
Padahal, Azka sebenarnya sudah dicari oleh pengacaranya untuk mengurusi dirinya tetapi dia tidak ditemukan.
Ia mulai melangkahkan kakinya dengan beberapa kali dan karena jarak menuju pemakaman bibinya cukup jauh dia mulai beristirahat di pinggir jalan.
Terlihat sebuah pohon kayu yang cukup besar bisa membuat dirinya meneduh terlebih dahulu karena cuaca siang kali ini cukup panas bagi dirinya, apalagi dirinya sekarang tidak menggunakan sendal jepit dikarenakan semalaman kabur dengan terburu-buru.
Azka mulai lelah, di masa kecil seperti ini dia terlalu sibuk untuk memikirkan masalah-masalah yang bertubi-tubi selalu datang, seharusnya dia hanya memikirkan cara bermain dan belajar untuk ke masa depannya.
Di pinggir jalan dibawa sebuah pohon dia mulai menuduhkan dirinya dan menerima angin sepoi-sepoi yang membuatnya menjadi sangat ngantuk.
Tak tertahankan lagi hanya bisa menyandarkan tubuhnya di samping pohon itu kemudian tertidur. Banyak sekali orang yang lewat menggunakan kendaraan seperti mobil dan motor bahkan ada yang jalan kaki, sebenarnya mereka semua melihat kepada Azka tetapi mereka semua tidak peduli dan berpikir kalau Azka itu adalah seorang pengemis dan anak jalananan.
Hingga suasana hampir saja sore dia mulai terbangun karena tidak ingin menuju ke pemakamannya hingga malam akhirnya dia memaksakan diri untuk melanjutkan perjalanannya.
__ADS_1
Dengan sekuat tenaga dan kaki terpapa dia hanya bisa berjalan dengan pelan.
"Arghh..... aku sangat haus sekali, "ujar Azka mengelus lehernya dan mencari keberadaan air untuk diminum.
Untungnya, dia menemukan sebuah minuman yang ada di botol di mana minuman itu adalah minuman sisa dari orang-orang.
Azka sama sekali tidak malu dan tidak peduli apa yang orang-orang katakan atau apa yang orang-orang lihat kepada dirinya, dia lebih mementingkan kesehatannya karena ingin segera mencapai kuburan bibinya.
Karena dirinya tidak ingin salah Jalan maka dia memutuskan untuk bertanya kepada orang-orang yang ada di jalan, kemudian dia bertanya kepada seorang pria yang sedang minum kopi di sebuah tongkrongan kecil.
Azka dengan sangat sopan sekali bertanya kepada pria itu tentang alamat yang dia tuju, untung saja dia tidak malu bertanya maka dengan Bunda mendapatkan jawaban dari pria itu.
Tidak lupa berterima kasih kepada pria tersebut setelah mengetahui informasinya.
__ADS_1
"Ayo Azka semangat! " Azka menyemangati sendiri.
Sampai sore pukul 03.30,Ia sudah sampai di jalan ya sepi dihuni beberapa pepohonan yang cukup banyak.
Namun terlihat ada beberapa rumah yang masih berdiri dan sudah terlihat jelas ada sebuah pemakaman di depannya.
Azka tidak tahu harus gembira atau merasakan sedih disini selain dia gembira bisa menemukan makam bibinya dan sisi lain dia sedih karena tidak bisa bertemu bibinya secara langsung.
"Bibi!!!!! " Azka seperti orang gila menangis dan berlari menuju ke pemakaman, dia mencoba mencari nama bibinya dengan pemakaman yang baru.
Hingga akhirnya dia menemukan makan bibinya setelah itu dia menangis dengan sangat keras memeluk makam yang ada di depan matanya itu.
"Bibi........ bibi....... " Azka berteriak menangis rasanya ingin meluapkan emosi dan frustasi yang ada di pikirannya, dia juga bercerita sendiri kepada makam yang ada di depannya seolah-olah ada seseorang yang menemaninya untuk curhatm
__ADS_1