Bajak Laut Hitam

Bajak Laut Hitam
CH. 100 – The Story Of Atlana: Katak


__ADS_3

Menaiki menara itu, jelas tidak mudah, bahkan di tengah gelapnya malam. Bermodal cahaya lampu di genggaman tangan. Sangat tidak kuat memandang, samar.


Partikel udara dalam ketinggian yang tak biasa, raut wajah gemetar kedinginan, udara berembus sangat jelas menyentuh permukaan kulit. Kerumunan di bawah menunggu dan hanya terdiam membisu.


Di lain keadaan, Kapten Atlana berjalan menjauhi kerumunan, tetapi belum sempat keluar, dia ditegah oleh salah seorang bajak laut berwajah detektif penuh selidik. Panggil saja, dia Yatama, salah seorang kapten terkenal akan pertanyaan sederhana, tetapi mengundang gelak tawa akan gaya sok tahu, sok detektif, kadang menyebalkan dan bisa memancing emosi.


"Atlana, dari mana kau mengetahui semua kejadian ini?" tanyanya sederhana saja, senyuman miring terlihat sedikit menyebalkan, tangan kanannya menyentuh bahu Kapten Atlana.


Lantas, Kapten Atlana menepis secara mentah-mentah, tanpa balasan senyuman, raut wajah kesal tertampak sangar. "Apa keperluanmu dan dari mana kau mengetahui namaku?" Kapten Atlana balik bertanya.


"Haduuuh, kau balik bertanya. Tentu, aku mengenalmu, kau adalah seorang pemegang gelar ke enam dari Pilar Tujuh Lantai, mana mungkin aku tidak mengenal urutannya," jawab Yatama seraya mengangkat bahu.


Batin dengan pikiran bertolak belakang, keduanya tersemai, kata itu seketika terpikirkan dalam renungan sejenak, jelas sekali celah dari perkataan Yatama bisa ditebak oleh Kapten Atlana.


Bagaimana mungkin dia tahu wajahnya, padahal yang tersebar di penjuru wilayah, hanya tentang namanya tidak menyertai wajah dan sosok secara mendetail.


"Kau pendusta!" Kapten Atlana menajamkan ucapan keras, sekilas terdengar cepat. Asgaha di sampingnya cukup menelan ludah, sedangkan Ajadala telah lama bersamanya, dia sudah terbiasa, bahkan tersenyum tipis seraya menyaksikan penuh ketenangan.


Mendengar ucapan sangar dan keras, dia menggelengkan kepala. "Aku tidak berdusta. Kau memang Atlana, mungkin tadi aku tersinggul wanita cantik hingga melupakan cara menyapamu dengan sopan," ucapnya menyeringai.


Wajah konyol, sedikit menyebalkan, jangan bahas, kasihan katanya. Kapten Atlana mendengus tidak suka melihat tingkah konyol seperti itu, mana ada lelaki, seharusnya macho, bukan lembek. Itu sudut pandang darinya, tentu berbeda dari kebanyakan orang.


Sekarang, Yatama juga. Dia sedikit kurang suka karena melihat raut wajah Kapten Atlana yang tampak juga tidak suka.


Keduanya saling berbenturan, bersitatap dingin laksana dinding bertemu dinding, kasihan Asgaha, dia menjadi kaleng yang terhimpit di antaranya. Ajadala? Tidak termasuk, justru dia bagaikan minyak, walaupun terhimpit kuat, bagaimanapun kondisinya dia tak merasakan dampak apa pun.


"Mengenai Kapten Riyuta, menurut informasi yang kurangkum, kau adalah musuh besarnya, mengapa di saat kematiannya, kau justru menyuruh mereka untuk membunuh orang yang bernama Akma Jaya itu," lanjutnya mengubah suara penuh selidik.


"Itu bukan urusanmu." Kapten Atlana berusaha menjauh, tetapi lagi-lagi pergelangannya dipegang Yatama.


"Tunggu!" tegahnya spontan.

__ADS_1


Kapten Atlana berhenti, detak jantungnya sedikit berpacu kuat ingin menghantam, raut wajahnya? Jangan tanya. Dia marah, lantas menoleh.


BUUK!


Puyuuh, kata Asgaha terkejut. Lantas, Ajadala membenam bibir, menahan tawa karena mendengar ucapan Asgaha. Satu tamparan telah mendarat tepat, bahkan keras di permukaan wajah Yatama, membekas pukulannya.


"Cih, rasakan!" Ajadala berucap pelan, nada sinis, sedikit bergumam.


Saat itu pula, kerumunan membentuk lingkaran, sekarang mereka berempat berada di tengahnya, seperti acara adu tinju internasional yang tayang di TV.


Namun, bedanya penonton di sana duduk, di sini mereka berdiri, mungkin lebih tepatnya laksana menyabung ayam. Eh, bukan lupakan saja.


Tiga versus satu, itu tidak adil, tetapi Asgaha dan Ajadala hanya sebagai tukang simak, tidak lebih. Jangan tanya, berat menjelaskannya.


Para Kapten berjubah juga menyaksikannya, ini adalah momen langka, jarang terjadi, kadang ada banyak peristiwa, tetapi ini termasuk langka.


Sebuah tempat perkumpulan, ada banyak jumlah orangnya, ditambah kerumunan dari penduduk, seperti penasaran atau apa, tidak diketahui alasan mereka.


Di lain hal dari itu, mereka menelan ludah, takut bersalah secara yang paling tinggi jabatan, hanya Kapten Atlana, hampir semua orang mengetahuinya, tetapi entah mengapa Kapten Atlana sedikit kesal karena dipanggil oleh Yatama.


Mungkin, Yatama kurang sopan atau pertanyaannya memang menyebalkan.


Yatama mengusap permukaan wajahnya, sedikit pelan, lalu menatap fokus ke arah Kapten Riyuta, di sisi lain menoleh ke segala arah, lirikan matanya tajam.


"Sepertinya kita menjadi sorotan banyak orang," ucap Yatama tersenyum simpul.


Ajadala mendelik dengan tangan bersilang di bawah dada. "Sudahi saja, Atlana. Jangan buang waktu berharga milikmu untuk berbincang dengan orang seperti dirinya." Ajadala memberi masukan.


Kapten Atlana tak bersuara, dia cukup puas telah menamparnya. Kini, sorotan mata mereka kian berpusat ke satu titik, saling menatap, membeku—terdiam dalam hening.


"Atlana, tenanglah. Bukankah dia hanya bertanya?" Salah seorang menengahi di antara mereka. Yang lain pun sama karena mengingat bahwa Kapten Atlana adalah pemegang gelar, jika terjadi pertarungan, tentu mereka akan terkena dampaknya.

__ADS_1


Mendengar ucapan yang menembus tepat ke lubang telinga, Kapten Atlana menarik napas, menahan amarahnya.


"Baiklah, tak mengapa. Satu hal yang harus kau ketahui, antara aku dan Akma Jaya tidak ada hubungannya, tetapi ada seseorang, hanya satu orang, dia bernama Tabra." Kapten Atlana menuturkan ucapan.


Sontak, Asgaha terkejut sedikit tidak percaya mendengarnya, Tabra adalah salah seorang kawan dari penjahat berjubah hitam tersebut, kini semua itu terngiang-ngiang dalam pikirannya.


Beberapa dari sekian banyak orang, raut wajah tegang terlihat cucuran keringat, malam hari, tidak panas, angin berembus, cucuran keringat seperti tak bersahabat.


Mereka membungkam mulut, tak bersuara, hening. Dari atas ke bawah, penglihatan dan perkumpulan itu menunjukkan satu hal, keheningan dalam ketegangan.


"Hahaha ...." Tiba-tiba suara tawa terdengar, lantas semua orang menatap heran. Bagaimana mungkin dia tertawa di saat ketegangan begitu, apa mungkin dia crazy? Atau otaknya sedikit tergeser, entahlah. Pertanyaan itu seolah-olah melesat di dalam benak setiap orang.


"Akulah yang telah memberi tahu dirinya, bahwa kau adalah Atlana." Salah seorang muncul dari arah belakang Yatama dan ternyata dialah orang yang tadinya tertawa.


Perkataan itu memutuskan ketegangan orang-orang, bahkan Kapten Atlana tak tampak biasa. Malam hari itu, angin berdesir melintas di sela-sela kerumunan.


Kapten Atlana menatap sinis, "Siapa kau sebenarnya, aku tidak mengenalmu!"


"Aku adalah Katak Dalam Tempurung," balasnya santai dengan gaya macho.


Kapten Atlana sedikit tersenyum mendengarnya, bahkan suasana berubah tawa, bukan pelan, melainkan nyaring, bersahutan tawa itu di setiap orang-orang.


Siapa yang tidak tahu bentuk kata tersebut, setiap orang mengetahuinya, suatu kata tersusun sederhana. Bentuk tak kasar berupa susunan yang menandakan seseorang itu kurang pengalaman, kurang wawasan, bahkan kosong isinya, hanya ada katak.


Isi kepala sekadar luasnya tempurung, tak lebih. Mirisnya, dia mengakuinya, tertawa saja tak akan cukup, sepertinya.


"Kenapa kalian tertawa?" Dia menyergah, lantas berucap, "Tertawalah sesuka hati kalian karena bagaimanapun itu adalah namaku!" orang itu berucap tegas menjelaskan, terdengar sedikit lantang.


"Panggil saja Katak!" lanjutnya serius.


Yatama mendehem pelan. Seketika orang-orang perlahan menghentikan tawa, ada raut wajah tak nyaman memandang di sana, bagaimana mungkin mereka salah meletakkan tawa. Astaga, memalukan sekali katanya.

__ADS_1


__ADS_2