasa kekurangan orang yang di mana dari anggota mereka adalah orang yang paling dewasa dan paling bijak sekali.
"Heran heran...... kita semua melaksanakan tugas dengan susah payahnya tetapi kenapa sang ketua malah dengan mudahnya membunuh Bang Tito, " rehan berpikir seperti itu seolah-olah bertanya kepada teman-temannya.
"Iyah, aku juga tidak menyangka kematian Abang Tito begitu dekat dan yang membunuhnya adalah orang kepercayaan dia sendiri, " balas Jak.
"Sudahlah, percuma kalian bingung dengan apa yang kalian pikirkan tidak perlu kalian tangisi karena sudah pasti kita adalah target dari ketua, " kata Dino.
"OMG! yang kamu katakan sudah jelas pasti benar kita pasti akan menjadi buronan bagi mereka, " Rehan membuka mata lebar-lebar dia tahu kalau dia sendiri akan dijadikan target oleh anak buah dari sang ketua.
"Sudahlah, kalian tidak perlu cuma soal itu yang penting kita harus jalani dulu dan kita bersama-sama saling melindungi, " balas Azka.
"Bener, dalam beberapa tahun saja kita tidak perlu keluar rumah mungkin mereka juga akan lupa dengan masalah kita, " Jak begitu santai sekali berbicara seperti itu.
Tapi bagaimanapun juga anak buah dari sang ketua begitu banyak dan cukup luas menyebar di mana-mana, jika mereka mengetahui keberadaan Azka dan ketiga teman-temannya, maka tentu saja dalam waktu yang cepat mereka akan tertangkap atau terbunuh.
BEPP.......
Rehan menghentikan mobilnya dan ternyata mereka semua sudah sampai di tempat pacarnya dari Abang Tito.
"Sampai? " tanya Jak.
"Iya".
Dan Alexa dengan wajah yang begitu polosnya dan pakaian sangat indah membuat dia terlihat sangat cantik, dia dengan penuh riang menyirami bunga.
__ADS_1
Saat dirinya melihat ke arah mereka berempat terlihat senyuman yang lebar, karena dia berpikir kalau dirinya akan dilamar, tetapi senyuman itu menjadi hilang setelah melihat Abang Tito tidak ada di sana.