
Karena sang paman sudah turun ke danau jadi dia tidak bisa ditemukan dan sangat beruntung para polisi itu kembali pergi dan hanya bisa menangkap kedua anak buahnya.
Ke bagian Azka yang berumur 18 tahun, Azka dan teman-temannya sudah mendapatkan informasi dari Jak kalau Tito ternyata sudah dibunuh oleh ketua dan mereka bergegas untuk ke belakang mencari kebenarannya.
Dengan langkah yang begitu cepat mereka bergegas ke belakang dan mencari jasad-jasad yang telah dibuang seperti yang lainnya.
"Han.... cepat kamu cari di sana! " kata dino pada rehan.
"Okok".
Azka dan Jak juga tidak lupa dia ikut membantu teman-teman yang lainnya mencari jasa Tito, karena tempat itu ternyata banyak sekali orang-orang yang dibunuh oleh mereka.
" Aghh..... aku tidak tahan lagi aku mencium bau yang sangat busuk sekali, "Jak merasa kewalahan karena dia bertemu dengan mayat-mayat yang sudah lama berada di tempat itu.
" Sudah, cari ke tempat yang lainnya pokoknya kita harus menemukannya, "Azka tetap bersih keras untuk mencari Tito.
__ADS_1
Namun tempat pembuangan sampah seperti itu sangat sulit untuk mereka cari keberadaan Tito. Dan beberapa lama kemudian Rehan yang sudah kelelahan dan tidak tahan dengan mencium baunya melihat sebuah kantong plastik yang sangat baru.
"Jangan - jangann....??? " Rehan berlari menghampiri kantong plastik tersebut dia menggunakan sebuah benda tajam untuk merobek plastik yang ada di sana.
Rehan dengan sangat hati-hati sekali membuka kantong plastik tersebut dan setelah bersusah payah membuka kantong plastik itu dia langsung terdiam tidak tahan ingin meneteskan air matanya.
"Ba.... bang.... bang Tito......!!!! " Rehan Walaupun dia adalah seorang pria tidak tahan melihat sahabatnya sendiri sudah meninggal dunia di depan matanya dengan keadaan yang begitu tragis.
Mereka sudah melihat jasad dari Tito dan seperti Rehan mereka tidak tahan untuk meneteskan air matanya apalagi Azka.
"Abang..... bang Tito..... Huaaa...... Abang.......!!"Azka Langsung menangis historis memeluk tubuh Bang Tito dengan penuh luka dan darah di sekujur tubuhnya.
Dino yang bisa dibilang cukup dewasa dia hanya bisa menahan air matanya untuk tidak terlalu lemah.
__ADS_1
"Jak..... apakah benar yang kamu dengar kalau yang membunuh bang Tito itu adalah ketua? "Dino bertanya dengan nafas yang terengah-engah penuh rasa kebencian.
" Ii.... iya...... "kata Jak dengan tegas.
" Sial! Kenapa ketua harus membunuh Tito apa salah dia bukannya dia sudah menyelesaikan misinya dengan benar? "heran Dino.
" Tapi..... hanya sedikit yang aku dengar ketua tidak ingin mengeluarkan uang untuk membantu Tito menikah dengan kekasihnya, karena uang itu sangat banyak dan dia lebih memilih kita untuk mati, "jelas Jak menghampiri Dino.
Azka masih belum berhenti untuk menangisi orang yang dia sayang, tetapi mereka tidak boleh menangis seperti ini karena saat ini bukanlah waktu yang sangat tepat.
" Azka.... Rehan..... cepat bawa mayat Abang Tito ke dalam mobil, Aku tidak ingin dia meninggal dunia seperti yang lainnya dan dibakar di tempat pembuangan sampah seperti ini"perintah Dino.
" Dino.... apa yang akan kamu lakukan? "rehan berdiri dan bertanya dia takut Dino melakukan hal yang gegabah di saat ini.
" Cepat! Jak kamu ikut aku! "Dino mengajak Jak ke suatu tempat.
__ADS_1
Azka dan rehan bertugas untuk membawa mayat bangun tidur ke dalam mobilnya dan mereka tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh Dino beserta Jak.